Petani Tanggamus Curhat Kakao Cepat Membusuk
Ilustrasi
Tanggamus- Petani di Dusun Sidorejo, Pekon Pesanguan, Kecamatan Pematangsawa,Tanggamus terlihat lesu saat memandang buah kakao.
Ia melihat makin banyak buah kakao yang berbintik hitam dan hampir membusuk. Tak ada pilihan lain, ia terpaksa memetik satu demi satu kakao yang bergantung di dahan, meski belum benar-benar siap panen. Soalnya, jika tidak, kemungkinan besar biji-biji kakao itu tidak akan bisa dijual.
Wahono sudah melakukan berbagai upaya, namun serangan penyakit PBK (penggerek buah kakao) serta serangan virus pada batang dan daun, semakin ganas menggerogoti batang dan buah kakao.
“Kami harus memanen dengan cepat, sebelum busuk. Dengan begitu, kami berharap masih bisa dapat beberapa kilo,” kata Wahono, Kamis (9/1/2020).
Lelaki paruh baya ini adalah salah satu dari ratusan ribu petani kakao di Kabupaten Tanggamus yang telah memilih kakao sebagai mata pencaharian utama.
Jika harga tinggi dan produksi stabil seperti 5--10 tahun lalu, bisa dibayangkan betapa berbahagianya para petani kakao di desa-desa subur tersebut sekarang ini.
Sayangnya, produksi kakao di Pesanguan, di desa tempat tinggal Wahono menurun drastis sejak beberapa tahun belakangan ini. Beragam kendala teknis dan perilaku petani serta rentannya pohon terserang penyakit sangat mengkhawatirkan berbagai kalangan.
“5 sampai 10 tahun adalah masa jayanya petani kakao. Pasca krisis ekonomi tahun 1997-1998 harga kakao melonjak tinggi karena mengikuti harga pasar internasional. Rupiah anjlok, petani kakao saat itu berpesta pora. Dampak krisis tersebut memang dinikmati dengan pendapatan yang berlipat-lipat. Banyak petani kakao yang berhasil menunaikan ibadah haji dan status sosialnya meningkat,”ucapnya.
Ketika produksi menurun harga melambung selangit di pasar internasional membuat meradang para petani yang mempunyai hektara lahan kakao. Produksi yang hanya satu-dua karung pupuk menutup pengeluaran dan pemeliharaaan tanaman yang selangit. Saat itu harga kakao kering sudah melewati angka Rp28 ribu per kilogram, sementara produksi kakao anjlok.
Saat ini dan seperti bulan-bulan sebelumnya karena penggerek buah kakao yang tak bisa diredam maka penghasilan besar tinggal kenangan.
“Sekarang ini, setiap hektar tanaman kakao saya paling Cuma dapat sepuluh kilo. Beda dengan dulu. Kakao sekarang sudah bukan andalan petani lagi, nasib petani kakao akan sama nanti dengan petani kopi yang sudah sulung tikar,” kata Wahono. (*)
Berita Lainnya
-
Jembatan Gantung Garuda Resmi Difungsikan, Warga Pekon Umbar Tanggamus Tak Lagi Terisolasi
Selasa, 30 Desember 2025 -
Geger, Penemuan Bayi di Lubang Bekas Septic Tank di Wonoharjo Tanggamus
Selasa, 30 Desember 2025 -
Aksi Premanisme Hantui Wisata Pantai Tanggamus Jelang Tahun Baru, Pengunjung dan Pelaku Usaha Resah
Selasa, 30 Desember 2025 -
Razia 'Sembunyi-sembunyi' di Kotaagung Dikeluhkan, Sejumlah Pengendara Alami Insiden Jatuh
Senin, 29 Desember 2025
Ia melihat makin banyak buah kakao yang berbintik hitam dan hampir membusuk. Tak ada pilihan lain, ia terpaksa memetik satu demi satu kakao yang bergantung di dahan, meski belum benar-benar siap panen. Soalnya, jika tidak, kemungkinan besar biji-biji kakao itu tidak akan bisa dijual.
Wahono sudah melakukan berbagai upaya, namun serangan penyakit PBK (penggerek buah kakao) serta serangan virus pada batang dan daun, semakin ganas menggerogoti batang dan buah kakao.
“Kami harus memanen dengan cepat, sebelum busuk. Dengan begitu, kami berharap masih bisa dapat beberapa kilo,” kata Wahono, Kamis (9/1/2020).
Lelaki paruh baya ini adalah salah satu dari ratusan ribu petani kakao di Kabupaten Tanggamus yang telah memilih kakao sebagai mata pencaharian utama.
Jika harga tinggi dan produksi stabil seperti 5--10 tahun lalu, bisa dibayangkan betapa berbahagianya para petani kakao di desa-desa subur tersebut sekarang ini.
Sayangnya, produksi kakao di Pesanguan, di desa tempat tinggal Wahono menurun drastis sejak beberapa tahun belakangan ini. Beragam kendala teknis dan perilaku petani serta rentannya pohon terserang penyakit sangat mengkhawatirkan berbagai kalangan.
“5 sampai 10 tahun adalah masa jayanya petani kakao. Pasca krisis ekonomi tahun 1997-1998 harga kakao melonjak tinggi karena mengikuti harga pasar internasional. Rupiah anjlok, petani kakao saat itu berpesta pora. Dampak krisis tersebut memang dinikmati dengan pendapatan yang berlipat-lipat. Banyak petani kakao yang berhasil menunaikan ibadah haji dan status sosialnya meningkat,”ucapnya.
Ketika produksi menurun harga melambung selangit di pasar internasional membuat meradang para petani yang mempunyai hektara lahan kakao. Produksi yang hanya satu-dua karung pupuk menutup pengeluaran dan pemeliharaaan tanaman yang selangit. Saat itu harga kakao kering sudah melewati angka Rp28 ribu per kilogram, sementara produksi kakao anjlok.
Saat ini dan seperti bulan-bulan sebelumnya karena penggerek buah kakao yang tak bisa diredam maka penghasilan besar tinggal kenangan.
“Sekarang ini, setiap hektar tanaman kakao saya paling Cuma dapat sepuluh kilo. Beda dengan dulu. Kakao sekarang sudah bukan andalan petani lagi, nasib petani kakao akan sama nanti dengan petani kopi yang sudah sulung tikar,” kata Wahono. (*)
- Penulis : Sayuti
- Editor :
Berita Lainnya
-
Selasa, 30 Desember 2025Jembatan Gantung Garuda Resmi Difungsikan, Warga Pekon Umbar Tanggamus Tak Lagi Terisolasi
-
Selasa, 30 Desember 2025Geger, Penemuan Bayi di Lubang Bekas Septic Tank di Wonoharjo Tanggamus
-
Selasa, 30 Desember 2025Aksi Premanisme Hantui Wisata Pantai Tanggamus Jelang Tahun Baru, Pengunjung dan Pelaku Usaha Resah
-
Senin, 29 Desember 2025Razia 'Sembunyi-sembunyi' di Kotaagung Dikeluhkan, Sejumlah Pengendara Alami Insiden Jatuh









