• Minggu, 27 November 2022

Jokowi Bantah Isu Pertalite Naik: Masih Dikalkulasi

Kamis, 01 September 2022 - 11.41 WIB
195

Foto: Ist.

Kupastuntas.co, Nasional - Presiden Joko Widodo (Jokowi) membantah terkait isu yang tersebar bahwa harga BBM Pertalite dan Pertamax naik hari ini, Kamis 1 September 2022.

Presiden Jokowi menegaskan bahwa terkait harga BBM, saas ini masih dalam proses perhitungan dengan kehati-hatian.

"Masih dikalkulasi dengan hati-hati," kata Jokowi, saat meresmikan teknologi 5G mining di Tera Shop, Tembagapura, Mimika, Papua, Kamis (1/9/2022).

Sebelumnya, Pemerintah berencana menaikkan harga BBM, khususnya jenis Pertalite Subsidi diperkirakan di harga Rp10.000 per liter dari sebelumnya Rp7.650 per liter, dan Solar Subsidi diperkirakan di harga Rp7.200 per liter dari sebelumnya Rp5.150 per liter.

Bahkan dengan adanya isu tersebut, beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kota Bandar Lampung dipenuhi antrean kendaraan roda dua maupun roda empat.

Dari pantauan kupastuntas.co di SPBU Jalan Jendral Ahmad Yani, SPBU Flyover MBK dan SPBU jalur dua Sultan Agung, kendaraan roda empat sampai memakan bahu jalan demi memperoleh BBM.

Nurahma, salah satu warga Bandar Lampung mengaku, telah lama antre untuk membeli BBM jenis pertalite.

"Mumpung hari ini belum naik, makanya saya mengisi full tank," ucapnya, saat mengisi pertalite di Pom Bensin di Jalan Jendral Ahmad Yani, Rabu (31/8/2022).

Sementara Pengamat Ekonomi Universitas Lampung (Unila), Usep Syaifuddin menilai, kenaikan harga BBM subsidi saat ini dirasa belum tepat.

"Kebijakan yang berisiko, karena akan menambah beban masyarakat, khususnya yang berpenghasilan rendah," ujar Syaifuddin.

Jika harga BBM naik lanjutnya, akan banyak harga-harga komoditas lain akan naik, sehingga memicu inflasi. "Dampak yang paling utama tentu daya beli masyarakat akan turun," ungkapnya.

Senada, Pengamat Ekonomi Unila, Asrian Hendi Caya mengatakan, pertalite dan solar merupakan kebutuhan masyarakat, maka kenaikan kedua BBM tersebut akan berdampak pada mobilitas orang dan barang.

Menurutnya, BBM merupakan komoditas strategis karena dampaknya yang luas pada aktivis sosial dan ekonomi. Artinya dorongan untuk percepatan pemulihan akan mendapat tantangan dengan beban ekonomi akibat kenaikan BBM.

"Begitu juga dengan semangat bangkit lebih kuat akan terkendala dengan menurunnya aktivis ekonomi karena beban biaya akibat kenaikan BBM," pungkasnya. (*)


Video KUPAS TV : Polri Merilis Animasi Rekonstruksi Pembunuhan Brigadir J