• Sabtu, 16 Mei 2026

Lampung Terima 16.873 Ton Jagung Impor dari Brasil Dan Argentina, Disalurkan ke 135 Pinsar Petelur

Jumat, 02 Februari 2024 - 11.46 WIB
1.4k

Foto: Ist.

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Provinsi Lampung menerima alokasi jagung impor sebanyak 16.873 ton yang didatangkan oleh pemerintah pusat dari negara Brasil dan Argentina.

Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kanwil Lampung, Bambang Prihatmoko mengatakan, jika jagung tersebut akan disalurkan kepada para peternak sasaran yang sebelumnya telah didata oleh Kementerian Pertania.

"Kami dapat penugasan dari Bapanas untuk dapat menyalurkan cadangan jagung pemerintah atau jagung pakan terhadap para peternakan sasaran di seluruh Lampung," kata Bambang saat dimintai keterangan, Jum'at (2/2/2024).

Ia juga mengatakan, jika penyaluran 16.873 ton jagung pakan tersebut akan dilakukan hingga akhir bulan Maret. Sementara sampai saat ini, jagung yang telah disalurkan sebanyak 8.685 ton.

"Jagung ini adalah penugasan dari Bapanas yang berasal dari importasi dari Amerika Selatan dari Brasil dan Argentina. Untuk penugasan penyaluran nya sendiri sampai 31 Maret 2024," ujarnya.

Bambang mengatakan jika jumlah pinsar petelur di Lampung yang menerima alokasi jagung tersebut sebanyak 135. Dimana jumlah penerima nya telah dilakukan pendataan oleh Kementerian Pertanian.

"Peternak sasaran yang diberikan kuota jagung impor ini adalah peternak yang mereka sudah didata oleh Kementerian Pertanian. Jadi hanya mereka yang didata dan di berikan kuota oleh pemerintah yang bisa membeli jagung pakan ini," paparnya.

Sementara itu untuk harga jagung pakan baik itu curah maupun kemasan dapat dibeli oleh para peternak sebesar Rp5.500 per kilogram. Sementara untuk harga jagung dipasar saat ini sudah mencapai Rp8.000 per kilogram.

"Pinsar dapat membeli jagung ini dengan harga yang sudah ditetapkan baik curah maupun kemasan. Dimana harga paling tinggi di peternak itu Rp5.500 per kilo, kalau di pasar sudah Rp8.000 per kilo," tuturnya.

Bambang mengungkapkan, jika impor jagung ini dilakukan oleh pemerintah lantaran produksi dalam negeri tidak optimal. Hal tersebut lantaran terjadinya kemunduran musim tanam akibat adanya El Nino.

"Saat ini kita semua menghadapi situasi dimana perubahan iklim nya tidak menentu. Sehingga ini menyebabkan produksi dalam negeri tidak optimal," ungkapnya.

"Seperti hal nya petani jagung dan padi ada keterlambatan musim tanam. Jadi mungkin akan berpotensi terhadap keterlambatan musim panen, sementara peternak membutuhkan pasokan jagung," pungkasnya.

Sementara itu Ketua Pinsar PPN Wilayah Lampung, Jenny Soelistiani berharap, impor jagung membuat kebutuhan peternak tercukupi serta harga nya dapat terkendali.

"Harapan nya dengan impor ini kebutuhan peternak akan jagung tercukupi dan harga terkendali. Minimal ada koreksi harga jagung ke arah yang lebih wajar walaupun tetap tinggi," kata Jenny.

Menurutnya, bahan baku pakan ternak ayam 50 persen berasal dari jagung. Selain itu kenaikan harga jagung juga tidak diimbangi dengan harga telur yang juga ikut naik.

"Jagung menjadi kebutuhan 50 persen pakan, kalau jagung mahal otomatis HAP naik. Kalau telurnya murah pasti peternak rugi dan sekarang ini posisinya sudah seperti itu," ujar Jenny. (*)

Editor :