BPBD: 71 Bencana Terjadi di Lampung Dengan Kerugian Rp 632 Juta
Bencana banjir dan longsor di Lampung Barat Maret 2023 yang lalu. Foto: Dok Kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Badan Penanggulangan Bencana
Daerah (BPBD) Provinsi Lampung mencatat sepanjang Januari hingga November 2023
terdapat 71 laporan bencana yang terjadi di daerah setempat.
Sekretaris BPBD Provinsi
Lampung, Indra Utama mengatakan, jika dari jumlah 71 bencana yang
terjadi tersebut untuk total kerugiannya sendiri mencapai Rp632 juta.
"Sepanjang Januari hingga November 2023 kami menerima
laporan ada 71 bencana. Dimana yang paling mendominasi adalah angin kencang,
angin puting beliung, banjir, tanah longsor, dan kebakaran lahan," katanya
saat dimintai keterangan, Rabu (3/1/2024).
Ia mengatakan jika pada tahun 2023 kemarin pihak nya menerima
laporan adanya kebakaran lahan sebanyak 29 laporan. Dimana untuk laporan
terkait kebakaran lahan paling banyak terjadi pada bulan September.
"Ini salah satunya dipengaruhi oleh adanya fenomena El
Nino. Dimana untuk kebakaran lahan pada September terjadi di Mesuji, Pesawaran,
Pesisir Barat, Way Kanan, Lampung Barat dan Lampung Timur," jelasnya.
Sementara itu untuk bencana alam berupa angin kencang ada 13
laporan. Dimana daerah yang paling mendominasi adalah Kabupaten Mesuji Lampung
Selatan, Lampung Timur, Lampung Barat, Tulang Bawang, Lampung Tengah dan
Tulangbawang Barat.
"Selanjutnya untuk bencana banjir ada 12 laporan yang
terjadi di Tanggamus, Lampung Selatan, Mesuji, Lampung Timur, Lampung Tengah,
Tulang Bawang, Tulangbawang Barat, dan Pesisir Barat," paparnya.
Kemudian untuk angin puting beliung terdapat 10 laporan yang
terjadi di Kabupaten Tulang Bawang, Tanggamus, Lampung Timur, dan Lampung
Selatan. Sementara tanah longsor ada 8 laporan yang terjadi di Tanggamus, Way
Kanan, dan Lampung Selatan.
Sementara kru Kepala BPBD Provinsi Lampung, Rudy Sjawal
Sugiarto, menjelaskan jika upaya yang dilakukan untuk meminimalisir korban jiwa
ketika terjadi bencana ialah dengan mitigasi bencana.
"Seluruh wilayah yang ada di Lampung berpotensi terjadi
bencana mulai dari banjir dan tanah longsor," kata dia.
Rudy menjelaskan jika lokasi mitigasi bencana yang menjadi
prioritas ialah di lingkungan sekolah. Hal tersebut mengingat bencana yang bisa
datang sewaktu-waktu dan sekolah menjadi tempat yang paling rawan.
"Sekolah jadi lokasi yang harus diperhatikan jika
terjadi bencana. Karena ketika bencana datang khawatir nya anak-anak sedang
belajar dalam ruangan. Sehingga mereka harus tahu sejak dini seperti apa
penyelamatan pertama," jelasnya.
Ia menjelaskan jika mitigasi bencana merupakan salah satu
langkah untuk melakukan penyelamatan sejak dini sehingga anak-anak dan guru
tahu apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana alam.
"Bencana yang sering tidak terduga itu kan gempa bumi.
Kita sudah mulai melakukan mitigasi di semua jenjang sekolah dan daerah yang
menjadi prioritas adalah ketujuh daerah yang rawan tadi," katanya. (*)
Berita Lainnya
-
Universitas Teknokrat Gelar Kajian Ramadhan di Roblox, Dakwah Digital Berbasis Metaverse
Sabtu, 14 Maret 2026 -
PLN UID Lampung Siap Amankan Kelistrikan Ramadan dan Idul Fitri 2026, Siagakan 106 Posko dan Ribuan Personel
Sabtu, 14 Maret 2026 -
Kupas Tuntas Grup Gelar Buka Puasa Bersama, Perkuat Solidaritas dan Adaptasi Media Digital
Sabtu, 14 Maret 2026 -
Antisipasi Mengantuk saat Arus Mudik Lebaran 2026, Pengelola Tol Bakter Gelar Operasi Microsleep
Sabtu, 14 Maret 2026



