• Minggu, 05 Juli 2020

Bisnis RS Melejit di Lampung, Ada Tambahan 29 Rumah Sakit

Senin, 24 Februari 2020 - 07.43 WIB
612

RS Imanuel Bandar Lampung. Foto: Ist

Sri

Bandar Lampung - Bisnis rumah sakit di Provinsi Lampung tumbuh subur. Ada penambahan sebanyak 29 rumah sakit selama 8 tahun terakhir, terhitung sejak 2012-2019.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah rumah sakit di seluruh Indonesia sebanyak 2.813 unit hingga akhir 2018. Jumlah tersebut terdiri atas 2.269 RS umum dan 544 RS khusus. Kementerian Kesehatan juga mencatat, pertumbuhan profit/keuntungan RS swasta lebih agresif dibandingkan rumah sakit milik pemerintah. Rata-rata pertumbuhan profit RS swasta sebesar17,3%, sementara RS milik pemerintah sebesar 7,7%.

Untuk jumlah rumah sakit di Provinsi Lampung juga terus meningkat setiap tahunnya. Data Kementerian Kesehatan mencatat pada tahun 2012 hanya ada 48 rumah sakit di Provinsi Lampung, lalu pada tahun 2013 naik 49 rumah sakit dan 2014 bertambah 52 rumah sakit.

Selanjutnya, pada 2015 naik menjadi 60 rumah sakit, 2016 bertambah 62 rumah sakit, 2017 ada 71 rumah sakit, 2018 masih sama 71 rumah sakit dan 2019 hingga bulan Maret sebanyak 77 rumah sakit (lengkap lihat tabel). Kementerian Kesehatan juga mencatat Provinsi Lampung masuk kedalam 10 besar provinsi paling banyak memiliki rumah sakit.


Kepala Seksi Promosi Kesehatan (Pomkes) Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Medialisna menjelaskan, pelayanan orang sakit kini menjadi bisnis yang menjanjikan. Sehingga jumlah rumah sakit yang ada di Provinsi Lampung terus melakukan penambahan ruangan dan munculnya sejumlah rumah sakit swasta baru serta klinik kesehatan.

"Banyak faktor kenapa rumah sakit terus melakukan penambahan ruangan, salah satunya adalah rumah sakit merupakan bisnis yang cukup menjanjikan," ujar Medialisna, baru-baru ini.

Ia mencontohkan, sejumlah rumah sakit swasta di Bandar Lampung yang terus melakukan pengembangan dan penambahan ruangan rawat inap. “Seperti Rumah Sakit Urip Sumoharjo, Rumah Sakit Advent, Rumah Sakit Imanuel dan masih banyak rumah sakit swasta lainnya yang juga terus menambah ruangan,” ungkapnya.

Ia membeberkan, pasien rumah sakit terus bertambah seiring dengan semakin banyaknya penderita penyakit tidak menular seperti jantung, demam berdarah, kolesterol, hipertensi dan beberapa penyakit tidak menular lainya yang disebabkan pola hidup yang tidak sehat.

"Saat ini banyak sekali restoran junkfood, fastfood (makanan cepat saji) di Bandar Lampung yang memang tidak sehat. Inilah yang salah satunya memicu jumlah pasien penyakit tidak menular di Lampung juga ikut bertambah," imbuhnya.

Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Bandar Lampung mencatat, dari tahun 2018 sampai 2019, baru ada penambahan dua rumah sakit di Kota Bandar Lampung, yakni Rumah Sakit Bumi Waras di Kecamatan Bumi Waras yang masih dalam proses pembangunan dan Rumah Sakit Unila yang juga dalam proses pembangunan.


Diskes Kesehatan mencatat hingga saat ini ada 21 rumah sakit yang terdata pada tahun 2019 (lengkap lihat tabel). “RS Bumi Waras yang baru dan RS Unila masih dalam proses pembangunan. Namun sampai saat ini belum tahu kapan diresmikannya. Jadi memang pertumbuhan RS di Bandar Lampung ini cukup pesat,” kata Kasi Rujukan Diskes Bandar Lampung, Hartono Sipayung, Minggu (23/2).

Ia menambahkan, untuk RS Shinta saat ini masih melakukan renovasi atau penambahan sarana dan prasarana. “Pihak RS Shinta menginformasikan jika mereka sedang renovasi,” terangnya.

Sementara itu, Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin di Jalan Pramuka, Bandar Lampung dalam satu hari bisa melayani hingga 300 pasien BPJS kesehatan yang melakukan rawat jalan.

"Jadwal praktek dokter berpengaruh dengan jumlah pasien BPJS yang berobat setiap harinya," kata Dian, petugas pendaftaran pasien BPJS Kesehatan di RS Pertamina Bintang Amin, Sabtu (22/2).

Kalau hari Sabtu, pasien BPJS Kesehatan yang berobat tergolong sepi karena hanya terdapat lima dokter yang praktek yakni, dokter urologi, dokter gigi, dokter bedah, dokter jaga instalansi gawat darurat (IGD) serta dokter HDL."Sampai dengan jam 16.00 WIB, pasien BPJS yang terdaftar untuk berobat hanya ada 150 orang," imbuhnya. Namun, lanjut dia, pada Senin hingga Jumat pasien yang berobat menggunakan fasilitas BPJS kesehatan mengalami kenaikan yang signifikan hingga seratus persen.

“Jika dihari libur hanya terdapat 150 pasien, maka akan berbeda dengan hari kerja yang mencapai hingga 300 pasien setiap harinya. Karena hari Senin sampai Jumat dokter yang praktek cukup lengkap, sehingga pasien yang berobat pun ramai," jelasnya.

Ia menambahkan, pelayanan yang diberikan kepada pasien umum dan BPJS Kesehatan tidak ada perbedaan. Menurutnya, semua dilayani sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Di tempat terpisah, Kepala Bagian (Kabag) Humas RS Advent, Otot Sudarmono mengatakan, setiap harinya RS Advent menerima sekitar 500 pasien baik BPJS Kesehatan dan umum yang melakukan rawat jalan.

"Kurang lebihnya pasien yang rawat jalan sekitar 500 orang. Sementara yang dirawat inap ada 70 pasien setiap hari,” kata dia. Ia melanjutkan, untuk peserta yang memakai BPJS Kesehatan, pihak rumah sakit tidak memberikan pelayanan yang berbeda.

Otot mengungkapkan, untuk pelayanan yang dilakukan oleh rumah sakit terhadap pasien, yang menilai adalah masyarakat.

"Ya kalau dari rumah sakit, ya tentu baik pelayanannya, bisa dilihat sendiri dan dicek pada masyarakat. Tapi kalau yang pasti pelayanan itu masyarakat yang menilai," pungkasnya. (Ria/Sri)

Editor :