Beranda Bung Kupas

Tinju, Nggak Melulu Soal Umur

1410
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Manny Pacquiao. Foto : Ist

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Manny Pacquiao menegaskan masa kejayaannya belum usai. Di usianya yang sudah terbilang ‘senja’ ia berhasil merebut sabuk juara WBA (Super) welterweight. Dia mengalahkan Keith Thurman di MGM Grand Garden Arena, Las Vegas, Amerika Serikat, Minggu (21/7/2019) siang WIB.

Petinju legendaris asal Filipina ternyata masih tangguh meski speed-nya sudah mulai berkurang. Ia harus melalui 12 ronde untuk meraih sabuk juara. Manny Pacquiao dinyatakan menang lewat keputusan split decision dari tiga juri yang bertugas.

Keith Thurman yang sepuluh tahun lebih muda ketimbang sang lawan sempat mendominasi awal pertandingan. Namun saat ronde pertama hampir berakhir, kombinasi pukulan Manny Pacquoiao sukses menjatuhkan lawan. Manny Pacquiao pun menguasai jalannya duel.

Bahkan pada ronde kesepuluh, petinju 40 tahun itu mampu melayangkan pukulan ke arah rusuk kanan Thurman dan membuatnya kewalahan. Pada dua ronde tersisa, Keith Thurman terus berupaya untuk menyerang sembari mencari kans untuk memukul KO Pacman. Sementara itu, Manny Pacquiao praktis lebih banyak bertahan dan beberapa kali berusaha mencuri kesempatan untuk menyerang balik.

Setelah melalui 12 ronde, Manny Pacquiao dinyatakan menang melalui keputusan juri. Juri Glenn Feldman memberikan angka 114-113 untuk keunggulan Keith Thurman sedangkan Dave Moretti dan Tim Cheatham memberikan angka sama, 115-112 untuk Manny Pacquiao.

Ini merupakan kemenangan kedua bagi Manny di tahun 2019. Karena pada bulan Januari lalu, Pacquiao juga berhasil mengalahkan penantangnya, Adrien Broner. Pada umumnya, di usia segitu, kebanyakan petinju sudah gantung sarung tinju, namun Pacman menyatakan ‘waktunya belum tiba’.

Manny merupakan satu-satunya petinju di dunia yang berhasil menjuarai 8 divisi berbeda. Melihat hasil fantastis yang ditorehkan Pacman, kita jadi melihat pada diri sendiri, yakni prestasi olahraga tinju Indonesia. Di kancah tinju internasional tak bisa dipungkiri nama Indonesia mulai meredup.

Di era sebelumnya ada beberapa nama besar yang sempat mencicipi manisnya sabuk juara dunia, seperti Ellyas Pical Nico Thomas, dan Suwito Lagola. Yang paling dikenal publik Indonesia adalah Chris John.

The Dragon, julukan Chris John berhasil mempertahankan gelar juara kelas bulu WBF selama 10 tahun, yaitu tahun 2003-2013. Pada periode itu, Chris mempertahankan gelarnya sebanyak 18 kali, sekaligus menjadi petinju yang berhasil mempertahankan gelar paling lama.

Namun Chris kehilangan gelarnya saat kalah melawan petinju Afrika Selatan, Simpiwe Vetyeka. Tak lama setelah itu, The Dragon memutuskan gantung sarung tinju. Padahal jika melihat usianya, Chris John bisa dikatakan memilih ‘pensiun dini’. Sebab waktu itu ia baru berusia 34 tahun.

Namun nyatanya olahraga tidak melulu soal umur, melainkan kemampuan fisik. Saat Chris John memutuskan pensiun, pecinta tinju Indonesia banyak yang kecewa. Sebab tak akan pernah lagi melihat aksi The Dragon di atas ring tinju. Para fans juga menilai langkah yang diambil John terlalu dini. Sementara Chris John mengatakan alasannya untuk mundur karena kemampuannya yang sudah menurun.

Kini, satu-satunya petinju asal Indonesia yang memegang gelar juara dunia adalah Daud ‘Cino’ Yordan. Yaitu sabuk juara WBO Intercontinental kelas ringan (61,2 kg). Saat ini usia Daud Yordan baru menginjak 31 tahun. Artinya peluangnya untuk terus meraih prestasi masih sangat besar.

Ia punya rekor bertarung 38 kali menang (26 di antaranya dengan KO) dan empat kali kalah tersebut. Meski begitu, butuh kerja keras dan konsistensi jika ingin tetap berkiprah di cabor ini.

Pecinta olahraga Tinju tentu berharap para petinju kita bisa bersaing di kancah internasional untuk mengangkat nama Indonesia. Seperti yang dilakukan Manny bagi negaranya, Filipina. Kita juga berharap akan muncul bibit-bibit baru petinju handal dari tanah air.

Namun hal itu tidak mungkin terjadi tanpa adanya dorongan dan perhatian dari pemerintah, dan pihak-pihak terkait. Untuk melahirkan prestasi, tak bisa seperti sulap yang muncul tiba-tiba. Tetapi harus dilakukan pembinaan sejak usia dini. Semoga akan muncul atlet tinju berprestasi yang mengharumkan nama bangsa. Kalau boleh dari Lampung. Semoga! (Tampan Fernando)

Facebook Comments