• Selasa, 07 Juli 2020

Alumni Magister Manajemen UBL Curhat Soal Covid-19. Dari Profesi PNS, Polisi, Hingga Pengusaha

Sabtu, 06 Juni 2020 - 18.32 WIB
92

Alumni S2 Magister Manajemen Universitas Bandar Lampung (UBL) angkatan 64 berbagi cerita seputar wabah covid-19 di Studio Podcast Kupas Tuntas, Sabtu (6/6/2020).Foto:Tampan Fernando

Bandar Lampung-Alumni S2 Magister Manajemen Universitas Bandar Lampung (UBL) angkatan 64 berbagi cerita seputar wabah covid-19 di Studio Podcast Kupas Tuntas, Sabtu (6/6/2020).

Diskusi yang dipandu Dirut SKH Kupas Tuntas Donald Harris Sihotang ini berlangsung hangat, seru, kadang-kadang lucu hingga pecah tawa.

Pengalaman selama pandemi ini disampaikan dari berbagai profesi, mulai dari Perwira Polisi, PNS hingga pengusaha transportasi. Dan semuanya mengaku tidak luput dari dampak pandemi yang telah terjadi sejak awal tahun 2020 ini.

Seperti yang disampaikan Jack Kevin, seorang pengusaha kapal di Provinsi Lampung. Ia mengatakan dampak pandemi sangat berpengaruh pada bisnis transportasi karena adanya pembatasan sosial di semua wilayah. Maka angkutan kapal juga jelas terdampak secara langsung. 

“Kalau pengaruh sudah pasti, kegiatan kita menurun hingga 60 persen imbas covid-19 ini, bahkan kapal ekspor batubara juga berkurang,” kata dia. 

Tak hanya soal muatan, prosedur di lingkungan kerjanya pun berubah seiring penerapan protocol kesehatan. Meski dalam kondisi sulit, Kevin bersyukur hingga kini di perusahaannya belum ada PHK. Semua karyawan diupayakan tetap bekerja meski jam kerjanya dikurangi. 

“Harapan kami bulan Juli ini angkutan kapal untuk batubara sudah mulai naik lagi, karena batubara yang kami angkut untuk PLN dan mulai bulan ini kuotanya sudah naik lagi,” jelasnya.

Alumni MM UBL lainnya, Reza Yusa juga mengatakan hal serupa. Reza yang berprofesi sebagai PNS juga terdampak dalam pekerjaan, karena sebelumnya para aparatur sipil Negara sempat diwajibkan bekerja dari rumah atau work from home. Tentunya di lingkungan Pemda banyak penyesuaian sesuai ketetapan dari pemerintah pusat dan dari kepala daerah masing-masing. 

“Meski banyak perubahan, tapi pelayanan kepada masyarakat kan harus tetap berjalan,’ kata dia. 

Reza yang sehari-hari bertugas di Dinas Lingkungan Hidup ini mengatakan, tugas Satuan Kerjanya adalah melakukan pengecekan lapangan untuk pengajuan izin yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Baik berupa izin Amdal, izin bangunan dan sebagainya. Maka solusi yang dilakukan agar tetap menerapkan protocol kesehatan yaitu memaksimalkan layanan virtual berbasis online. 

“Kalau untuk rapat-rapat kita lakukan secara virtual. Kalau ada yang mau mengajukan izin tetap kami proses karena pelayanan harus tetap jalan. Di masa covid ini, tim tetap turun ke lapangan tapi dengan SOP dan protocol kesehatan. Misalnya personelnya bisa dengan perwakilan saja,” kata dia. 

Sementara AKBP Rahmad Hidayat juga bercerita serupa. Polisi menjadi salah satu garda terdepan dalam mengantisipasi peredaran virus corona. Maka polisi juga sangat berpotensi terpapar virus mematikan tersebut. Lantas apa yang dilakukan?

Rahmad mengatakan, setiap satuan Polri sudah ada SOP dalam pelayanan masyarakat di masa pandemi. Polisi juga sudah membagi personelnya agar tugas pokok tetap berjalan dan tugas dalam pengamanan di masa pandemic juga berjalan.

“Seperti anggota yang bertugas di perbatasan daerah mereka itu tergabung dalam Satgas Covid, pembagian tugasnya juga sudah jelas jadi nggak masalah. Kami tetap menjalankan tugas pokok,” kata dia. 

Dalam memberikan imbauan kepada masyarakat, Rahmad mengatakan agar polisi tetap humanis. Sehingga imbauan itu bisa sampai dan dilaksanakan oleh warga. 

“Kita tetap mengimbau agar masyarakat jangan ‘masa bodoh’ dengan virus ini, karena kalau satu orang kena, semua keluarganya kan bisa kena juga. Kita selalu sampaikan imbauan karena kita tidak mau korban di masyarakat terus bertambah,” tandasnya. 

Di akhir diskusi, ketiga narasumber ini akhirnya membahas soal wisuda mereka yang masih tertunda akibat covid-9.

Seharusnya alumni Magister Manajemen UBL angkatan 64 wisuda pada 22 April 2020 lalu, namun hingga kini belum ada kabar kapan wisuda itu akan terlaksana. 

Donald Sihotang pun menanyakan mereka, bagaimana jika wisuda angkatan mereka nantinya terpaksa digelar secara virtual tanpa bertatap muka? ternyata ketiganya kompak menjawab ‘kalau bisa jangan’. 

“Itu hal yang baru dan agak aneh, karena prosesi wisuda itu kan sakral, yang harus diabadikan momennya. Kalau virtual dari rumah masing-masing kita hanya di ruangan kita sendiri tidak merasakan aura dan energi itu. Kalau bisa jangan,” kata Reza. 

“Ya sama, kalau bisa jangan, karena kita akan kehilangan momen-momen berharga itu,” timpal Kevin. 

“Artinya itu momentum yang kita tunggu. Kita masih ada hubungan emosional dengan rektor dan teman-teman, kita bisa bersenda gurau. Kalau wisuda daring kebersamaan itu nggak ada, itu hilang kesannya,” kata Rahmad menutup. (*)