Beranda Bandar Lampung

Apindo: Tinjau Ulang Tarif Tol Lampung

41
  • 39
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    39
    Shares
Tampak gerbang tol Bakauheni Selatan ketika beroperasi. Foto : Wanda/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Provinsi Lampung mengusulkan agar tarif jalan tol ruas Bakauheni-Terbanggi Besar ditinjau ulang. Sehingga, tidak membebani pengusaha dan bisa mendorong investasi masuk ke wilayah Lampung.

Setelah Organisasi Angkutan Darat (Organda) dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Provinsi Lampung, kini giliran Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) yang mengeluhkan mahalnya tarif jalan tol Lampung yang ditetapkan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR) Basuki Hadimuljono. Apindo pun meminta agar tarif Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) itu ditinjau ulang sebelum resmi diberlakukan.

Sekretaris Apindo Provinsi Lampung M. Ansor mengatakan, pemberlakuan tarif tol Lampung yang terlampau mahal akan membebani para pengusaha. Dampaknya, kata dia, akan mengganggu investasi masuk ke Provinsi Lampung.

“Perlu segera ditinjau kembali lah itu (Tarif Tol Lampung), karena itu membuat para pengusaha merasa keberatan. Seharusnya penetapan tarif tol melihat kemampuan daya beli masyarakat di daerah,” jelas Ansor kepada Kupas Tuntas, Kamis (4/4).

Dikatakannya, tarif tol Lampung yang dihitung oleh Kementerian PU-PR memang mempertimbangkan investasi yang sudah dikucurkan, tetapi perlu juga dilihat dari sisi kemampuan para pengguna jalan tol.

“Mungkin kalau perekonomian di daerah sudah baik barulah bisa saja tarif tol ditingkatkan, namun dengan tetap melalui musyawarah dengan seluruh pemangku kepentingan. Tapi kalau sekarang sepertinya jangan besar-besar dulu lah, ekonomi kita kan lagi agak melemah,” saran Ansor.

Menurutnya, dalam produksinya tentu pengusaha sebisa mungkin menciptakan efisiensi, terutama pada cost transportasi. Sehingga, keberadaan jalan tol ruas Bakauheni-Terbanggi Besar bisa menjadi  alternatif untuk bisa menekan biaya pengeluaran. Namun, penerapan tarif tol jangan sampai terlalu mahal.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung siap memfasilitasi keluhan masyarakat Lampung khususnya para pengusaha terkait mahalnya tarif jalan tol ruas Bakauheni-Terbanggi Besar yang ditetapkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR).

“Pasti nanti kita akan ajukan keluhan masyarakat terkait mahalnya penetapan tarif tol yang berlakukan Kementerian PU-PR ke pemerintah pusat,” kata Pj Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Hamartoni Ahadis, kemarin.

Meski begitu, kata dia, saat ini pihaknya belum menerima SK Kementerian PU-PR tentang penetapan golongan jenis kendaraan bermotor dan besaran tarif tol jalan tol Bakauheni-Terbanggi Besar tersebut.

Dia mengakui, setiap keputusan pemerintah yang dibuat pasti akan menuai pro dan kontra dari masyarakat, termasuk berkaitan dengan tarif jalan tol di Lampung. Namun, Hamartoni memastikan bahwa proses penetapan tarif tol oleh Kementerian PU-PR tentu sudah melewati berbagai pertimbangan baik teknis maupun non teknis dan sudah memperkirakan kemampuan masyarakat Lampung dan sekitarnya.

“Kita tunggu dulu tahap berikutnya apakah akan diberlakukan sekarang atau dalam bulan depan. Tetapi Kepmen PU-PR ini harus kita apresiasi dulu, karena ini tahap awal. Tidak mungkin selamanya gratis. Pasti ada jeda waktu kewajiban masyarakat untuk menikmati jalan tol ini,” katanya.

Terkait sarana prasarana jalan tol yang masih belum lengkap, Hamartoni menyatakan pihaknya terus berkomunikasi dengan operator jalan tol yakni PT Hutama Karya untuk melengkapinya, seperti pembangunan rest area.

Ia pun mengusulkan agar PT Hutama Karya lebih memprioritaskan masyarakat sekitar sebagai petugas di jalan tol dan mengisi stan-stan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) pada rest area jalan tol.

“Jangan malah masyarakat luar, kan ada program pemberdayaan masyarakat sekitar jalan tol dan UMKM di Lampung. Itu juga harus menjadi perhatian dari operator untuk diberikan akses menjual barang-barang mereka kepada pengguna jalan tol,” terangnya.

Dimintai pendapatnya, Pengamat Ekonomi Universitas Bandar Lampung (UBL) Erwin Oktaviano menjelaskan, acuan tarif tol sebenarnya harus dilihat dari kesepakatan antara pengusaha, pengguna jalan tol dengan pengelola jalan tol.

“Ini kan mereka harus duduk bersama melihat apakah ada kecocokan harga. Harusnya diawali dengan tujuan dibangunnya jalan tol, apakah untuk melayani kendaraan pribadi saja atau juga kendaraan berat,” kata Erwin.

Dikatakannya, tarif jalan tol yang mahal akan memberatkan bagi pengguna jalan tol khususnya pada kendaraan barang yang merasa mengeluarkan cost  lebih besar dibandingkan dengan melalui jalan raya.

Dia berharap, penetapan tarif jalan tol yang dinilai masih mahal, jangan sampai menimbulkan sepinya pengguna kendaraan untuk memakai fasilitas jalan tol.

“Saya sudah tanyakan kepada sejumlah pengusaha, mereka bilang ini terlalu mahal dan perlu peninjauan ulang. Saya berharap ini hanya uji coba tarif, belum ditetapkan seutuhnya. Diharapkan ada peninjauan ulang,” pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Provinsi Lampung I Ketut Pasek menilai tarif jalan tol Bakauheni-Terbanggi Besar yang ditetapkan Kementerian PU-PR masih mahal.

“Kami memperkirakan kemarin itu untuk kendaraan golongan I maksimal per kilometer (km) Rp750, tapi kalau kita lihat sekarang ini golongan I ternyata per km sebesar Rp800 lebih,” ujar Ketut.

“Begitu juga dengan kendaraan golongan II dan seterusnya itu termasuk mahal juga. Kami perkirakan maksimal Rp1.000 per km, dan ternyata hampir mencapai Rp1.200 per km,” imbuhnya.

Ia pun minta pemerintah pusat meninjau ulang terhadap tarif tol Lampung yang sudah ditetapkan. Ketut pun menyatakan akan segera mengajukan surat keberatan kepada Organda pusat.

Diketahui, sesuai SK Menteri PU-PR Nomor: 305/KPTS/M/2019, kendaraan yang dikenai tarif yang melalui jalan tol dibagi dalam 5 golongan. Golongan I meliputi sedan, jip, pikap/truk kecil, dan bus kecil. Golongan II terdiri dari truk atau bus dengan dua gandar (as roda). Golongan III adalah mobil tiga gandar. Sementara golongan IV meliputi kendaraan dengan empat gandar. Terakhir, golongan V kendaraan dengan lima gandar.

Dari daftar yang beredar di kalangan media tersebut disebutkan, tarif tol dari Pelabuhan Bakauheni hingga pintu tol Terbanggi Besar untuk kendaraan golongan I mencapai Rp112.500, golongan II dan III sebesar Rp168.500 dan golongan IV serta V sebesar Rp224.500.  (Erik)

Facebook Comments