• Sabtu, 15 Agustus 2020

Jalan Utama Penghubung Pekon Sampang Turus Tanggamus Rusak dan Butuh Perbaikan

Kamis, 02 Juli 2020 - 20.30 WIB
18

Kondisi jalan utama yang menghubungkan Sampang Turus, Kecamatan Wonosobo, Tanggamus. Foto: Sayuti/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Tanggamus - Warga Pekon Sampang Turus, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus, harus bertaruh nyawa menempuh perjalanan di jalan yang rusak, dan menyeberangi sungai yang tak kunjung dibangun jembatan.

Kehidupan warga Pekon Sampang Turus ini bak pepatah 'Tikus Mati di Lumbung Padi'. Bagaimana tidak, di tengah tanah yang subur dan hasil bumi melimpah seperti padi, kelapa, pisang, pepaya California, durian, duku, kakao, kopi, lada dan sebagainya, tapi kehidupan warganya tetap tidak sejahtera, boleh dibilang miskin dan tertinggal.

Satu-satunya jalan utama yang menghubungkan Sampang Turus dengan 'dunia luar' seringkali ‘hilang’ tertutup lumpur atau tersapu aliran sungai yang semakin deras saat hujan turun.

Ironisnya lagi, tiga dari empat sungai di jalan utama tersebut, belum dibangun jembatan, bahkan satu-satunya jembatan beton diatas Way Gernuk, yang ambruk dihantam banjir pada bulan Maret lalu. Meski demikian, warga tetap menerabas jalan rusak dan sungai tak berjembatan meski sungai sedang meluap (banjir). Mereka bertaruh nyawa agar 'periuk di rumah tetap ngebul'.

Jalan penghubung Sampang Turun ke Pekon Sumur Tujuh dan Pasar Wonosobo itu memang timbul tenggelam sesuai dengan kondisi cuaca. Muhamad Sujata, tokoh masyarakat Sampang Turus menjelaskan, jalan yang hancur lebur, mirip kubangan kerbau saat musim penghujan, berdebu dan dipenuhi batu onderlagh saat kemarau, serta tak ada jembatan di sungai. Kondisi itu akhirnya berdampak banyak terutama bagi proses pendidikan, kesehatan, dan perekonomian warga.

”Kalau musim hujan, jalan penghubung ini bisa tertutup total lumpur dan air. Sungai tidak bisa diseberangi. Akses ke sekolah, fasilitas kesehatan, atau perekonomian otomatis tertutup, karena tidak mungkin menyebrang,” kata Muhamad Sujata, Kamis (2/7).

Roni (41), warga lainnya menuturkan, selama bertahun-tahun kondisi itu tidak berubah banyak. Tidak ada sama sekali jembatan penghubung yang bisa digunakan, saat sungai meluap menutup jalan. Selama ini, warga hanya bisa melintas ketika air surut meskipun jalan tidak sepenuhnya kering.

Kondisi itu, diakuinya sangat memprihatinkan, terutama bagi para pelajar yang terpaksa tidak berangkat ke sekolah ke Wobosobo.

"Mereka terpaksa tidak ke sekolah, karena memang tidak bisa memaksakan diri. Arus sungai saat banjir deras sekali, bahkan pernah ada yang nekat menyeberang tapi motornya malah hanyut terbawa arus,” katanya.

Tak hanya bagi pelajar, warga juga mengkhawatirkan jika ada warga yang sakit atau hendak melahirkan. Pasalnya, benar-benar tidak ada jalur aman yang bisa dilalui pada keadaan darurat sekalipun.

Warga tiap harinya bertaruh nyawa melawan arus sungai yang beresiko, untuk bisa sampai ke tempat kerja maupun kembali ke kampung usai beraktivitas, utamanya bagi anak sekolah usai menuntut ilmu.

Sebelum tiba di tepi sungai, warga sudah berjibaku melewati jalan tanah yang rusak. Tak sedikit diantara mereka yang kelelahan karena beratnya medan jalan yang dilalui.

Bahkan jika ada warga yang sakit dan perlu di bawa ke rumah sakit, warga di sini akan bergotong royong saling membantu untuk mengantar tetangganya untuk berobat melewati jalan yang rusak dan menyeberang sungai yang banjir.

Saat sungai banjir, sejumlah warga tetap nekat menyeberangi sungai dengan sepeda motor yang sarat membawa hasil bumi harus digotong bersama-sama menyeberang sungai. (*)