Beranda Bandar Lampung

Praktik Pengecoran BBM di SPBU Mesuji, DPRD Provinsi Lampung : PT Pertamina Lemah Dalam Pengawasan

55
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Pom Bensin yang terletak di Desa Simpang Pematang, Kecamatan Simpang Pematang, Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung mengisi minyak berjenis solar kepada mobil sedan berplat nomor BG 1516 ZG yang diduga bertangki setan (rakitan) pada Senin, (8/7/2019) Pagi. Foto: Gusti/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Maraknya pengecoran BBM subsidi di SPBU Mesuji, diduga akibat kinerja PT Pertamina yang lemah dalam melakukan pengawasan. Sehingga, SPBU-SPBU yang berada di daerah bisa leluasa melakukan praktik ilegal itu.

DPRD Provinsi Lampung mengkritisi maraknya pengecoran BBM bersubsidi di SPBU Mesuji. DPRD masih mengumpulkan bukti dan keterangan terkait aksi pengecoran BBM bersubsidi yang terjadi di sejumlah daerah di Provinsi Lampung.

Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Lampung, Mikdar Ilyas mengatakan, masih banyaknya SPBU yang melayani pembelian menggunakan jeriken dan tangki modifikasi di beberapa daerah, diduga akibat lemahnya pengawasan oleh PT Pertamina.

Menurutnya, PT Pertamina selaku pihak yang bertanggungjawab terhadap distribusi BBM, harus melakukan pengawasan secara ketat hingga sampai SPBU. Sehingga, BBM bersubsidi yang disalurkan tepat sasaran dan tidak ada penyimpangan.

Ia mengaku, masih terus mengumpulkan bukti dan temuan dari masyarakat sebagai bahan diskusi dengan PT Pertamina dan pihak terkait untuk membahas penyalahgunaan distribusi BBM bersubsidi.

“Kan sudah dihitung oleh pemerintah berapa kebutuhan dalam satu tahunnya BBM subsidi itu, untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Kalau ini digunakan untuk industri, jadi yang tadinya cukup untuk satu tahun, bisa mungkin hanya setengah tahun atau beberapa bulan sudah habis. Ini yang kita khawatirkan,” kata Mikdar Ilyas, Selasa (09/07/2019).

Ia melanjutkan, jika PT Pertamina melakukan pengawasan maksimal, maka pengecoran BBM di SPBU bisa diminimalisir atau dikurangi. Bukan malah semakin marak seperti saat ini.

“Jika masih terus terjadi tentu ada yang kurang dalam pengawasan. Ini yang harus dicaritahu. Sehingga penyaluran BBM bersubsidi tidak disalahgunakan,” ujarnya.

Ia meminta PT Pertamina bertindak tegas terhadap SPBU yang terbukti melayani pembelian BBM bersubsidi menggunakan jeriken atau tangki yang sudah dimodifikasi. Apalagi, jika kemudian BBM bersubsidi itu dijual ke pabrik atau industri.

“Kalau pengecoran BBM bersubsidi diketahui oleh pengusaha SPBU, kita mendorong supaya dicabut izin usahanya. Kita minta ada tindakan tegas dari Pertamina. Sehingga memberikan efek jera kepada pengusaha SPBU yang lain,” tandasnya.

Sementara itu, PT Pertamina Lampung berjanji segera menindaklanjuti maraknya praktik pengecoran BBM bersubsidi baik premium maupun solar yang terjadi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Desa Simpang Pematang, Kecamatan Simpang Pematang, Kabupaten Mesuji.

“Itu harus diinvestigasi lebih lanjut dulu mas, nggak bisa kita langsung ambil keputusan. Semua laporan itu harus kita tindaklanjuti dulu kebenarannya,” kata Junior Sales Executive Retail Pemasaran PT Pertamina Lampung, Ferry Fernando kepada Kupas Tuntas, baru-baru ini.

Terkait sanksi yang bisa saja diberikan kepada SPBU yang diduga melanggar ketentuan, Ferry mengatakan pihaknya masih perlu menelusuri lebih jelas kebenarannya.

Namun, ia mengaku tidak bisa mempublikasikan apa sanksi yang akan diberikan nantinya. Sebab hal itu sesuai kontrak antara PT Pertamina dengan penguasaha SPBU.

“Tapi kalau memang ada pelanggaran kita harus tindak. Pelanggaran ini tentu kita gali dulu kebenarannya, karena di lapangannya bagaimana kita belum tahu. Kalau terbukti ada pelanggaran pasti kita beri sanksi,” tegasnya. (Erik)

Artikel ini telah terbit di Surat Kabar Harian Kupas Tuntas Edisi Kamis, 11 Juli 2019 berjudul “Praktik Pengecoran BBM di SPBU Mesuji, PT Pertamina Lemah Dalam Pengawasan”

Facebook Comments