Beranda Daerah Lampung Tanggamus

Warga Pulau Tabuan Tanggamus Tagih Janji Instalatur PLN Ganti Rugi Tanam Tumbuh

316
  • 459
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    459
    Shares
Kantor instalatur yang memasang jaringan listrik bagi warga Pulau Tabuan. Foto : Sayuti/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Tanggamus – Warga empat pekon di Pulau Tabuan, Kecamatan Cukuhbalak, Kabupaten Tanggamus yang terkena dampak pemasangan jaringan instalasi listrik PLN, kecewa. Pasalnya pihak instalatur (biro) PLN belum memberi ganti rugi tanaman pohon kelapa yang ditebang untuk pemasangan jaringan instalasi listrik di pulau itu.

Hal itu diungkapkan beberapa warga Pekon Kuta Kakhang, Sukabanjar, Karang Buah dan Sawang Balak di Pulau Tabuan. Menurut warga, seharusnya pihak instalatur dalam hal ini PT. Adi Mitra Sejahtera Electric harus membayar ganti rugi pohon kelapa yang ditebang untuk pemasangan jaringan listrik. Sebab sebelumnya sudah dilakukan musyawarah antara biro PLN (PT. Adi Mitra Sejahtera Electric) dan aparat pekon serta pemilik lahan terkait besaran ganti rugi yang diterima.

“Hasil musyawarah kami dengan aparat pekon dan biro PLN beberapa waktu lalu satu pohon kelapa akan diganti Rp100 ribu, tapi punya saya sudah 16 pohon yang ditebang satupun belum diganti,” kata seorang warga Pekon Kuta Kakhang yang enggan dituliskan namanya, Rabu (10/4/2019).

Dikatakannya, ia sudah pernah menanyakan kejelasan terkait ganti rugi tanam tumbuh ke aparat pekon, namun aparat pekon selalu menganggap enteng persoalan itu

“Kebun kelapa yang terkena pemasangan tiang kabel listrik ini merupakan satu – satunya untuk membiayai hidup keluarga kami, jadi wajar dong kami kecewa jika tidak mendapat kompensasi dari pihak biro PLN, kalau kita lihat ini sudah masuk kedalam pengrusakan karena tanpa ada izin dari pemiliknya, tahu – tahu ketika dilihat kebun kelapa kami sudah ditebangi,” kata dia.

Berita Terkait : Warga Pulau Tabuan Tanggamus Keluhkan Harga Pemasangan Listrik..

Keluhan sama juga dirasakan warga lainnya yang juga enggan menyebutkan namanya. Sumber tersebut mengaku, tidak hanya ganti rugi pohon kelapa yang tidak jelas, tapi juga biaya pemasangan listrik (program listrik pedesaan) dianggap sangat mahal dan merugikan masyarakat. Bagaimana tidak, setiap calon pelanggan dipatok Rp 3 juta lebih.

“Pihak instalatur mematok harga yang sangat mencekik, yaitu Rp3 juta untuk satu orang calon pelanggan,” kata dia. Menurutnya, biaya sebesar Rp3 juta tersebut merupakan harga kesepakatan yang diputuskan sepihak oleh aparat pekon dan instalatur dalam hal ini PT. Adi Mitra Sejahtera Electric.

“Dengan biaya segitu, warga calon pelanggan hanya mendapat tiga titik lampu, lebih dari itu ya harus bayar lagi,” katanya.

Sementara Camat Cukuhbalak, Rusdi mengaku tidak terlibat dan tidak mengetahui secara pasti terkait ganti rugi penebangan pohon serta biaya pemasangan listrik tersebut. Meski begitu kata Rusdi informasi yang berhembus untuk ganti rugi satu pohon permintaan dari pemilik lahan Rp 100 ribu, namun pihak pekon dan biro PLN menyanggupi Rp 50 ribu.

“Kalau nggak salah pihak pekon sanggup Rp 50 ribu per pohon. Kalau mau lebih jelas hubungi kakonnya aja,” jelasnya singkat.

Warga lainnya menuturkan, sebenarnya ada pihak lain yang menawarkan pemasangan instalasi baru listrik bagi warga empat pekon di Pulau Tabuan (Sawang Balak, Karang Buah, Sukabanjar dan Kuta Kakhang) dengan harga jauh lebih murah, yaitu Rp2,5 juta.

Tetapi anehnya, kata mereka, aparat empat pekon tersebut justru memilih perusahaan yang saat ini memasang instalasi. “Anehnya lagi, saat kami di kumpulkan, aparat pekon bilang dari besaran Rp4 juta itu, warga hanya membayar Rp3 juta. Sedang yang Rp1 juta ditanggung pekon. Berarti pekon banyak duitnya ya,” kata warga lainnya.

Warga menduga, besarnya biaya pemasangan listrik baru ini karena ada “main mata” antara pihak pekon dengan pihak instalatur. “Aneh saja bang, kalau ada yang lebih murah dengan layanan yang sama, kenapa milih yang mahal,” celetuk warga lainnya.

Salah seorang warga Sawang Balak mengaku ia meminta perusahaan yang mematok harga lebih murah untuk memasang listrik di rumahnya, tetapi dihalang-halangi oleh oknum yang diduga suruhan aparat pekon. “Ya karena memang sangat butuh listrik, akhirnya saya dengan berat hati mau masang. Tapi terus terang, biaya sambungan listrik itu sungguh memberatkan dan tidak jelas alasannya,” katanya kesal.

Mat Amin, warga lainnya membandingkan harga pemasangan listrik di Pulau Tabuan yang dipatok Rp4 juta dengan pekerjaan yang sama bagi warga Pulau Pisang, Pesisir Barat yang hanya dikenai Rp1,3 juta.

“Saya punya saudara di Pulau Pisang, dan saya cek sendiri kesana, biayanya hanya Rp1,5 juta, karena disubsidi oleh pemkab setempat. Coba di Pulau Tabuan seperti disana ya, pasti sangat membantu warga,” katanya. (Sayuti)

Facebook Comments