Beranda Internasional

Tarian Khas Lampung Tampil di Pagelaran Seni Kampus Australia

78
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Berbagai tarian khas nusantara ditampilkan berbarengan dalam penutupan acara A Sunday Afternoon of Music and Dance from Indonesia. Foto : Ist

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Tarian khas daerah Lampung, Tari Sigeh Pengunten tampil apik mengisi acara pentas seni di Kampus Monash University, di Clayton, Australia. Kegiatan yang bertajuk “A Sunday Afternoon of Music and Dance from Indonesia” ini diselenggarakan oleh Music Archive Monash University (MUMA).

Tari Sigeh Pengunten tampil sebagai tarian pembuka dari Indonesia. Tarian yang diciptakan tahun 1989 ini adalah, sebuah tari yang sekarang banyak ditampilkan untuk menyambut kedatangan tamu. Tari ini diciptakan khusus untuk menggambarkan adanya berbagai suku yang tinggal di Provinsi Lampung.

Yang unik dalam penampilannya, tari Sigeh Pengunten ini diiringi oleh perangkat musik bernama Talo Balak. Perangkat Talo Balak yang dimiliki oleh Monash University ini merupakan satu-satunya perangkat yang berada di luar Indonesia. Selain tari dari provinsi Lampung, juga ditampilkan tari dan musik dari Kalimantan Timur, Betawi dan juga dari Nusa Tenggara Timur.

Selain pertunjukan musik dan tari, di tempat yang sama juga dipertunjukkan serangkaian instrumen musik dan artefak langka dari Indonesia yang sekarang ini dimiliki oleh Monash University.

Konsul Jenderal Indonesia untuk wilayah Victoria dan Tasmania (Australia) Spica Tutuhatunewa mengatakan, ini menjadi pengalaman pribadinya dimana dia berasal dari Maluku, sehingga selama ini di Indonesia dia belum berkesempatan untuk menikmati seni dari Provinsi Lampung.

“Kita tahu Indonesia begitu luasnya, dan saya berasal dari Timur Indonesia, dan belum pernah menyaksikan tari dari provinsi Lampung yang berada di sebelah Barat Indonesia,” katanya di Kampus Monash University, Minggu (5/5).

“Jadi kadang kita berkesempatan mengetahui Indonesia lebih banyak justru ketika sedang berada di luar negeri seperti sekarang ini,” lanjutnya.

Margaret Kartomi, professor di MUMA mengatakan, acara Minggu Sore bersama ini merupakan bagian dari program yang dilakukan MUMA. Dimana di minggu pertama setiap bulan di tahun 2019, lembaga itu menampilkan pertunjukan musik dan budaya dari berbagai negara.

“Sebelum Indonesia, MUMA sudah menampilkan musik dan seni dari India, Iran, Afghanistan, dan bulan Juni, kita akan menampilkan musik dari China dan Jepang, dimana akan ada kerjasama untuk menampilkan satu pertunjukkan,” kata Prof Margaret Kartomi.

Adapun, MUMA adalah lembaga di universitas tersebut yang mengumpulkan berbagai informasi dan alat musik dari mancanegara. Untuk pertunjukkan hari Minggu, Margaret Kartomi mengatakan sengaja untuk menampilkan musik dan tari yang selama ini tidak banyak ditampilkan.

“Kita sengaja untuk tidak menampilkan seni tari dan musik dari Bali dan Jawa yang sudah begitu dikenal selama ini,” jelas dia.

Sementara, Rayhan Sudrajat seorang mahasiswa S2 asal Indonesia tampil memainkan alat musik Sape mengiringi dua tarian yaitu Tari Enggang, dan Tari Leleng. Acara kemudian ditutup dengan tari dan musik dari Betawi dan Flores, yang menampilkan Ondel-Ondel dan Goyang Maumere. Para penari yang tampil adalah warga Indonesia yang tinggal di Melbourne yang tergabung dalam kelompok seni Lenggokgeni. (Vv)

Facebook Comments