Beranda Daerah Lampung Lampung Utara

Cerita Haru Nenek Ginem, Hidup Sebatang Kara di Usia Senja dan Alami Kebutaan

182
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Ket foto: Nenek Ginem (70) warga Dusun II Tanjung Aman (Gunung Meraksa), Desa Simpang Abung, Kecamatan Abung Barat, Kabupaten Lampung Utara saat bercerita didampingi warga setempat, Jumat (12/7/2019). Foto : Sarnubi/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Lampung Utara – Nenek Ginem (70) warga Dusun II Tanjung Aman (Gunung Meraksa) Desa Simpang Abung, Kecamatan Abung Barat, Kabupaten Lampung Utara, beberapa hari belakangan menyedot perhatian publik setelah media ini memberitakan kondisinya yang memprihatinkan di usia senja.

Nenek Ginem, sempat viral diperbincangkan masyarakat sampai pada pejabat daerah setempat. Karena dia menjalani kehidupannya sebatangkara dengan kondisi kekurangan indera penglihatan (buta) dan pendengarannya (tuli). Tidak hanya itu, nenek Ginem ini tinggal digubuknya yang rapuh, namun saat ini telah diperbaiki Pemerintah Desa Simpang Abung bersama masyarakat setempat.

Kepala Desa Simpang Abung, Kecamatan Abung Barat, Lampung Utara, Tarmizi disela-sela kegiatan gotong royong merehab rumah nenek Ginem (70) yang mengalami kekurangan pendengaran dan penglihatan (buta dan tuli), Jumat (12/7/2019). Foto: Sarnubi/Kupastuntas.co

Menurutnya (Ginem), dia dilahirkan oleh orang tuanya di Lampung tepatnya di Lubuk Gentong (Bonglai), pada zaman Nipon atau jaman Jepang masuk di Indonesia.

Bersama suaminya Sarkomi dikarunia dua orang anak. Namun kehidupannya dibawah garis kemiskinan sehingga ia bersama suami dan anak-anak hidup susah. Karena faktor tersebut anak pertamanya dibawa oleh kerabatnya yang bernama Gemono ke Jawa.

Mesi bersama Yunita (memakai hijab warna hitam dan merah) Bidan Desa dari Dinas Kesehatan yang bertugaa di Puskesmas Abung Barat, Kabupaten Lampung Utara saat melalukan pemeriksaan terhadap kondisi kesehatan nenek Ginem (70), didampingi ibu Mariyam (hijam kuning) Jumat (12/7/2019). Foto: Sarnubi/Kupastuntas.co

Anak pertamanya dipanggil Man, dan anak keduanya Gunawan, yang dibawa oleh Gemono ke pulau Jawa.

“Lahiranku neng tanah Lampung, di Lubuk Gentong (Bonglai, nama desa di Lampung Utara_red), dijaman Nipon. Anakku neng Jowo melu Gemono sitok, sing sitoke ninggal,” kata nenek Ginem, menggunakan logat bahasa daerah (Jawa) kentalnya, Jumat (12/7/2019).

Dia juga mengakui kalau asal usul dirinya tidak ia ketahui dengan jelas, hanya saja dia mengetahui dia orang Jawa tapi lahir di Lampung. Karena bapaknya asli Jawa namun tidak pernah bercerita tentang asal mereka.

“Akuki mbuh, Jowo ndi, Jowo Banyuwangi mbuh Jowo ndi, bapakku yo mbuh Jowo Banyuwangi mbuh Jowo ndi,” ujarnya.

Bila diterjemahkan bahasa nenek Ginem tersebut. “Lahiran saya di tanah Lampung, di Lubuk Gentong Bonglai, di jaman Nipon. Anak saya ada di Jawa ngikut Gemono satu, yang satunya meninggal. Saya ini ntah Jawa mana, apa Jawa Banyuwangi entah Jawa mana, bapak saya ya entah Jawa banyuwangi entah Jawa mana.”

Cerita singkat nenek Ginem itu dibenarkan oleh Suheri, tetangga nenek Ginem.

“Dia punya anak dua, yang pertama Man, yang kedua Gunawan, menurut ceritanya nenek Ginem anaknya diambil masih kecil sama Gemono, sekira tahun delapan puluhan lalu,” ungkap Suheri.

Semenjak suaminya (Sarkomi) meninggal belum sampai satu bulan lalu, nenek Ginem tinggal sendirian dirumah miliknya dan menjalankan aktivitas keseharian dengan menggunakan ingatannya. Karena menurut Mariyam, tetangga yang ikut mengurusi nenek Ginem, untuk memasak nasi nenek Ginem masih bisa melakukannya sendiri meski dia tidak lagi dapat melihat dan mendengar.

“Untuk makannya kadang sayurnya kami yang ngasih, kalau masak nasi dia sendiri,” kata Mariyam. (Sarnubi)

 

Facebook Comments