• Rabu, 05 Agustus 2020

Penjaga Gedung Walet Asal Bandung Jadi Pelatih Pembuat Gitar di Lamtim

Minggu, 05 Juli 2020 - 15.49 WIB
75

Baim (tengah), saat mengajari tehnik membuat gitar terhadap pemuda karang taruna di Lamtim. Foto: Agus/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Lampung Timur - Baim, seorang seniman musik asal Bandung, Jawa Barat, menjadi pelatih anak-anak karang taruna di Desa Braja Indah, Kecamatan Braja Selebah, Kabupaten Lampung Timur (Lamtim), baik dalam pembuatan gitar maupun dalam memainkannya.

Kepala Desa Braja Indah, Syarif Hikayat menjelaskan, awalnya Baim seorang penjaga gedung walet yang memiliki kelebihan dalam pembuatan gitar dan penguasaan permainan alat musik tersebut. Dengan bakat itu, Syarif mengajak Baim untuk tinggal di rumahnya, dengan tujuan biar Baim bisa menyalurkan ilmunya kepada anak-anak karang taruna.

"Awalnya kami merasa prihatin dengan kang Baim, orang yang memiliki potensi luar biasa namun hanya menunggu gedung walet," kata Syarif, Minggu (5/7/2020).

Setelah diajak Kepala Desa, dalam waktu tiga bulan, Baim sudah menghasilkan puluhan gitar. Selain itu pemuda karang taruna juga mendapatkan ilmu dalam membuat gitar dan memainkannya.

Syarif berharap kedepannya Desa Braja Indah menjadi desa yang bisa memproduksi gitar. Syarif mengakui gitar buatan Baim sangat digandrungi oleh penghobi gitar sekitaran Lampung Timur. Bahkan karya dari tangan Baim saat ini sudah tembus pasar antar Provinsi, seperti Pekanbaru, Jawa Barat dan Palembang.

"Banyak sekali anak-anak muda yang belajar bermain gitar dengan Kang Baim," terang Syarif.

Sementara itu, Baim menjelaskan, untuk membuat satu gitar membutuhkan waktu satu hari. Kayu yang menjadi bahan jenis kayu sono keling, pule dan mahuni.

"Fokus saya bukan untuk memproduksi, tapi lebih mengajari pemuda karang taruna," ujar Baim.

Baim mengaku dari Bandung, Jawa Barat, tiba di Lampung Timur awalnya dirayu oleh seorang pengusaha walet akan dimodali untuk membuat gitar, namun kenyataannya setelah tiba di Lampung Timur, Baim hanya dipekerjakan sebagi penunggu gedung walet.

"Makanya saya sudah membawa peralatan untuk membuat gitar. Untung saja ketemu pak lurah, terus saya diajak gabung," pungkasnya. (*)