Beranda Bandar Lampung

Data Impor Kopi Lampung Selisih 720 Ton

143
Ilustrasi Impor Kopi

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mengungkap fakta baru terkait jumlah impor kopi di Lampung selama tahun 2019. Ternyata, impor kopi yang diungkap BPS lebih banyak mencapai 1.700 ton.

Sebelumnya, PT Pelindo II Panjang mencatat impor kopi hanya 980 ton.

Teka-teki jumlah impor kopi yang masuk di Provinsi Lampung selama tahun 2019 terus berkembang. BPS Lampung mengungkap fakta baru jumlah impor kopi di Lampung yang lebih valid, karena langsung berasal dari Bea Cukai Pusat.

BPS Lampung menyebutkan selama periode Januari-Juni 2019 tercatat ada sebanyak 1.746.672 kilogram (kg) atau setara 1.700 ton lebih biji kopi yang diimpor ke Lampung.

Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Provinsi Lampung, Riduan menjelaskan dengan jumlah impor kopi tersebut jika dihitung dalam mata uang yakni sebanyak US$ 2.743.364.

Ia menerangkan, negara asal impor biji kopi di Lampung terbesar berasal dari Vietnam sebanyak 1.727.472 kg dan sisanya dari Korea Selatan sebanyak 19.200 Kg.

“Kami di provinsi sertiap bulan dikirim dari BPS pusat di Jakarta. BPS memang memiliki kerja sama MoU (Memorandum of Understanding) dengan Bea Cukai Pusat,” ujar Riduan kepada Kupas Tuntas, Selasa (13/8/2019).

Namun begitu, pihaknya tidak pernah mendata secara lebih spesifik untuk memgetahui jenis kopi yang diimpor tersebut. Sebab, dalam perhitungannya kopi dijadikan satu dalam komoditi biji-bijian.

“Memang setiap rilis kita biasa menyajikan hanya lima besar komoditi impor, ada kemungkinan kopi itu bisa saja pada saat rilis tidak masuk dalam lima besar. Tapi kalau kita masuk ke dalamnya memang betul kita punya impor kopi,” terangnya.

Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Lampung, Satria Alam menambahkan, segala hal yang berkaitan impor kini telah menjadi kewenangan pemerintah pusat.

Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor: 24/Permentan/HR.060/5/2018 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Pertanian Nomor 38/Permentan/HR.060/11/2017 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura.

Serta Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor: 16 Tahun 2018 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 30/ M-DAG/PER/ 5/2017 tentang Ketentuan Impor Produk Hortikultura.

Kemudian lanjut Satria, kalaupun ingin diterbitkan Angka Persetujuan Impor (API) termasuk izin bongkar, itu ditangani oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP).

“Dinas Perdagangan tidak ada kewenangan lagi semenjak diberlakukannya Online Single Submission (OSS) sejak April 2017. Jadi sudah di DPMPTSP,” ujar Satria.

Sebelumnya, PT Pelindo II Cabang Panjang mencatat ada tiga perusahaan yang terlibat dalam kegiatan impor kopi di Provinsi Lampung. Dan biji kopi yang diimpor selama periode Januari-Juni 2019 sebanyak 980.953 kilogram atau setara 980 ton.

Sumber Kupas Tuntas di PT Pelindo II Cabang Panjang mengatakan, biji kopi impor yang masuk Provinsi Lampung dilakukan dalam empat tahap, selama periode Januari-Juni 2019.

Menurut pegawai PT Pelindo II ini, tahap pertama kopi yang masuk sebanyak 192.350 Kg berasal dari negara Vietnam. Lalu masuk lagi biji kopi 384.380 Kg juga dari Vietnam.

Tahap ketiga, masuk biji kopi lagi sebanyak 384.703 Kg masih dari negara Vietnam. Terakhir, biji kopi yang masuk sebanyak 19.520 Kg dari Korea. Sehingga total biji kopi yang masuk mencapai 980.953 Kg atau sekitar 980 ton lebih.

Sebaliknya, AEKI Lampung sebagai wadah bernaung tiga perusahaan yang mengimpor kopi di Lampung, justru tidak mengetahui ada anggotanya yang melakukan impor kopi.

Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Provinsi Lampung, Juprius mengatakan semestinya sebelum pengusaha itu mengimpor kopi berkoordinasi dulu ke Dinas Perdagangan. Tidak seperti saat ini, dirinya saja tidak mengetahui jika ada impor kopi di Lampung.

“Pemda itu harus melihat kopi yang diimpor itu seperti apa, masuk gread SNI (Standar Nasional Indonesia) tidak. Kan ada Sucofindo yang bisa menentukan apakah kopi itu sudah standar nasional apa belum. Bila perlu pemerintah melarang impor. Kalau ekspor kita dapat dolar. Tetapi kalau impor kita malah bayar dolar. Jadikan rugi kita,” ujarnya.

Dikatakannya, dampak dari adanya impor kopi akan mempengaruhi harga di petani. Sehingga pada akhirnya menguntungkan pelaku bisnis tetapi merugikan pihak petani dan pemerintah daerah. (Erik)

Artikel ini telah terbit di Surat Kabar Harian Kupas Tuntas Edisi Rabu, 14 Agustus 2019 dengan judul Data Impor Kopi Lampung Selisih 720 Ton”

Facebook Comments