Beranda Bandar Lampung

Mengintip Dugaan Permainan di Lapas Klas IIB Way Kanan, Praktik Pungli-Peredaran Narkoba Tersistematis

343
Ilustrasi

Kupastuntas.co, Way Kanan – Praktik pungutan liar (Pungli) dan peredaran narkoba di dalam lapas dilakukan sedemikian sistematis. Diduga melibatkan mulai dari pegawai terendah seperti sipir hingga pimpinan lapas. Perputaran uang yang terjadi pun cukup besar, ditaksir mencapai puluhan juta rupiah setiap hari.

Praktik pungli di dalam lapas seperti sudah menjadi pemandangan rutin sehari-hari. Pungli dilakukan dari mulai nilai kecil seperti saat hendak besuk nara pidana (Napi) sampai yang besar seperti jika napi ketahuan memakai narkoba maupun mengurus pembebasan bersyarat (PB).

Mantan napi AT mengungkapkan, untuk keluarga yang akan membesuk napi biasanya ditarik biaya sebesar Rp5.000-Rp10.000 atau satu bungkus rokok. Biasanya, yang menarik uang ini adalah komandan jaga atau sipir yang berjaga saat itu.

Bentuk pungli lainnya, kata AT, adalah memakai ponsel di dalam lapas. Umumnya ponsel yang disusupkan ke dalam adalah android. Sementara untuk ponsel biasa umumnya disusupkan secara sembunyi-sembunyi agar tidak ditarik pungutan.

“Pemakaian ponsel android dalam lapas ini juga tergantung siapa yang bekingi. Ada yang langsung dibekingi kepala pengamanan lembaga pemasyarakatan (KPLP), ada pula yang pakai beking sipir biasa. Kalau yang bekingi KPLP biasanya ditarik biaya Rp500 ribu per bulan,” kata mantan napi kasus narkoba ini, Selasa (7/5/2019).

Bagi yang tidak punya beking, lanjut AT, maka napi yang ketahuan pakai ponsel langsung akan dikenai sanksi denda. Nilainya cukup besar mencapai Rp500 ribu.

AT menambahkan, praktik pungli yang lain adalah saat ada napi yang minta pindah kamar karena merasa tidak nyaman atau penghuninya sudah terlalu banyak.

“Untuk pindah kamar ini biasanya dikenakan biaya sebesar Rp100 ribu. Jadi siapa saja napi yang mau pindah ya bayar segitu,” ujarnya.

Ia menambahkan, pungli lainnya yang nilainya cukup besar adalah saat napi mengurus pembebasan bersyarat (PB). Uang yang dipungut oknum pegawai lapas mencapai hingga Rp1,5 juta.

“Rata-rata untuk mengurus PB bayar Rp1,5 juta. Bahkan ada yang lebih, tergantung negonya,” kata AT.

Baca Juga: Mengintip Dugaan Permainan di Lapas Klas IIB Way Kanan, Ketahuan Konsumsi Narkoba Bayar Rp10 Juta

Menurut napi yang divonis empat tahun ini, praktik pungli di dalam lapas dilakukan sedemikian rapi dan sistematis dan melibatkan hampir semua pegawai. Sehingga, praktik pungli terus berlangsung karena menjadi tambahan penghasilan bagi oknum internal lapas.

“Mungkin saja kepala lapasnya baik dan professional. Tapi di kalangan bawah dari KPLP sampai sipir ini biasanya lebih mahir. Sehingga meskipun sudah dilarang oleh kepala lapas, kalangan bawah tetap bisa bermain karena mereka yang menguasai di lapangan,” paparnya.

Yang lebih memprihatinkan adalah peredaran dan pemakaian narkoba di dalam lapas. Ada indikasi penjual atau pengedar narkoba sudah bekerja sama dengan oknum pegawai lapas untuk bisa memasukkan barang haram itu dari luar.

AT membeberkan, biasanya narkoba yang dikirim dari luar akan disambut di depan lapas oleh oknum sipir atau penjaga lainnya untuk mengambil. Selanjutnya, oknum pegawai itulah yang membawa narkoba masuk ke lapas.

“Yang pernah saya tahu, untuk memasukkan satu ons sabu ke dalam lapas itu ditarik bayaran sebesar Rp1 juta. Semakin banyak sabu yang dimasukkan akan semakin besar pula uang yang harus diberikan kepada oknum pegawai lapas,” terangnya.

Ia juga mengatakan, biasanya setiap penjual narkoba dari kalangan napi sudah dibekingi oknum pegawai lapas. Sehingga, penjual bisa leluasa mengedarkan narkoba bagi kalangan napi yang masih mengkonsumsi barang haram tersebut.

Biasanya, napi-napi yang memakai narkoba dari penjual yang dibekingi oknum pegawai lapas akan lebih leluasa dan bebas. Sedangkan untuk napi yang tidak dibekingi jika tertangkap sipir akan langsung dikenai sanksi membayar sejumlah uang berkisar Rp200 ribu-Rp500 ribu. Jika tidak bisa membayar, akan langsung dimasukkan dalam sel merah atau sel isolasi.

“Untuk napi penjual narkoba yang dibekingi oknum pegawai lapas, biasanya diwajibkan membayar uang setoran berkisar Rp500 ribu-Rp1 juta satu minggu sekali. Itu belum ditambah jika seandainya oknum pegawai sipir punya acara mendadak atau keperluan lain, maka masih bisa minta ke napi penjual narkoba itu,” ungkapnya.

Baca Juga: Mengintip Dugaan Permainan di Lapas Klas IIB Way Kanan, Jadi Pemuka Blok Harus Bayar Rp10 Juta

AT pun tidak heran, jika setiap dilakukan razia hasilnya akan selalu minim. Pasalnya, oknum pegawai lapas sudah memberikan info kepada para napi yang dibekingi agar sementara waktu menyimpan narkoba yang masih tersisa.

“Saya pun pesimis praktik pungli dan peredaran narkoba dalam lapas bisa diberantas. Karena memang sudah dilakukan sangat rapi dan melibatkan banyak pihak. Napi yang menjual narkoba dalam lapas itu sudah seperti bos, bahkan bisa menyuruh sipir semau dia. Itulah kekuatan uang di dalam lapas,” imbuhnya.

Pernyataan sama disampaikan mantan napi berinisial AM, yang sudah berulang kali masuk-keluar lapas. AM mengatakan, sangat kecil kemungkinan untuk menghilangkan praktik pungli dan peredaran narkoba dalam lapas.

“Solusi yang yang bisa dilakukan mungkin menghilangkan pemakaian ponsel dalam lapas. Dengan tidak adanya ponsel dalam lapas diharapkan bisa mematikan perekonomian. Kalau hanya mengedepankan kesadaran pegawai lapas, hal itu hanya ibarat formalitas saja. Hasilnya sangat kecil,” kata AM, kemarin. (PR)

Facebook Comments