• Rabu, 01 Desember 2021

TAJUK - Lonjakan Covid Itu Nyata

Rabu, 04 Agustus 2021 - 23.45 WIB
58

Tajuk. Foto: Doc/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co - Jumlah kasus baru harian Covid-19 di Lampung kembali melonjak, bahkan mencatat rekor baru selama pandemi Covid-19 sejak Maret 2020. Kemarin, dalam satu hari bertambah sebanyak 717 kasus. Total konfirmasi positif Covid-19 di Lampung saat ini mencapai 37.136 kasus.

Angka ini tinggi karena semakin banyak Kabupaten yang menjadi penyumbang kenaikan kasus baru.

Berdasarkan data yang dirilis oleh posko satgas penanganan Covid-19 Provinsi Lampung, Rabu (4/8), terjadi penambahan sebanyak 717 kasus yang tersebar di 14 kabupaten/kota. 615 kasus bergejala dan 102 kasus tidak bergejala.

Jumlah kasus tertinggi dari Kabupaten Lampung Timur sebanyak 119 kasus, dan terendah Tulang Bawang sebanyak 3 kasus. Bandar Lampung 106 kasus, Lampung Selatan 117, Lampung Utara 98, Metro 24, Tulangbawang Barat 12, Mesuji 22, Tanggamus 40.

Berikutnya, Pringsewu 44 kasus, Pesawaran 38, Pesisir Barat 7, Lampung Barat 27 dan Way Kanan 60. Lampung Tengah 0.

Kasus kematian juga mengalami penambahan sebanyak 70 kasus sehingga totalnya menjadi 2.422. Kematian di Kabupaten Pringsewu 14, Bandar Lampung 11, Lampung Selatan 7, Lampung Utara 3, Metro 1, Tulang Bawang 3, Tulangbawang Barat 3, Mesuji 4, Pringsewu 14, Pesawaran 3 dan Way Kanan 4.

Provinsi Lampung sendiri memiliki 36 rumah sakit rujukan dengan kapasitas tempat tidur mencapai 2.011 unit. Saat ini tersisa 556 unit yang belum terpakai. Tiga rumah sakit dalam keadaan penuh atau terpakai 100 persen. Yakni, RS A.Dadi Tjokrodipo dengan kapasitas 20 unit tempat tidur, RS Imanuel 42 unit dan RS Bumi Waras 38 unit.

Dari keseluruhan kasus Covid-19 saat ini, sekitar 30 persen adalah kasus tanpa gejala dan tanpa kematian. Sementara sekitar 55 persen dengan gejala ringan-sedang, juga tanpa kematian.

Angka ini tidak bisa kita anggap remeh. Kita pantas khawatir penambahan bakal terus terjadi. Apalagi dalam sejumlah pemberitaan, warga di daerah-daerah masih belum begitu terbuka terhadap petugas kesehatan. Kesadaran akan ancaman penularan Covid-19 belum benar-benar tertanam dalam benak warga.

Tidak sedikit warga kelas bawah yang masih punya pendirian bahwa hidup mati ada di tangan Tuhan. Mengikuti protokol kesehatan atau tidak, bila sudah waktunya, akan mati juga. Model seperti ini menjadi pekerjaan rumah gugus tugas di daerah maupun pusat.

Selain itu kenaikan jumlah kasus karena semakin masifnya tes swab polymerase chain reaction (PCR) tidak bisa menjadi alasan untuk menetralkan kekhawatiran apalagi melemahkan kewaspadaan.

Harus diakui penyebaran Covid-19 merata. Hal paling mudah dan jelas adalah karena kesadaran masyarakat masih rendah. Kebiasaan baru memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak atau mengurangi aktivitas di luar rumah memang mulai terlihat, namun belum serempak dan terjadi di seluruh pelosok negeri. (*)