Beranda Bung Kupas

Pemindahan Jalur Kereta Api Babaranjang Jangan (Lagi) Hanya Sekedar Wacana!

77
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Kereta Api Babarangjang pengangkut batu bara, melintas di salah satu perlintasan di Rajabasa, Bandar Lampung.
Foto : Tampan/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Rencana pemindahan jalur Kereta Api (KA) Babaranjang keluar dari Kota Bandar Lampung sudah digaungkan sejak bertahun-tahun lalu. Namun hingga kini belum ada wujud nyata yang terlihat. Wacana itu sempat “menghilang”, namun muncul lagi seiring kedatangan Menteri Perhubungan RI Budi Karya Sumadi ke Lampung, Minggu (30/6) kemarin.

Jika melihat ke belakang, rencana pemindahan jalur KA Babaranjang ini sudah diteken oleh Gubernur Lampung, Ridho Ficardo bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan pada bulan Juli 2017 lalu. Dari kesepakatan itu, dinyatakan pembangunan rel (short cut) dari Tegineneng ke Tarahan akan dimulai pada tahun 2018.

Warga Bandar Lampung pun menyambut rencana ini dengan senang hati. Karena KA Babaranjang tidak akan lagi masuk ke tengah kota. Selama ini warga Bandar Lampung sering jadi ‘korban’ kemacetan akibat KA Babaranjang. Sekali lewat, KA Babaranjang dapat memakan waktu hingga 30 menit karena panjang keretanya bisa mencapai 60 gerbong.

Namun seiring waktu berjalan, tak ada tanda-tanda pembangunan akan dimulai. Dari beberapa kali rapat persiapan pembangunan short cut, belum ada konsep nyata yang muncul ke permukaan. Alhasil, di tahun 2018, pembangunan short cut kereta sepanjang 40 kilometer itu dipastikan batal, karena pemerintah pusat belum menyiapkan dana di ABPN 2018.

Pihak Dinas Perhubungan Provinsi Lampung mengatakan pembangunan itu diundur ke tahun 2019. Namun setelah masuk tahun 2019, rencana itu kembali kandas. Lagi-lagi alasannya sama, karena tidak ada anggaran dari pusat. Pihak Pemprov Lampung berdalih pembangunan itu sepenuhnya ada di pusat. Pemprov hanya menyiapkan dokumen Amdal dan kajian pembebasan lahan.

Kemudian sempat ada opsi untuk menggandeng pihak swasta agar pembangunan ini bisa terealisasi, dan sudah dibahas dengan pihak PT KAI. Tetapi lagi-lagi tidak ada kejelasan. Namun kemarin, Menhub Budi Karya Sumadi mengatakan, proyek rel KA Babaranjang itu dipastikan akan dimulai. Kemenhub menargetkan proyek itu bisa rampung pada akhir 2022 atau maksimal awal tahun 2023.

Tetapi ada perubahan. Pembangunan rel KA ini dipastikan tidak akan menggunakan APBN, melainkan dana swasta. Kementerian Keuangan menugaskan PII (PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia) untuk membuat proposal setelah itu ditawarkan untuk ditender kepada pihak swasta.

Budi bahkan mengaku selama ini ia sampai ‘pusing’ memikirkan pembangunan long cut (sebelumnya bernama short cut) Tegineneng ke Tarahan. Karena dana APBN terbatas, sementara ada prioritas pembangunan lainnya yang diutamakan oleh Presiden RI.

Menurutnya, untuk studi kelayakan (FS) dibutuhan waktu sekitar 6 bulan hingga 1 tahun. Baru setelah itu, pembangunan dimulai, dengan langkah awal pembebasan lahan. Sehingga total waktu yang dibutuhkan sekitar 3 tahun.

Sementara Plt. Kadishub Lampung Bambang Sumbogo menjelaskan, lokasi pembangunan jalur Kereta sepanjang 40 Km itu akan diupayakan menggunakan lahan jalan Tol. Menurutnya, pembangunan rel ini jauh lebih panjang dibandingkan rencana sebelumnya. Karena akan digabung dengan pembangunan kereta dari Bandara Radin Inten II. Maka namanya diganti dari short cut menjadi long cut.

Kini, warga Lampung kembali diberikan ‘angin surga’ rencana pembangunan KA Babaranjang yang bisa menjadi solusi kemacetan. Masyarakat jelas menunggu bukti nyata, karena wacana ini sudah 3 tahun berlalu. Jangan sampai kepercayaan masyarakat kepada pemerintah pudar lantaran hanya dicekoki rencana-rencana melulu, tanpa ada realisasi. (Tampan)

Facebook Comments