• Rabu, 11 Desember 2019

Lampung Masuk Daerah Rawan Bencana, Itera dan BPBD Susun Kajian Pencegahan

Selasa, 09 Juli 2019 - 14.22 WIB - 0

Penulis

Kupastuntas

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Institut Teknologi Sumatera (Itera) bekerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung menggelar Focus Group Discussion Kapasitas Risiko Bencana di Provinsi Lampung di Aula Gedung Kuliah Umum Itera, Selasa (9/7/2019).

Kegiatan yang diikuti perwakilan seluruh BPBD dan Bappeda kabupaten/kota di Lampung tersebut menghadirkan pembicara dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta para akademisi Itera.

Rektor Itera, Ofyar Z Tamin, menyebut upaya pencegahan dan pengurangan dampak sebuah bencana atau mitigasi penting dilakukan untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan saat bencana terjadi. Upaya pencegahan tersebut harus dilakukan secara terstruktur dan sistematis melibatkan seluruh stakeholder.

Selain itu, upaya perbaikan atau penanganan pasca bencana terjadi juga perlu direncanakan, agar kondisi masyarakat yang terdampak bencana dapat pulih seperti kondisi semula.

“Lewat FGD inilah perlu dibahas bagaimana standar oprasional prosedur penanganan sebuah bencana. Bagaimana langkah perbaikan yang harus dilakukan, dan upaya memberikan peringatan dini di daerah-daerah yang rawan bencana. Seluruh stakeholder dan akademisi harus saling membantu dalam melakukan setiap kajian,” ujar Rektor.

Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Taufik Hidayat menyampaikan, Provinsi Lampung memiliki topografi yang sangat beragam. Hal itu membuat potensi bencana yang terjadi juga lebih beragam. Mulai dari bahaya tsunami di sepanjang pesisir pantai barat hingga selatan Lampung, cuaca ekstrim di hampir seluruh wilayah, gempa bumi dan keberadaan Gunung Anak Krakatau sebagai gunung berapi teraktif di dunia.

“Perlu kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi suatu bencana, sebab pola kebiasaan dalam penanganan bencana terbukti dapat meminimalisir dampak sebuah bencana yang dapat mengganggu pembangunan suatu wilayah. Perlu upaya mensinergikan berbagai stakeholder apalagi saat ini Lampung sedang giat-giatnya membangun,” ujar Taufik.

Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB Moh. Robi Amri dalam pengarahannya menyampaikan, kajian risiko bencana yang dilakukan di Provinsi Lampung lewat FGD tersebut akan menjadi bahan yang disinergikan dengan kajian serupa dari seluruh provinsi di Indonesia. Robi juga menjabarkan tiga pendekatan utama yang harus dibahas untuk mengukur risiko bencana di suatu wilayah meliputi bahaya, kerentanan dan kapasitas.

Sementara sebagai acuan indikator kajian risiko bencana diminta menyesuaikan dengan indeks ketahanan daerah yang terdiri dari 71 indikator ketahanan daerah hingga kab/kota di Indonesia terhadap suatu bencana. (Rls)

 

https://youtu.be/oirMlBizQ04

  • Editor :