Beranda Bandar Lampung

Mabes Polri Pastikan Proyektil Peluru dalam Kasus Mahasiswa UBL Tertembak Harus Diuji Balistik

52
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Karpenmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo. Foto: Ist

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Mabes Polri menegaskan perlunya melakukan uji balistik terhadap proyektil peluru yang bersarang pada tubuh seorang mahasiswa di Kampus Universitas Bandar Lampung (UBL) bernama Rahmat Heriyanto. Uji ini dilakukan untuk mengetahui tipe senjata dan peluru.

“Ya harus dicek dulu (melalui uji balistik),” ungkap Karopenmas Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo, Rabu (14/8/2019).

Komentar tersebut diutarakannya saat dimintai tanggapannya tentang bagaimana langkah yang seharusnya dilakukan Polri untuk menyimpulkan tipe senjata api dan jenis peluru yang ada pada kasus mahasiswa tertembak di Kampus UBL, Sabtu (10/8/2019) lalu.

Ditanya apakah Polda Lampung telah melakukan uji balistik terhadap proyektil peluru, Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengiyakannya. Namun, mengenai hasil dari uji balistik belum diketahui dirinya.

“Ya. Tapi hasilnya belum (keluar),” ujarnya.

Pada Minggu (11/8) sehari setelah kejadian, Polda Lampung menyatakan bahwa tipe senjata api yang disebut tidak sengaja meletus adalah jenis Five SeveN (FN) dan merupakan senjata non organik Polri.

Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad mengaku persoalan sudah atau tidaknya dilakukan uji balistik terhadap proyektil peluru adalah hal teknis yang dapat dipaparkan oleh penyidik pada Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum).

“Proses sidik (penyidikan_read) masih berjalan. Dan tentang hal ini (uji balistik) adalah teknis penyidikan oleh Ditreskrimum Polda Lampung,” ucapnya.

Dimintai tanggapannya, Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Lampung Kombes Pol M Barly Ramadhany berjanji akan segera melakukan uji balistik terhadap proyektil peluru.

“Nanti… Sabar. Itu lagi pengembangan,” imbuhnya singkat.

Berdasarkan informasi yang didapat, Ditreskrimum Polda Lampung menyita dua pucuk senjata api jenis FN warna coklat dan revolver milik oknum Brigadir PJ lalu selongsong peluru jenis FN serta satu unit mobil Toyota Agya warna merah bernomor pelat BE 1920 MA.

Kemudian, Polda Lampung juga telah menetapkan tiga oknum polisi sebagai tersangka dalam kasus ini. Mereka adalah Brigadir PJ dan Bripka D, personil dari Polres Lampung Selatan kemudian Aipda DI yang sampai saat ini belum dirincikan asal satuannya.

Adapun pasal yang dipersangkakan adalah pasal 360 KUHP dan UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dengan ancaman hukuman adalah pidana penjara maksimal 20 tahun, seumur hidup dan hukuman mati.

Berdasarkan informasi dari sumber kepolisian, turut pula diamankan dua buah kartu milik Brigadir PJ. Dan turut pula menyita enam butir peluru.

Kartu tersebut diantaranya ialah Surat Izin Membawa dan Menggunakan Senjata Api dengan nomor SIMSA/389/II/2018. Kartu berwarna oranye ini tertulis sebagai milik PJ berpangkat Brigadir Polisi (Brigpol) dengan NRP 87071201. Jabatannya adalah BA Intelkam KSKP Bakauheni dengan asal kesatuan Polres Lampung Selatan. Disebutkan pula masa berlaku kartu tersebut sampai dengan 23 November 2018. Dan dikeluarkan di Kalianda pada 6 Januari 2018.

Kartu ini ditandatangani oleh Kapolres Lampung Selatan AKBP Mohammad Syarhan.

Sementara kartu identitas lainnya adalah Kartu Tanda Anggota (KTA) Polri dengan nomor KTA/217/IV/2018. Kartu tersebut atas nama PJ berpangkat Brigadir Polisi (Brigpol) dengan NRP 87071201. Di sana tercantum jabatan PJ sebagai BA KSKP Bakauheni asal kesatuan Polres Lampung Selatan. Terdapat tulisan ada perubahan pada kolom masa berlaku kartu tersebut. Kartu itu ditandatangani oleh Kabag Sumda Polres Lampung Selatan Kompol H. MN. Yuliansyah di Kalianda pada 19 April 2018. (Ricardo)

Facebook Comments