Beranda Bung Kupas

Pasir Laut Dijarah

51
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Zainal Hidayat

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Kandungan Sumber Daya Alam (SDA) di Provinsi Lampung terus menjadi incaran perusahaan pertambangan untuk dieksploitasi. Ironisnya, aktifitas penambangan yang dilakukan sering tidak mengantongi perizinan seperti yang diamanatkan peraturan maupun UU yang berlaku. Dampak kerusakan pun mengancam baik terhadap warga setempat maupun lingkungan sekitar.

Salah satu SDA yang kini banyak dijarah adalah pasir, baik pasir yang ada di daratan maupun di lautan. Kerusakan lingkungan akibat penambangan pasir di daratan bisa dilihat di Kecamatan Pasir Sakti dan Labuhan Maringgan, Kabupaten Lampung Timur.

Belakangan, aktifitas penambangan pasir laut juga mulai marak. Yang kini menjadi sorotan adalah kapal tongkang milik PT Lautan Indonesia Persada (LIP) yang dipergoki sedang menyedot pasir laut di perairan Gunung Anak Krakatau (GAK).

Meski sudah memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) dari Dinas Penanaman Modal Pelayanan Perizinan Terpadu Daerah Provinsi Lampung pada 26 Maret 2015. Ternyata, PT LIP belum mengantongi Surat Izin Kerja Keruk (SIKK) yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan RI.

Akhirnya, kapal tongkang milik PT LIP pun ditarik pegawai Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Bakauheni menepi di Dermaga 5 Pelabuhan Bakauheni. Ini baru satu kapal yang terbukti mengeksploitasi pasir laut yang ketahuan. Tidak tertutup kemungkinan, sebelumnya sudah banyak kapal yang mencuri pasir laut dari wilayah perairan Lampung Selatan yang tidak ketahuan.

Ternyata, pencurian SDA milik Provinsi Lampung cukup masif. Tidak heran, jika KPK memberi atensi khusus terkait perizinan pengelolaan SDA di Lampung. Jika perusahaan-perusahaan tidak pernah mengurus izin namun terus menambang SDA di Lampung, maka bukan hanya alam yang dirusak namun juga pendapatan negara juga dirampas. Pasalnya, perusahaan-perusahaan nakal itu tidak pernah membayar pajak karena tidak pernah melengkapi administrasinya.

Sudah saatnya pencurian SDA milik Lampung harus dihentikan. Jika tidak sekarang kapan lagi. Ingat kekayaan alam hanya lah titipan anak cucu kita, dan bukan warisan nenek moyang kita. Sehingga kita punya kewajiban untuk menjaganya. (ZA)

Artikel ini telah terbit di Surat Kabar Harian Kupas Tuntas Edisi Senin, 02 September 2019 dengan judul “Pasir Laut Dijarah”

Facebook Comments