Beranda Bung Kupas

Antara Kopi, Tomat, dan Ambulans Hebat

376
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Satoris. Kepala Biro Kupas Tuntas di Lampung Barat.

Kupastuntas.co, Lampung Barat – Mayoritas masyarakat Lampung Barat umumnya berprofesi sebagai petani. Profesi ini telah dijalani secara turun temurun. Namun hasil tanaman petani dari Lampung Barat baru-baru ini viral di sosial media.

Video viral itu adalah petani tomat yang membuang hasil panen tomat ke jurang. Jumlahnya sangat besar, mencapai ribuan kilo. Hal ini dilakukan petani itu bukan karena lagi cari sensasi. Tetapi karena kecewa berat dan frustasi.

Bagaimana tidak, Harga tomat yang biasanya terjual oleh petani seharga 2.000/kg, kini hanya bisa dijual Rp400 hingga Rp800/kg. Itupun termasuk biaya angkut dan pengemasan dalam kotak. Rendahnya harga jual tomat di Lambar ini mengakibatkan para petani rugi besar. Besarannya mencapai puluhan juta hingga ratusan juta Rupiah tergantung luas lahan. Artinya, semakin luas lahan yang dikelola, semakin besar pula kerugian yang dialami. Miris!

Dalam video itu, para petani juga meminta pemerintah segera menyikapi anjloknya harga tomat. Namun belum diketahui secara pasti penyebab jatuhnya harga jual tomat. Dan belum ada juga solusi pasti dari pemda setempat. Jangan-jangan nantinya yang disalahkan justru petani lagi. Sama seperti nasib petani kopi.

Nah, bicara soal kopi, baru-baru ini petani kopi dibuat sejumlah media tercengang. Pasalnya Dewan Kopi dan Gubernur provinsi Lampung menuding adanya pengusaha importir yang memasukkan kopi luar negri ke Lampung.

Ternyata, pengusaha importir kopi memasukkan kopi luar negri ke Lampung alasannya karena persediaan kopi di Lampung tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan lokal. Kemudian kualitas kopi Lampung rendah. Alasan ini jelas menjadi cibiran dan tanya bagi petani.

Benarkah alasan pengusaha importir kopi itu? atau cuma akal-akalan saja? Pihak petani menilai alasan itu hanya untuk mengarahkan kesalahan kepada para petani kopi dan menutup ruang bagi para petani untuk mendapat pembelaan. Sebab, kalau persediaan kopi di Lampung ‘katanya’ tidak cukup, lantas mengapa harga jual kopi dari petani sangat rendah? Harusnya kan kalau stok minim, harga mahal.

Terkait mutu, menurut mayoritas petani secara kualitas biji kopi asal Lampung Barat yang sudah dijalankan secara turun temurun, tidak semakin buruk. Justru semakin membaik. Tapi mengapa harga kopi justru semakin rendah dari sebelum-sebelumnya?.

Rendahnya harga jual kopi dan tomat di Lampung Barat tentunya tak sebanding dengan biaya kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi. Beruntung masih ada perhatian Pemkab Lambar dalam bidang kesehatan. Sehingga bisa mengurangi biaya hidup.

Ya, awal Agusutus lalu Pemkab Lambar melaunching program Ambulans Hebat. Yaitu menempatkan 10 armada ambulas di 10 kecamatan di daerah tersebut. Ambulans ini dapat digunakan bagi warga yang kebanyakan adalah petani untuk mengantarkan mereka berobat ke puskesmas terdekat. Layanan ini tersedia 24 jam, dan dipastikan gratis.

Namun sayangnya, layanan ini hanya dikhususkan buat warga yang sakit, dan tidak dibenarkan untuk mengatarkan warga yang meninggal dunia. Nah, lalu bagaimana jika ada keluarga petani yang meninggal tapi tak punya kendaraan? Apakah di tengah keadaan berduka itu mereka harus tetap pinjam sana sini?

Menimbang berbagai hal ini, mungkinkah Pemda setempat akan mengubah peraturan yang tertuang dalam Peraturan Bupati (Perbup) Ambulans Hebat ini, Sehingga kemudian layanan itu juga dapat digunakan untuk membawa jenazah warga, meskipun di jarak dan waktu-waktu tertentu?

Harap-harap cemas di benak petani akan adanya perubahan di masa yang akan datang. Dan tak hanya soal layanan ambulans. Pemerintah juga harus hadir untuk dapat mengintervensi harga jual hasil pertanian yang berpihak kepada petani. Jangan hanya sekadar meminjam slogan Lampung penghasil kopi terbesar, Lampung sebagai lumbung padi nasional dan sebagainya. Tapi nasib petani tidak dipedulikan. (Satoris)

Facebook Comments