Beranda Bung Kupas

Sehat Makin Mahal

26
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Zainal Hidayat, Pemimpin Redaksi Kupas Tuntas

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Harga kesehatan di tanah air makin mahal. Padahal sehat adalah menjadi dasar bagi seseorang untuk beraktivitas. Karena di dalam tubuh yang sehat, maka terdapat jiwa yang kuat. Apa jadinya, jika untuk menjadi sehat ternyata harus mengeluarkan biaya yang besar? Tentu bagi golongan masyarakat ekonomi bawah akan sangat menjadi beban.

Hal itulah setidaknya yang akan menjadi gambaran mulai 1 Januari 2020. Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) Kesehatan akan mulai menaikan iuran pesertanya mencapai 100 persen pada awal 2020. Hal itu dilakukan untuk mengurangi defisit BPJS Kesehatan yang terus membengkak.

Kepastian kenaikan iuran BPJS Kesehatan baru akan diberlakukan untuk golongan kelas I dari awalnya Rp80.000 menjadi sebesar Rp160.000. Dan untuk peserta kelas II yang harus membayar Rp110.000 dari yang sebelumnya hanya Rp51.000.

Sementara usulan kenaikan iuran peserta mandiri kelas III, masih mendapat penolakan dari DPR. Karena kenaikan itu dianggap akan semakin membebani warga dengan ekonomi pas-pasan. Rencananya, untuk iuran kelas III akan naik menjadi Rp42.000 dari sebelumnya hanya sebesar Rp25.500 per bulan.

Kebijakan BPJS Kesehatan ini tidak bisa ditolak masyarakat. Apalagi, pemerintah saat ini juga mengalami defisit anggaran berjalan. Sehingga akan semakin membebani APBN, jika defisit BPJS Kesehatan juga harus ditalangi menggunakan anggaran negara.

Tidak bisa dipungkiri, keberadaan BPJS Kesehatan sangat membantu meringankan beban masyarakat saat harus berobat ke rumah sakit. Karena tidak lagi harus mengeluarkan biaya besar, cukup membayar iuran ke BPJS Kesehatan setiap bulan. Jika menejemen BPJS Keseharan dikelola secara baik, tentu saja akan sangat membantu masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang layak.

Hanya saja, kini BPJS Kesehatan ibarat sebuah perusahaan yang sekarat. Semakin hari hutang yang dipikul semakin besar. Iuran BPJS Kesehatan yang diambil dari peserta dipastikan tidak akan mampu menyeimbangkan kondisi keuangan.

Pertanyaannya, apakah dengan menaikan iuran BPJS Kesehatan akan mampu menutupi defisit keuangan yang selama ini terjadi. Jika tetap tidak ada perubahan ke arah perbaikan, kemungkinan besar pengelola BPJS Kesehatan lah yang tidak professional dalam mengelola perusahaan tersebut. Jangan sampai kesalahan pengelola BPJS Kesehatan, imbasnya dibebankan kepada warga selaku peserta.

Harus dipastikan, BPJS Kesehatan yang bertanggung jawab memberikan pelayanan kesehatan bagi hampir seluruh warga di negeri ini, dikelola orang-orang yang profesional dibidangnya. Jangan sampai, BPJS Kesehatan menjadi tempat berkumpul orang-orang yang hanya memikirkan ekonomi pribadi, daripada mementingkan masa depan perusahaan yang menaungi jutaan warga. (ZH)   

Artikel ini telat terbit di Surat Kabar Harian Kupas Tuntas Edisi Rabu, 04 September 2019 dengan judul “Sehat Makin Mahal”

Facebook Comments