• Selasa, 11 Mei 2021

Kebun Sawit Jadi Galian Pasir, Sisakan Kerusakan Lingkungan

Sabtu, 10 April 2021 - 14.27 WIB
59

Bekas kebun sawit menjadi lahan galian pasir, dan saat ini diubah menjadi lahan persawahan. Foto: Agus/Kupastuntas.co

 Kupastuntas.co, Lampung Timur - Suara mesin eskavator meraung di bawah terik matahari siang itu, Rabu (7/4/2021). Alat pengeruk eskavator terus mengurai tanah di sebuah peladangan sawit milik warga di Lampung Timur.

Dua unit mobil dump truck hilir mudik dari lokasi pengerukan tanah untuk ditimbunkan pada sebuah kubangan bekas tambang pasir.

Sepanjang mata memandang, yang ada sebuah pemandangan kerusakan alam yang sudah menyerupai danau. Air tampak tenang, namun kedalaman air tersebut cukup membahayakan, terutama kepada anak anak. Sebab kedalaman kubangan-kubangan itu mencapai 4 hingga 6 meter.

Disela-sela kubangan yang luas, masih sedikit tersisa kebun sawit yang seolah tidak lagi terawat. Sebagian kebun sawit sudah sirna menjadi lahan tidak berfungsi yang menyerupai danau dengan luas puluhan hektar. Sebab pemilik kebun sudah mengalihkan lahan nya untuk dijadikan objek Galian C.

"Memang dulu sebagian kebun sawit, karena harga dan produksi yang tidak seimbang dengan modal dan perawatan, maka pemilik mengeruk pasir nya," ucap Sutarwo, warga Lampung Timur.

Sutarwo mengaku bekas galian pasir yang dimilikinya, awalnya berupa kebun sawit, namun saat ini dirinya berusaha memperbaiki kembali kubangan bekas galian pasir untuk diolah menjadi lahan persawahaan yang kedepannya akan ditanami padi.

"Ya sekarang baru sadar bahwa bekas galian pasir menyisakan sebuah lahan tidak bermanfaat dan berdampak pada lingkungan yang buruk," ungkap Sutarwo.


Dirinya juga mengakui, masih tersisa sedikit kebun sawit yang akan ditumbangkan pohon-pohon sawitnya. Tetapi bukan untuk objek galian C, melainkan akan dijadikan sebagai lahan persawahan.

"Nanti pohon-pohon sawit akan saya timbunkan pada bekas galian pasir, dan berikut tanah yang perlu kami keruk akan kami manfaatkan untuk menimbun kubangan pasir," terang Sutarwo.

Sehingga Sutarwo telah mengubah tiga kali pemanfaatan lahan, dari kebun sawit menjadi galian pasir. Selanjutnya di timbun lagi dijadikan persawahaan. Ramai-ramainya tambang pasir di Pasir Sakti ini sekitar tahun 2012.

"Tapi masih banyak sih yang belum diperbaiki (bekas galian pasir) oleh pemiliknya, karena memang butuh modal besar," ucap Surtarwo.

Seperi yang diakui Sutarwo, untuk merubah satu hektar bekas galian C menjadi persawahan membutuhkan dana Rp200 juta, dan itu tanpa campur tangan pemerintah.

"Mungkin kalau dulu harga sawit bisa stabil, tapi di Pasir Sakti ini masih banyak kebun sawit dan tidak dialihkan untuk tambang pasir," terang Sutarwo. (*)


Video KUPAS TV : KELILING OBJEK WISATA TULANG BAWANG BARAT, PENGUNJUNGNYA MENINGKAT PESAT