Beranda Bung Kupas

Dua Hari Tiga OTT

240
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Zainal Hidayat, Pemimpin Redaksi Kupas Tuntas.

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Meskipun sudah banyak kepala daerah terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Krupsi (KPK), namun tidak membuat jera kepala daerah lain. Terbukti, masih terus saja ada kepala daerah yang mengalami nasib serupa.

Terakhir, KPK melakukan OTT di tiga tempat sekaligus, hanya dalam tempo dua hari. OTT pertama dilakukan KPK pada Senin (02/09/2019) dengan menjerat Bupati Muara Enim Ahmad Yani, yang diduga menerima suap terkait proyek pekerjaan di Dinas PU-PR.

Berlanjut pada Selasa (03/09/2019), tim KPK menangkap Direktur Pemasaran PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III) I Kadek Kertha Laksana. Masih di hari yang sama, KPK bergerak ke Pulau Kalimantan. Rupanya KPK menangkap pula seorang bupati, yaitu Bupati Bengkayang Suryadman Gidot. Dia diduga menerima suap terkait proyek pada Dinas PU-PR di wilayahnya.

Ternyata kekuasaan dan korupsi ibarat dua mata sisi uang yang tidak mungkin terpisahkan. Seseorang yang memiliki kekuasaan baik di legislatif, eksekutif maupun yudikatif, sangat rentan melakukan praktik korupsi. Dengan kekuasaan yang dimiliki, maka akan semakin memudahkan seseorang untuk menambah harta kekayaannya secara instan.

Tidak heran, jika saat ini sudah ada puluhan bahkan ratusan pejabat yang berurusan dengan aparat penegak hukum. Khusus KPK, sedikitnya sudah menjerat 100 kepala daerah akibat tersandung korupsi.

Kondisi tersebut tentu sangat mengiris hati. Para pemegang kekuasaan yang sudah digaji oleh negara, ternyata masih tega menggerogoti uang negara secara melawan hukum. Ironisnya, meski sudah banyak pemegang kekuasaan yang ditangkap, belum memberikan efek jera bagi pemegang kekuasaan lainnya.

Terbukti, selalu saja ada pejabat dari tingkat pusat hingga daerah yang selalu berurusan dengan KPK akibat melacurkan jabatannya, hanya untuk memperoleh uang dari cara haram. Semakin KPK bergerak, maka akan semakin banyak pejabat yang terciduk.

Pertanyaanya, sampai kapan situasi seperti ini akan terus berlangsung. Hukuman belum menjadi cara efektif untuk memberikan efek jera bagi para pelanggarnya. Bahkan, saat ini pemegang kekuasaan seperti mudah tergiur saat diajak berkolaborasi melakukan pemufakatan jahat dengan pengusaha-pengusaha nakal.

Operasi tangkap tangan (OTT) yang gencar dilakukan KPK, seperti menjadi  tontonan drama kolosal yang lama kelamaan menjadi hal biasa disaksikan masyarakat. OTT yang berlangsung terus menerus dikhawatirkan hanya akan menjadi rutinitas, karena pejabat yang ditangkap juga seperti tidak merasa takut lagi.

Harus dicari cara paling efektif, agar uang negara tidak terus digerogoti oleh para pejabat yang korup. Jika upaya memiskinkan koruptor belum efektif, negara harus mencari solusi lain agar para koruptor baru tidak bermunculan. Misalnya, seperti menjatuhkan hukuman mati, sehingga para koruptor tidak bisa lagi menikmati harta dari hasil korupsinya. (ZH)

Artikel ini telah terbit di Surat Kabar Harian Kupas Tuntas Edisi Kamis, 05 September 2019 dengan judul “Dua Hari Tiga OTT”

Facebook Comments