• Jumat, 10 April 2020

Bapak Bangsa

Selasa, 04 Februari 2020 - 07.21 WIB - 23

Zainal Hidayat, S.H

Bung Kupas - Salahuddin Wahid atau biasa disapa Gus Sholah memiliki kharisma yang luar biasa. Selain dikenal sebagai seorang ulama, ia juga dikenal sebagai cendekiawan, negarawan bahkan seorang pembuat puisi yang ulung dan sangat menyentuh hati.

Kepergian Gus Sholah pada Minggu (2/2/2020) pukul 20.55 WIB, mengagetkan seluruh warga di negeri ini. Indonesia kehilangan lagi seorang putera terbaiknya yang sangat religius, tokon nasional dan tokoh pendidikan.

Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng ini dikenal sebagai sosok kiai yang punya integritas. Gus Sholah juga merupakan figur yang idealis, jujur dan sederhana.

Gus Sholah dikenal sebagai sosok yang memiliki pembawaan tenang dan punya prinsip. Ia ikhlas dan tanpa pamrih. Gus Sholah juga merupakan kiai yang rutin menulis.

Gus Sholah ibarat obor yang selama ini tak henti menyalakan semangat perdamaian dan kerukunan antarwarga bangsa. Berpulangnya Gus Sholah merupakan kehilangan besar bagi bangsa ini.

”Beliau adalah salah satu tokoh yang merupakan obor persatuan. Ketika obor padam, sulit sekali dicari penggantinya. Ini kehilangan yang besar. Beliau selama hidupnya banyak memberikan teladan persatuan, kerukunan tanpa membeda-bedakan, termasuk dengan umat beragama lain,” kata Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Helmy Faishal Zaini mengenang sosok Gus Sholah.

Dengan gaya bicara yang santun, Gus Sholah diterima hampir semua kelompok, baik politik, konservatif, maupun liberal, di tubuh NU. Bahkan, beliau sering menjadi mediator untuk menyambungkan para kiai yang berbeda pandangan.

Saya masih teringat untaian kata-kata penuh makna puisi Gus Sholah berjudul “Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana”.  Penuh makna dan sangat menyentuh jiwa. Selamat jalan Bapak Bangsa, semua pesan, ilmu dan nasihat-nasihatmu akan jadi panutan sepanjang massa. (*)

  • Editor :