Beranda Daerah Lampung Lampung Barat

Fakta Pemilu di Lambar : Parpol Baru Sepi Pemilih Hingga Caleg Incumbent yang Berguguran

270
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Ilustrasi

Kupastuntas.co, Lampung Barat –┬áTahapan pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) serentak Rabu (17/04) lalu di kabupaten Lampung Barat (Lambar) terbilang aman dan lancar. Beragam spekulasi dan analisa tentang hasil Pemilu baik dari para kontestan dan pengamat pun mulai bermunculan.

Hasil hitung cepat sejumlah partai peserta Pemilu di kabupaten bumi beguai jejama sai betik hingga saat ini tidak ada satu pihak pun yang memunculkan sanggahan, ini membuktikan bahwa penghitungan perolehan suara antar partai dan Caleg tidak berjauhan bahkan mungkin ada kesamaannya.

Berdasarkan data berupa foto Form C1 yang dihimpun saksi partai dan saksi Caleg peserta Pemilu di TPS menunjukkan rendahnya minat pemilih untuk memilih partai politik yang baru pertama kali tampil di pemilu 2019 dan untuk memilih para politisi incumbent (petahana).

Menurut data dan informasi yang berhasil dihimpun Kupastuntas.co, tidak satu pun Parpol baru di pemilu 2019 memperoleh kursi di DPRD Lambar. Masih berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari banyak sumber baik pengamat maupun politisi bahwa, dari 35 orang anggota DPRD Lampung Barat tercatat sebanyak 27 orang kembali berkompetisi untuk menjadi wakil rakyat namun dari jumlah tersebut hanya 14 orang yang berhasil sedangkan 13 orang lain nya tersingkir, dari jumlah tersebut dapat dipastikan 21 anggota DPRD Lambar di periode mendatang adalah wajah-wajah baru.

Pengamat dan koordinator forum komunikasi pemuda pelajar dan mahasiswa Lampung Barat, Anton Hilman menilai, tersingkirnya 13 Caleg incumbent di Lambar merupakan hal yang biasa dalam demokrasi.

“Menang dan kalah dalam kontestasi politik merupakan hasil akhir yang tidak dapat dipisahkan dari proses yang telah dijalani, persoalan ada apa dan mengapa itu merupakan bentuk Evaluasi,” kata Anton Hilman ketika dihubungi melalui sambungan cellulernya, Selasa (23/04)

Lebih lanjut diungkapkan Anton Hilman, Caleg incumbent tidak lebih mendominasi dalam memperoleh dukungan dibanding Caleg baru disebabkan karena banyak faktor, tidak menutup kemungkinan karena adanya kejenuhan Caleg sehingga mengurangi tingkat keseriusan yang bersangkutan dalam penguasaan dan menjalani strategi.

“Melihat situasi saat ini bisa saja karena Caleg incumbent telah jenuh sehingga apa yang dijalaninya pun hanya setengah hati,” ungkapnya.

Ditambahkannya, selain rasa jenuh yang menyurutkan semangat Caleg incumbent dalam menguasai dan menjalankan strategi politiknya dalam menjaring suara masyarakat, sebalik nya kejenuhan pemilih juga harus dijadikan pertimbangan.

“Jika melihat antusias pemilih terhadap Caleg baru, tidak menutup kemungkinan pemilih telah merasa jenuh karena keberadaan incumbent ada yang telah mengabdi selama dua periode bahkan lebih, artinya satu kewajaran jika pemilih menginginkan pergantian wakil rakyat dengan harapan membawa optimisme baru,” pungkasnya. (Iwan)

Facebook Comments