Beranda Pendidikan

Putri Asal Lampung, Talitha Zerlina Ukir Berbagai Prestasi di Universitas Brawijaya Malang

414
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Talitha Zerlina Surya Dewa bersama rekan-rekannya. Foto : Ist

Kupastuntas.co, Lampung Barat – Dari sekian banyak mahasiswa berprestasi di Universitas Brawijaya, salah satunya adalah mahasiswa yang berasal dari Provinsi Lampung. Ia adalah Talitha Zerlina Surya Dewa, lulusan dari SMA I Belalau Lampung Barat.

Di Universitas Brawijaya Malang, putri dari tiga bersaudara ini terus meraih prestasi. Tercatat ada lima prestasi yang telah diraih Lina sejak menjadi mahasiswa di kampus itu. Mulai dari Finalis Lomba Paper Nasional FITION, Juara 2 Lomba Debat Nasional IPDN Expo, Semifinalist National Essay Competition, Juara 2 Lomba Debat Olimpiade FISIP UB dan menjadi Delegasi Great Indonesian Leaders Summit.

Mahasiswa Ilmu Politik ini masuk di Universitas Brawijaya pada tahun 2016 melalui jalur SBMPTN. Kini ia sudah duduk di semester 7. “Sejak menempuh semester pertama hingga saat ini saya memperoleh Indeks Prestasi Akademik (IPK) tertinggi di Angkatan,” kata Linas kepada Kupastuntas.co, Selasa (9/7/2019).

Dengan perolehan nilai akademik yang konsisten itu, mengantarkan dirinya mendapat berbagai beasiswa. Yaitu beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) dari Pemerintah melalui Kemenristekdikti, dan beasiswa dari Bank Indonesia.

“Saya percaya bahwa usaha tak pernah menghianati hasil. Berkat doa dari keluarga besar dan perjuangan yang telah dilakukan saya memperoleh beasiswa,” kata perempuan blasteran Lampung dan Bima (NTB) ini.

Foto : Ist

Lulusan SMA Lampung Barat ini juga menceritakan keputusannya memilih jurusan Ilmu Politik. Ia semakin dikuatkan melihat ironi di negeri ini. Tingginya tingkat kemiskinan, buruknya kualitas kesehatan, massifnya praktik korupsi, dan sebagainya. Hal itu memberikan dorongan kuat di dalam hati dan pemikiran untuk melakukan perubahan.

“Menurut saya perubahan itu hanya dapat tercipta ketika kita masuk dalam sistem. Karena kebaikan maupun kekacauan yang terjadi di negeri ini merupakan bagian dari produk politik. Saya melihat ilmu politik dapat menjadi ‘kendaraan’ untuk mewujudkan perubahan, karena tantangan generasi saya mendatang bukan hanya sebagai penerus bangsa namun juga sebagai pelurus bangsa,” tegas Lina.

Buah hati dari Mat Suryadi dan Patimah ini juga ternyata hobby menulis. Ia mengaku terinspirasi dari Pramoedya Ananta Toer dalam tulisannya yang menyatakan ‘menulis adalah bekerja untuk keabadian’. Bagi Lina, menulis merupakan langkah konkret pengaktualisasian ide. Sebagai mahasiswa yang merupakan bagian dari entitas masyarakat, penting untuk terus berkarya dan memberikan alternatif penyelesaian persoalan masyarakat melalui tulisan.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah,” kata gadis kelahiran 1998 ini.

Faktor lain juga cukup kuat mendorong minatnya untuk terus menulis, karena rendahnya minat baca penduduk Indonesia. Fenomena ini menurutnya, tak lepas dari rendahnya jumlah penulis secara kuantitas.

“Dengan terus menulis, secara tidak langsung telah berupaya untuk meningkatkan tingkat literasi masyarakat. Karena sebaik-baiknya manusia, ialah dapat bermanfaat bagi sesama,” tutupnya. (Satoris)

Facebook Comments