Beranda Bandar Lampung

Lamtim Pengirim TKI Terbesar se-Provinsi Lampung

338
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Pasar TKI di Kecamatan Labuanratu, Kabupaten Lampung Timur, disebut pasar TKI karena pedagang yang ada di pasar desa itu 80 persen purna TKI. Foto: Agus/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Lampung Timur – Menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang dulu disebut sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI), bukan tidak ada resiko. Seribu resiko menghantui pahlawan devisa tersebut. Namun, meski demikian, Kabupaten Lampung Timur menjadi penyalur PMI terbesar se-Provinsi Lampung. Artinya peminat sebagai buruh migran ke luar negeri masih menjadi solusi primadona dalam persoalan ekonomi.

Kepala Dinas koperasi dan Tenagakerja Lampung Timur Budiyul Hartono, mengatakan, sejak Januari 2019 hingga Mei 2019, warga Lampung Timur yang bekerja ke luar negeri sebanyak 1.750 orang yang mayoritas didominasi oleh perempuan. Dari jumlah tersebut, 450 orang bekerja di sebuah perusahaan (pabrik) yang disebut pekerja formal, sedangkan 1.300 orang bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT) yang bisa disebut pekerja Informal.

“1.750 itu data lima bulan ini, namun kalau dihitung global sampai saat ini warga Lampung Timur yang bekerja ke luar negeri ada lima ribu lebih,” Jelas Budiyul Hartono, Kamis (16/5/2019).

Lanjutnya, negara yang menjadi tujuan rata-rata yakni Taiwan dan Singapore. Sebab dua negara tersebut memberikan upah buruh besar bagi PMI, yakni 8 – 10 juta/bulan.

Melonjaknya warga Lampung Timur menjadi pekerja migran disebabkan faktor ekonomi, sehingga mereka nekat mengadu nasib hingga ke luar negeri dengan kontrak kerja rata-rata dua tahun.

“Biasanya mereka tertarik setelah melihat keberhasilan kawan atau tetangga, setelah bekerja ke luar negeri sebagai buruh migran,” kata Budiyul.

Sementara itu, Ketua Serikat Buruh Migran (SBMI) Lampung Sukendar, saat dikonfirmasi membenarkan untuk tingkat Provinsi Lampung, Lampung Timur merupakan kabupaten terbesar penyuplai buruh migran ke luar negeri.

Merebaknya pekerja migran Indonesia ke luar negeri bukan karena faktor untuk bersenang-senang melainkan faktor ekonomi, pengangguran, faktor persoalan keluarga menjadi pemicu sebagai buruh migran. Dan paling dominan soal ekonomi keluarga yang tidak mendukung.

“Dan bukan tidak berisiko bekerja ke luar negeri sebagai buruh migran, bahkan seribu risiko selalu mengintai pahlawan devisa. Contonya upah yang tidak sesuai, meninggal akibat kecelakaan kerja, salah pergaulan, menjadi ancaman perbuatan tidak senonoh oleh majikan, penyiksaan oleh majikan, dan pasti dialami resiko meninggalkan anak, keluarga selama dua tahun, itu gambaran risiko yang sebagai TKI atau saat ini disebut PMI,” kata Sukendar.

Pantauan Kupas Tuntas, di Lampung tepatnya di Kecamatan Labuhanratu, terdapat sebuah pasar TKI, disebut pasar TKI karena pedagang yang ada di pasar desa itu 80 persen purna TKI. Dan juga di sebuah Dusun Sinarbanten, Desa Way Jepara, Tepatnya di RT1 dan RT2, dua RT tersebut setiap rumah salah satu keluarga menjadi buruh migran. (Gus)

Facebook Comments