• Sabtu, 14 Desember 2019

Edy Santoso, Pelopor Pupuk Organik di Lembah Suoh

Rabu, 13 November 2019 - 14.00 WIB - 0

Kupastuntas.co Lampung Barat -  Guna mendorong petani berhasil dan mandiri tanpa merusak ekosistem, Edy santoso warga Pekon Tugu Ratu, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat, berbekal pengalamannya saat bekerja di Jepang kini menjadi pelopor penggunaan pupuk organik di lembah Suoh.

Pupuk organik berbentuk cairan yang dipergunakan Edi santoso dan komunitasnya diperoleh dari hasil pembuatan sendiri.

"Kami menggunakan pupuk buatan sendiri hasil permentasi vegetatif dan generatif, dalam sekali musim tanam kami memproduksi pupuk sebanyak 2 drum terbagi dua jenis satu drum vegetatif dan satu drum nya jenis generatif " ujar Edy saat dikunjungi di kediamannya dalam acara Media Trip ke Desa-desa bersama konsorsium WCS, WWF, dan YABI, dalam program pelestarian habitat prioritas di TNBBS, Rabu (13/11/2019).

Dijelaskan Edy, di bawah binaan WWF Petani padi dan coklat pengguna pupuk organik yang tersebar di Kecamatan Suoh dan Bandar Negeri Suoh tahun 2015 membentuk komunitas yang dinamakan Komunitas Petani Organik Lembah Suoh.

"Di dalam komunitas ini terdapat 100 orang anggota, dari jumlah tersebut saat ini tercatat 25 orang total menggunakan pupuk organik dan selebihnya masih tahap transisi ke organik," jelas Edy.

Menurut Edy untuk menjaga kesamaan kualitas dan penyaluran pupuk sesuai kebutuhan, proses pembuatan pupuk organik ditangani secara bersamaan di rumah produksi.

"Sistem pembagian pupuk kepada anggota komunitas sesuai kebutuhan dengan seharga 5000 rupiah perliter untuk anggota di luar anggota 10.000 rupiah, dari harga tersebut komunitas tidak mengambil keuntungan uang tersebut kami pergunakan untuk pengumpulan bahan baku dan kebutuhan saat proses pembuatan saja, dengan tujuan supaya petani mendapat kebutuhan pupuk dengan biaya murah dan penyebaran penggunaan pupuk organik buatan kami semakin luas," ungkap Edi.

Ditanya tentang dari mana mendapat referensi pembuatan pupuk organik yang telah diterapkan, Edy mengaku bahwa referensi pembuatan pupuk organik didapatnya saat bekerja di Jepang lalu.

" Waktu saya masih bekerja dijepang disaat saat tertentu tercium aroma yang kurang sedap, setelah saya tanya menurut penduduk sekitar aroma tersebut tidak berbahaya dan berasal dari pupuk organik yang disebarkan di lahan pertanian," ungkapnya.

Diketahui, untuk mengembalikan ekosistem dari sisa bom Heroshima, usaha pertanian dan perkebunan di Jepang dilarang keras menggunakan zat kimia, yang ada hanya menggunakan pupuk kompos dan organik saja, dan setelah saya pulang dari Jepang mengamati dunia pertanian sekitar sangat memprihatinkan hampir semua lahan telah ketergantungan pupuk, melihat situasi itu saya terinspirasi untuk mengembangkan nya di Suoh dan Bandar Negeri Suoh," urai Edy. (Satoris)

https://youtu.be/skKg31H_K2A

  • Editor : Mita Wijayanti