Harga Terong Anjlok Sampai 300 Rupiah Perkilo, Petani di Lampung Timur Menjerit
Perkebunan terong di Lampung Timur. Foto: Agus/Kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Lampung Timur – Petani terong di Desa Bauh
Gunung Sari, Kecamatan Sekampung Udik, Ibas, menghadapi kerugian besar setelah
harga terong anjlok hingga 300 rupiah per kilogram. Pria berusia 39 tahun ini
mengungkapkan, harga terong setidaknya 3.000 rupiah per kilo. Dengan harga saat
ini, mereka tidak bisa pulang modal.
Meskipun hasil panen terongnya optimal, kondisi tersebut tidak sebanding dengan harga jual yang rendah. Pada panen kelimanya yang dilakukan pada Senin (21/10/2024), Ibas berhasil memanen 5 kwintal terong. Namun, biaya perawatan dan penanaman mencapai 10 juta rupiah, sedangkan hasil panen tidak lebih dari 5 juta, membuatnya merugi lebih dari 50 persen.
"Saya tidak menyangka harga bisa jatuh di bawah 500 rupiah," kata Ibas. Menurutnya, penurunan harga disebabkan oleh banyaknya petani yang menanam terong. Beruntung, saat ini banyak pesta yang diadakan, sehingga sedikit membantu penjualan sayurannya.
"Jika bukan musim pesta, bisa jadi sulit menjual terong, terutama saat panen raya. Ketika ada hajatan, pasti orang membeli sayuran untuk keperluan konsumsi," jelasnya.
Sementara itu, Suyadi, petani terong di Kecamatan Bandar Sribhawono, mengambil langkah drastis dengan memusnahkan tanamannya yang masih ada untuk beralih ke komoditas lain seperti singkong atau jagung.
"Dengan harga yang murah dan perawatan di musim kemarau yang sulit karena kekurangan air, saya memilih untuk ganti tanaman," ungkap Suyadi. (*)
Berita Lainnya
-
Warga Kecewa, Balai TNWK Dinilai Tak Serius Tangani Konflik Gajah Liar
Selasa, 13 Januari 2026 -
Polisi Alihkan Arus Lalu Lintas Saat Demo di Balai TNWK
Selasa, 13 Januari 2026 -
Massa Aksi Kepung Balai TNWK, Tuntut Penyelesaian Konflik Gajah-Manusia
Selasa, 13 Januari 2026 -
Jelang Aksi di Way Kambas, Polisi Minta Personel Utamakan Pendekatan Humanis
Selasa, 13 Januari 2026









