Beranda Daerah Lampung Lampung Selatan

Kisah Pria Miskin Penderita Kusta di Lamsel Luput Perhatian Pemerintah

174
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Gubuk milik Darmuki di Dusun Pematang Buluh, Desa Baliagung, Kecamatan Palas, Lampung Selatan. Foto: Ist/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Lampung Selatan – Di gubuk reot dan tua inilah, Darmuki (59) warga Dusun Pematang Buluh, Desa Baliagung, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan, menghabiskan sisa hidupnya.

Pria paruh baya itu tinggal di sebuah rumah berbahan geribik bambu yang masih beralaskan tanah dan ditemani beberapa ekor ayam. Kondisinya jauh dari kata memadai, apa lagi sederhana.

Namun demikian, Darmuki tetap bersemangat berjuang untuk menjalani kehidupannya sehari-hari. Meskipun berbagai penyakit juga ikut menggerogoti tubuhnya yang semakin menambah derita di usianya yang sudah senja.

Miris memang, tapi beginilah fakta kehidupan yang melanda Darmuki pria kelahiran Jawa Timur 1 Juli tahun 1960 itu.

Saat coba ditanya, apakah dirinya telah mendapatkan perhatian dari pemerintah, karena memang banyak bentuk bantuan dari pemerintah pusat melalui pemerintah daerah, semisal KIS, PKH, BPNT, bedah rumah dan sebagainya, Darmuki hanya tertunduk lesu mendengar pertanyaan itu.

Yang lebih miris lagi, rumah reot berbahan geribik yang ditempati Darmuki kondisi berbanding terbalik dengan kondisi rumah yang berada persis di sebelah rumahnya.

Rumah berbahan batu bata yang telah berdiri kokoh itu tampak jelas terlihat di cat stempel (warna merah) yang menggambarkan bahwa rumah warga tidak mampu, yang membuktikan rumah tersebut mendapatkan program bantuan pemerintah.

Hal ini tentunya menjadi catatan bagi pihak-pihak terkait, untuk ikut memperhatikan kondisi masyarkatnya, karena hal itu merupakan tanggungjawab dari pemerintah.

Darmuki (59). Foto: Ist/Kupastuntas.co

Darmuki pun sempat bercerita akan kondisi getir yang dijalaninya sehari-hari. Jangankan untuk memikirkan biaya penyembuhan penyakit kusta yang telah menggerogoti jari-jari kaki dan tangannya, untuk makan saja, Darmuki mengaku bergantung pada seorang kerabatnya.

“Jangankan masalah tentang kelangsungan hidup mas, untuk makan sehari hari saja, saya masih bergantung hidup dengan kakak saya,” ujarnya, belum lama ini.

Ia pun berharap, baik pemerintah ataupun kaum dermawan yang peduli atas kondisi hidup kaum-kaum yang terpinggirkan seperti dirinya, dapat membantu kelangsungan hidup mereka.

“Mungkin banyak orang yang seperti saya, tapi saya berharap ada perhatian untuk saya. Sebuah perhatian penuh dari pemerintah, dinas kesehatan, dinas sosial dan orang yang memang peduli terhadap kondisi seperti kami. Walau bagaimana pun, saya ini adalah orang Lampung Selatan, orang Indonesia juga, yang layak mendapatkan perhatian yang sama dari pemerintah,” jelas Darmuki.

Pria paruh baya yang hanya tinggal sebatang kara di gubuk miliknya itu mengaku sempat mendapatkan bantuan dari pemerintah desa, namun itu sudah bertahun-tahun yang lalu.

“Dulu pernah dapat dari lurah, zaman pak Darminto, dua kali. Kalau sekarang ini, harapan kita bantuan jenis apa saja,” jelasnya.

Penyakit kusta yang diderita Darmuki itu telah berlangsung sejak ia masih menginjak masa remaja, dan hingga saat ini belum mendapatkan perawatan medis yang intensif, sehingga penyakit kusta yang dideritanya telah memakan bagian jari-jari kaki dan tanganya.

“Saya sudah mendatangi Puskesmas awal bulan kemarin, cuma katanya belum dapat juga, jadi disuruh melanjuti. Apalah daya saya ini mas, kaki sebagian sudah habis, tangan juga demikian digrogoti penyakit ini. Entah penyakit apa. Berobat pun kadang setahun nggak sekali, itu pun sebatas Puskesmas,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Lampung Selatan Dulkahar saat dikonfirmasi menegaskan, akan menurunkan petugas untuk mengecek lokasi kediaman Darmuki.
“Iya, kita akan langsung menurunkan jajaran untuk mengecek lokasi,” jelasnya, Rabu (11/09/2019).

Dulkahar menyatakan, kelayakan masyarakat untuk mendapatkan bantuan dari dinas terkait, tidak ditentukan oleh daerah. Yang menentukan itu, hasil pendataan berupa kuisioner yang diberikan kepada masyarakat itu sendiri dan kemudian dilaporkan kepada pusat.

“Nanti pendamping saya langsung tinjau, langsung dilakukan tindakan. Kalau dia belum masuk dalam daftar (Basis Data Terpadu) kita pastikan dia masuk, sehingga dia punya peluang menjadi daftar tunggu dan daftar usulan,” tegasnya. (Dirsah)

Facebook Comments