• Sabtu, 22 Juni 2024

Menakar Potensi Besar Koalisi PDIP - Golkar di Metro

Senin, 20 Mei 2024 - 09.44 WIB
375

Ilustrasi

Kupastuntas.co, Metro - Potensi bergabungnya dua partai politik (Parpol) besar di Kota Metro dalam satu koalisi menjadi isu yang ramai diperbincangkan di kalangan elit hingga akar rumput di Bumi Sai Wawai.

Potensi besar koalisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) dan Partai Golongan Karya (Golkar) di Kota Metro kerap hadir dalam perbincangan sejumlah forum tokoh, ruang diskusi hingga tongkrongan warung kopi.

Pengamat Isu Sosial dan Politik, Fitra Aditya Irsyam menerangkan bahwa potensi atas isu bergabungnya PDI Perjuangan dan Golkar di Kota Metro merupakan hal yang telah diperkirakan sebelumnya.

Pria yang merupakan alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Syarif Hidayatullah, Jakarta tersebut menerangkan hipotesis politiknya terkait potensi munculnya empat poros dalam Pilkada serentak 2024 di Metro.

"Saya masih meyakini hipotesis yang pernah saya sampaikan beberapa waktu lalu mengenai empat poros utama yang berpotensi besar maju. Poros inkumben Wahdi Sirajuddin, Tondi Nasution, Anna Morinda, dan poros PKS," kata dia saat dikonfirmasi Kupastuntas.co, Senin (20/5/2024).

"Tetap tidak menutup kemungkinan dari keempat poros tersebut akan ada yang bergabung. Coba lihat pemberitaan beberapa hari belakangan ini, langkah politik yang mereka tunjukkan makin menguatkan hipotesis tersebut," imbuhnya.

Pria yang akrab disapa Bung Adit itu menilai bahwa koalisi PDI Perjuangan dan Golkar yang pernah berhasil menang dalam Pilkada 2015 lalu dapat terulang kembali.

Ia bahkan menyebut, nama Tondi MG Nasution sebagai kader Partai Golkar dan Anna Morinda tokoh perempuan PDI Perjuangan di Metro bisa menjadi lawan yang kuat dan perlu diperhitungkan oleh inkumben.

"Koalisi Golkar dan PDI Perjuangan di Metro pernah punya pengalaman manis di tahun 2015 lalu. Besar kemungkinan romantisme saat itu terulang kembali. Jika pasangan yang diusung Tondi dan Anna, maka bisa menjadi lawan yang kuat untuk melawan inkumben Wahdi," ungkapnya.

Tak hanya itu, pengamat tersebut juga menakar potensi pergerakan mesin kedua partai hingga ketingkat RT. Bahkan, PDI Perjuangan dibawah kepemimpinan Anna Morinda juga dinilai akan bertarung habis-habisan.

"Jika terjadi, koalisi ini memiliki mesin politik hingga tingkat RT. Bagi PDI Perjuangan, tentu mereka akan fight habis-habisan. Kegagalan pilkada sebelumnya dengan selisih suara yang tipis dan kekalahan partai ini pada Pilpres yang lalu, tentu menjadi evaluasi untuk memotivasi mereka menang dalam pilkada yang akan datang," ujarnya.

Menurutnya, Tondi MG Nasution dan Anna Morinda merupakan dua tokoh yang memiliki loyalis setia dan bisa menjadi modal kuat untuk bertarung di pilkada.

"Diperkuat juga modal personal kandidat dalam hal ini Tondi dan Anna, yang memang memiliki pemilih loyalnya masing-masing. Koalisi ini siap dan kuat, mungkin yang perlu diperhatikan adalah kesiapan logistik," terangnya.

Meskipun begitu, Bung Adit juga menerangkan analisanya terkait kemungkinan tidak terjadinya koalisi kedua partai jika kompromi politik terkait posisi keduanya tidak memunculkan sebuah kesepakatan.

"Selain itu, faktor yang perlu dipertimbangkan adalah siapa yang akan menjadi calon Walikotanya. Apakah Tondi yang nomor satu dan Anna wakilnya, atau justru sebaliknya. Saya rasa ini bisa menjadi faktor yang menggagalkan koalisi ini terbangun jika kompromi antar elit partai tersebut sampai deadlock," jelasnya.

Selain itu, faktor lainnya dapat muncul dari serangan inkumben. Menurutnya, Wahdi masih memiliki peluang untuk diusung dari partai berlambang banteng tersebut.

"Faktor penghambat lainnya juga bisa datang dari kandidat inkumben. Kita ketahui bersama, Wahdi telah mendaftar sebagai bakal calon Walikota di PDI Perjuangan. Wahdi ini sudah pasti akan berlayar menggunakan parpol," jelasnya.

"Jika maju diusung PDI Perjuangan, maka kita hanya akan menunggu siapa calon wakil yang akan diusung. Kemungkinan besar Anna. Jika sampai terjadi, kecil peluang Golkar akan ikut bergabung," sambungnya.

Pengamat tersebut bahkan menilai kemungkinan yang dapat dilakukan petahana dengan mengambil salah satu dari dua partai tersebut.

"Langkah politik Wahdi ini cukup cerdik, dia memainkan bandul dua poros kekuatan. Daripada membiarkan dua kekuatan tersebut bergabung dan menjadi lawannya, lebih baik diambil salah satunya," tandasnya. (*)