Beranda Daerah Lampung Lampung Utara

Penyimbang Adat Lampung Minta Persoalan Tembakan di Acara Begawi Dihentikan

3257
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Ketua MPAL Lampung Utara, Ahmad Akuan Abung gelar Nadikiyang Pun Minak Yang Abung, didampingi Amir gelar ST Ratu Asal Suttan, saat memberikan pernyataan menyikapi viralnya video buang tembakan ke udara, di Kratun Ratu di Puncak (kediamannya), Jumat (20/9/2019). Foto : Sarnubi/Kupastuntas co

Kupastuntas.co, Lampung Utara – Penyimbang adat Lampung minta netizen bisa lebih bijak menyikapi kabar viralnya video lepas tembakan ke udara pada acara prosesi Begawi di Jalan Abrati Kotabumi Lampung Utara, karena tradisi tembak yang sempat viral itu merupakan bagian dari tradisi adat budaya masyarakat Lampung.

Menyikapi kabar yang berkembang dalam prosesi adat tersebut, Ahmad Akuan Abung gelar Nadikiyang Pun Minak Yang Abung, ketua badan perwatin Lampung Pepadun Kutobumi Tigo Gandung dan ketua MPAL Lampung Utara didampingi Sapuan Amir Gelar Suttan Ratu Asal Suttan salah satu tokoh ada setempat meminta tembakan ke udara tidak dibesar-besarkan.

“Tidak perlu dibesar-besarkan, karena tembak ini merupakan bagian dari tradisi adat Lampung,” kata A Akuan Abung gelar Nadikiyang Pun Minak Yang Abung, di Kratun Ratu di Puncak (kediamannya), Jumat (20/9/2019).

Nadikiyang Pun Minak Yang Abung, juga mengimbau pengguna-pengguna media sosial dalam menyikapi viralnya video tembak yang telah beredar agar tidak berkomentar berlebihan. Apa lagi bila tidak mengerti tentang adat budaya masyarakat Lampung.

“Jika memang harus berkomentar bertanya dulu dengan yang paham dengan adat orang Lampung, tapi sebaiknya tidak berkomentar kalau kita tidak tau,” ujarnya.

Dia juga meminta para generasi muda masyarakat Lampung baik itu Lampung pepadun maupun Lampung sia batin agar terus menjaga dan melestarikan adat budaya Lampung. Karena menurutnya sebelum aturan-aturan yang lain ada hukum adat atau aturat adat memang telah ada lebih dulu.

“Khusus untuk generasi muda, kita pertahankan adat ini, kenapa saya pesankan harus dipertahankan, karena kalau kita sudah tidak memakai adat mau jadi apa kita ini, hukum adat ini ada sebelum hukum-hukum lain,” kata Ahmad Akuan Abung.

Pada kesempatan itu pula, Ahmad Akuan AbungĀ  meminta kepada Kapolri untuk bisa memaklumi dan memaafkan eforia anggotanya yang masih keluarga besar dari sahibul hajat (Begawi) saat melepaskan tembakan ke udara dalam prosesi adat yang berlangsung di Kotabumi Lampung Utara beberapa waktu lalu.

“Harapan kita supaya pimpinan (Polri) bisa memaklumi dan memaafkan bawahannya. Karena ini acara adat, alangkah baiknya jika mereka diberikan peringatan saja dalam mempergunakan alat (senjata api),” katanya.

Disisi lain, pernyataan senada juga disampaikan penyimbang adat dari Marga Selagai. M Yusuf gelar ST Jenjem Tuan Ibu, tokoh Lampung Abung dari Kampung Gedung Harta, Selagai (Penyimbang Adat Marga Selagai), juga meminta instansi terkait dan masyarakat medsos (netizen) untuk tidak memperbesar-besarkan persoalan tersebut. Karena dalam adat Lampung (Begawi) hal itu sudah bagian dari tradisi yang melekat dan diwarisi secara turun menurun.

“Kalau menurut saya pribadi prihal tersebut memang sudah lama dan menjadi bagian dari tradisi adat kita Lampung, apabila kita melaksanakan adat memang ada sisi yang memakai tembak,” kata ST Jenjem Tuan Ibu.

Menurutnya, dalam sisi buang tembakan itu juga memiliki arti tersendiri bagi masyarakat Lampung, dan tembakan itu juga bermacam-macam yang dibunyikan pada prosesi paslaksanaan adat (Begawi).

“Untuk itu tidak perlu dibesar-besarkan karena itu pada acara adat, khususnya adat kita Lampung,” lanjutnya. (Sarnubi)

 

Facebook Comments