Beranda Bung Kupas

Air Tanah Dicuri?

47
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Zainal Hidayat

Kupastuntas.co, Bung Kupas – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mensinyalir ada kebocoran potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari pajak air tanah di Provinsi Lampung. Pasalnya, sudah diterbitkan Surat Izin Pengambilan Air Tanah (SIPA) untuk sekitar 1.000 titik, namun pajak yang dipungut tidak sebanding.

Hal itu diungkapkan Kasatgas Korsupgah Wilayah III KPK Dian Patria, saat menggelar rapat dengan Bapenda kabupaten/kota se-Provinsi Lampung, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) pada Rabu (28/08/2019) lalu.

Tidak berhenti di situ, Wakil Ketua KPK Laode M Syaraif juva mengultimatum terhadap siapa saja yang melakukan pencurian air tanah di Provinsi Lampung agar segera mengurus peizinan. Pasalnya, masih ada pihak-pihak di Provinsi Lampung yang coba-coba tidak menaati regulasi perizinan pengambilan air tanah. Padahal, pihak-pihak itu sudah memanfaatkan air tanah dalam jumlah cukup besar.

Peringatan KPK itu sangat mendasar. Jangan sampai perusahaan maupun perorangan yang memanfaatkan air tanah dalam jumlah besar, namun sama sekali tidak memberi kontribusi pajak terhadap pemerintah daerah. Selain itu, bila pengambilan air tanah tidak dikontrol, akan menimbulkan dampak lingkungan yang cukup mengerikan.

Masih ingat peristiwa penurunan tanah atau tanah ambles terjadi di Jalan Gubeng Kota Surabaya, Jawa Timur pada 18 Desember 2018. Saat itu Jalan Raya Gubeng ambles sepanjang sekitar 100 meter, lebar 30 meter, dengan kedalaman 20 meter.

Fenomena tanah ambles atau land subsidence adalah tenggelamnya tanah secara tiba-tiba atau bertahap yang dapat disebabkan oleh proses alam atau juga aktivitas manusia. Proses alami meliputi sesar normal, fenomena kars, penurunan kaldera. Sementara kegiatan manusia yang dapat menyebabkan tanah ambles adalah penambangan dan eksploitasi air tanah oleh pembangunan di atasnya.

Sebuah lembaga geologi Amerika, US Geological Survey (USGS) menjelaskan kasus tanah ambles di sejumlah wilayah juga disebabkan ketika air tanah ditarik dalam jumlah besar dan membuat batu-batuan yang bertugas menahan tanah bergeser.

Tanah ambles telah menjadi masalah global, khususnya Amerika Serikat. Lebih dari 17.000 mil persegi di 45 negara, juga telah mengalami kasus ini. Lebih dari 80 persen kasus terjadi karena eksploitasi air bawah tanah, dan meningkatnya pembangunan gedung yang terus mengancam dan memperburuk keadaan.

Bisa dibayangkan apa yang terjadi, jika eksploitasi air tanah dilakukan secara besar-besaran. Selain ancaman kekeringan, bahaya tanah ambles juga bisa saja terjadi. Sebelum itu terjadi, Pemda harus bersikap tegas dan mulai menginventarisir siapa saja pihak yang telah memanfaatkan air tanah dan berapa banyak air tanah yang diambil. Sehingga, pemanfaatkan air tanah bisa diatur, agar tidak berdampak pada lingkungan sekitar. (**)

Artikel ini telah terbit di Surat Kabar Harian Kupas Tuntas Edisi Jumat, 30 Agustus 2019 berjudul “Air Tanah Dicuri”

Facebook Comments