Beranda Bandar Lampung

Pengembangan Teroris Asal Lampung, Polri Tangkap Abu Hamzah di Sibolga

99
Petugas Densus 88 membawa barang diduga bom. Foto: Kardo/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Pengembangan dari penangkapan teroris asal Lampung, Rinto, tim Densus 88 Anti Teror Mabes Polri menangkap terduga teroris lainnya bernama Husain alias Abu Hamzah di rumahnya di Gang Sekuntum Kelurahan Pancuran Bambu, Sibolga, Sumatera Utara, Selasa (12/3/2019) sekira pukul 14.23 WIB.

Sempat terjadi ledakan yang diduga bom, saat polisi hendak masuk dan menggeledah rumah yang dihuni Abu Hamzah. “Petugas kami ingin melakukan penggeledahan. Pada saat berjalan di halaman, terjadi ledakan diduga bom yang melukai petugas satu petugas,” ujar Kadiv Humas Polri Irjen M Iqbal, kemarin.

Selain seorang petugas polisi, ternyata ada satu warga lain yang juga kena dampak ledakan. Kedua korban dirawat di RS Metta Medika Sibolga. Informasi dari pihak rumah sakit, warga yang menjadi korban bernama Zulkarnaen (40). Sementara identitas polisi yang menjadi korban belum diketahui.

Zulkarnaen menderita luka di bagian dada, kepala dan punggung. Dia diduga terkena serpihan ledakan bom.

Husain alias Abu Hamzah ditangkap pada pukul 14.23 WIB. Sedangkan bom meledak di halaman rumah Abu Hamzah sekitar pukul 14.50 WIB. Polisi masih mendalami terkait ada-tidaknya pihak yang memicu ledakan bom tersebut.

“Kita belum tahu apa dikendalikan dari dalam. Di dalam rumah ada diduga istri dan anak pelaku. Petugas bersama polres setempat dan minta bantu tokoh agama untuk mengimbau agar istri dan anaknya menyerahkan diri,” kata Iqbal.

Dipastikan Iqbal, penangkapan Abu Hamzah terkait dengan pengembangan penangkapan R (Rinto) di Lampung pada Sabtu (9/3/2019). R diduga hendak melakukan teror di Lampung dan Jakarta.

“Kami lakukan negosiasi maksimal untuk membujuk istri dan anak pelaku yang diduga berada di dalam rumah dan kami juga menjaga ketika ada alat-alat berbahaya. Tapi prinsipnya negosiasi meminimalkan korban,” terang Iqbal.

Iqbal menyebutkan, Husain alias Abu Hamzah sebagai bagian dari jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).  “Pelaku Jaringan JAD yang berafiliasi dengan ISIS,” ujarnya.

Ia menegaskan penangkapan terduga teroris Husein alias Abu Hamzah tak terkait dengan pemilu. Penangkapan Abu Hamzah merupakan pengembangan dari penangkapan sebelumnya. “Penangkapan kasus teror di Sibolga tidak ada kaitan dengan pemilu,” ujar Iqbal.

Simpan Bom 20 Kg

Terduga teroris asal Lampung bernama Rinto diduga menyimpan bom seberat 20 Kilogram, saat dilakukan penangkapan oleh tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Mabes Polri di rumahnya di Jalan Samratulangi Kelurahan Penengahan, Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung, Sabtu (9/3/2019).

Menurut petugas Polda Lampung yang ikut mendampingi tim Densus 88, barang bukti bom yang diamankan dari terduga teroris Rinto mencapai berat sekitar 20 Kilogram.

Bahkan, kata dia, petugas kepolisian membutuhkan waktu cukup lama untuk mengurai rangkaian kabel yang terpasang pada bahan peledak tersebut.

“Petugas sempat menanyakan kepada Rinto mengenai rangkaian bahan peledak itu, agar saat diamankan tidak membahayakan. Sampai akhirnya petugas berhasil membawa bom milik Rinto yang tersimpan di loteng milik tetangganya,” kata petugas yang minta dirahasiakan namanya ini, Selasa (14/3/2019).

Petugas ini juga menyebutkan, bom yang diterima Rinto berasal dari seseorang yang berada di daerah Sibolga, Sumatera Utara. “Informasinya bom milik Rinto didapat dari seseorang di Sibolga,” ungkapnya.

Menindaklanjuti informasi tersebut, Kapolda Lampung Irjen Pol Purwadi Arianto dan Kabid Humas Kombes Pol Sulistyaningsih saat dihubungi belum memberikan jawaban.

Pertanyaan seputar terduga teroris pun tidak diperbolehkan diajukan awak media, saat ekspos pemusnahan barang bukti narkotika di Mapolres Lampung Selatan, kemarin. Saat ini, Rinto telah dibawa ke Mabes Polri untuk dilakukan pemeriksaan lebih intensif.

Sementara itu, Indonesia Police Watch (IPW) meminta aparat kepolisian untuk sigap mengantisipasi segala tindakan radikalisme di Indonesia menjelang hari pencoblosan di Pemilu 2019.

Menurut Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane, tindakan radikalisme dinilai rawan mewarnai hari pencoblosan pada 17 April 2019 mendatang.

Sebab, kata dia, bukan mustahil kelompok- kelompok radikal membuat kekacauan pra maupun pasca Pilpres 2019, mengingat di sepanjang proses Pilpres 2019 mereka merasa mendapat angin untuk bangkit dan tumbuh subur.

“IPW mendata, ada sejumlah daerah yang kelompok radikal dan eks terorisnya tumbuh subur dan bangkit. Yakni Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Tengah, dan Papua,” ungkapnya.

Ia mengatakan, konsentrasi jajaran kepolisian untuk mengamankan proses Pileg dan Pilpres sepertinya membuat kelompok-kelompok radikal dan eks teroris mendapat cela untuk tumbuh dan berkembang. Apalagi kelompok kelompok ini bermain di antara eforia dan dinamika politik yang kian panas serta adanya partai-partai politik yang haus dukungan untuk mengamankan elektabilitas.

“IPW berharap jajaran kepolisian merapatkan barisan dan melakukan deteksi dini serta melakukan antisipasi pada kelompok-kelompok radikal dan eks teroris yang mendapat cela ini, agar mereka tidak mengkoptasi eforia maupun dinamika tahun politik 2019 untuk membuat kekacauan,” tandasnya. (Ricardo/Dtc)

Facebook Comments