• Sabtu, 14 Desember 2019

Lampung Termasuk Daerah Rawan Bencana, Generasi Muda Didorong Pahami Mitigasi Bencana

Selasa, 17 September 2019 - 15.24 WIB - 0

Kupastuntas.co, Lampung Selatan – Generasi muda Lampung didorong lebih memahami langkah mitigasi bencana. Tidak hanya ketika bencana terjadi, akan tetapi juga berusaha mengurangi risiko yang ditimbulkan akibat sebuah bencana lewat pengetahuan dan teknologi.

Ketua Umum Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Harkunti Pertiwi Rahayu, menyampaikan, sangat tepat jika edukasi mitigasi bencana ditujukan kepada generasi muda terutama pelajar dan mahasiswa. Sebab, generasi mudalah yang ke depan lebih banyak berperan baik dalam perencanaan hingga penyusunan regulasi dan kebijakan yang perlu diambil guna mengurangi dampak sebuah bencana.

“Bencana pasti akan terjadi, tetapi kapan waktunya yang belum diketahui. Yang menjadi masalah, regulasi kita sudah cukup banyak, namun pelaksanannya yang masih sangat minim,” kata dia saat tampil mengisi Seminar Nasional Kebencanaan yang diadakan Unit Pelaksana Teknis Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (MKG) Institut Teknologi Sumatera (Itera), Selasa (17/9/2019).

“Selain itu perencanaan berbasis mitigasi bencana juga belum teralisasi, sehingga tugas mahasiswa adalah menjadi pengingat kita bahwa Lampung perlu perencanaan untuk menghadapi bencana di masa yang akan datang,” ujar Harkunti.

Harkunti menyebut, bangsa Indonesia sebenarnya telah diakui sebagai penyedia layanan tsunami di dunia dan mampu memberikan informasi tentang tsunami ke 28 negara. Di kawasan Samudera Hindia hanya ada tiga Negara yang dapat melakukan hal tersebut yakni, Australia, India dan Indonesia. Meskipun, teknologi canggih yang dimiliki oleh Indonesia, hanya mampu mendeteksi tsunami yang diakibatkan oleh gempa tektonik.

“Peralatan kita sudah sangat canggih, namun dari bencana tsunami di Palu dan Selat Sunda lalu, kita kembali diingatkan, bahwa tsunami juga dapat disebabkan oleh faktor selain gempa tektonik, seperti longsoran kaldera, atau bahkan akibat hujan meteor yang mungkin saja ke depan terjadi,” ujar dosen ITB itu.

 

 

Sementara, Kepala UPT MKG Itera, Drs. Zadrach Ledoufij Dupe, M.Si., menekankan seputar standar prosedur yang perlu ditaati dalam berbagai bidang kehidupan, salah satunya bidang transportasi. Ia mencontohkan, selama ini transportasi udara, selalu membutuhkan informasi data-data prakiraan cuaca dari BMKG untuk sebuah penerbangan. Hal tersebut dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya bencana kecelakaan yang diakibatkan oleh factor cuaca.

Zadrach menyebut, sebagai kampus pionir dalam bidang teknologi di Sumatera, Itera harus terus berperan dalam mengembangkan pengetahuan-pengetahuan seputar teknologi mitigasi bencana.

Seminar diikuti oleh sebanya 385 peserta dengan 30% diantaranya merupakan Siswa SMA – Sederajat dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Lampung.

Rektor Itera yang diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Non Akademik Itera, Prof. Dr. Sukrasno menyebut, sebagai Institut Teknologi yang didirikan untuk menjawab permasalahan di Pulau Sumatera, Itera memiliki tanggung jawab untuk mengedukasi masyarakat tentang mitigasi bencana. Apa lagi, Pulau Sumatera dan Lampung khususnya termasuk daerah yang rawan bencana, baik gempa, tsunami dan potensi bencana lain.

“Bencana selalu menimbulkan kerugiaan materil dan korban jiwa. Sehingga, Menteri Riset dan Teknologi juga meminta perguruan tinggi memasukkan mitigasi bencana dalam kurikulum. Oleh sebab itu, Itera melalui UPT MKG mencoba untuk memberikan pelayanan terkait mitigasi bencana,” ujar Prof. Sukrasno. (Rls)

  • Editor :