Warga Tamansari Tanggamus Tertipu Janji Pemasangan Listrik, Puluhan Juta Raib
Jumat, 29 Agustus 2025 - 09.57 WIB
103

Kantor Desa Taman Sari. Foto: Ist
Kupastuntas.co, Tanggamus – Di
Pekon (Desa) Tamansari, Kecamatan Pugung, Kabupaten Tanggamus, Lampung, malam
selalu menjadi waktu paling berat. Puluhan kepala keluarga yang sejak Januari
2025 menyetor Rp1 juta per rumah untuk pemasangan KWH listrik baru kini hanya
bisa menyalakan lampu teplok berbahan minyak tanah, berharap anak-anak bisa
belajar, dapur tetap terang, dan pekerjaan rumah selesai. Dana kolektif
mencapai Rp40 juta, namun janji listrik terang benderang itu masih sebatas
mimpi.
Segalanya bermula dari Undangan
Sosialisasi Penyediaan Listrik bernomor 140/54.07/510/X/2024, digelar pada
Senin, 30 Desember 2024, pukul 10.00 WIB di Balai Pekon Tamansari. Undangan itu
ditandatangani langsung oleh Kepala Pekon Tamansari, Sahri, dan ditujukan bagi
warga yang belum teraliri listrik.
Di balai itu, wajah-wajah warga
berseri-seri. Ibu-ibu membawa anak kecil, bapak-bapak berbincang tentang betapa
pentingnya listrik: anak-anak bisa belajar tanpa takut gelap, hasil kebun bisa
diolah lebih maksimal, dan rumah-rumah tak lagi suram di malam hari.
Tak lama setelah sosialisasi,
warga diminta melakukan setoran kolektif. Salah satu kwitansi mencatat
pembayaran Rp1.000.000, tertanggal 2 Januari 2025, diterima oleh Erwin, lengkap
dengan tanda tangan pada bukti pembayaran. Namun hingga akhir Agustus 2025,
listrik belum terpasang.
Ironisnya, biaya resmi pemasangan
listrik baru jauh lebih rendah dibanding setoran warga:
450 VA prabayar: Rp421.000
900 VA prabayar: Rp843.000
1.300 VA prabayar: Rp1.218.000
450 VA pascabayar: Rp282.900
1.300 VA pascabayar: Rp1.485.900
Ketentuan ini tercantum dalam Peraturan
Menteri ESDM Nomor 27 Tahun 2017, sehingga pungutan Rp1 juta per rumah jelas
melampaui ketentuan resmi.
Di rumah-rumah warga, lampu
teplok berbahan minyak tanah menjadi satu-satunya cahaya. Harganya mahal dan
kadang sulit didapat, tapi itulah yang bisa mereka andalkan. Setiap malam,
cahaya temaram lampu teplok menari-nari di dinding rumah sederhana, menimbulkan
bayangan wajah-wajah letih tapi penuh harap.
Suhada, petani lada, menyalakan
lampu teplok tua di meja belajar anaknya, “Kami kerja keras di kebun. Uang Rp1
juta itu bukan sedikit. Tapi sampai sekarang listrik tak juga nyala. Lampu
teplok ini mahal dan minyak tanah kadang habis. Setiap malam kami harus
berpikir dua kali sebelum menyalakannya," katanya.
Senada dengan itu, Rahmawati, ibu
rumah tangga, menatap anak-anak yang belajar, “Lampu teplok ini kadang
satu-satunya cahaya mereka. Kalau minyak habis, mereka berhenti belajar.
Harapannya cuma satu, rumah terang. Tapi janji itu palsu," katanya sambil
menatap anak-anaknya.
Udin, warga lainnya, memandang
gelap di luar rumah, berkata tegas, “Kalau tidak ada kejelasan, kami akan lapor
ke aparat hukum. Ini hak kami sebagai warga. Gelap malam bukan hanya soal
listrik, tapi juga soal kepercayaan yang hilang," katanya dengan menahan
geram.
Pagi hari di Tamansari dimulai
dengan aktivitas di kebun kopi dan lada. Anak-anak membantu orang tua memetik
buah, sementara ibu-ibu menyiapkan sarapan dan mengurus rumah.
Siang menjelang, matahari terik
menimpa lahan pertanian, namun hati warga tetap memikirkan malam yang akan
datang: lampu teplok, minyak tanah, dan harapan yang belum terealisasi.
Saat malam tiba,
keluarga-keluarga berkumpul di ruang tamu sederhana, lampu teplok diterangi
minyak tanah yang tersisa.
Aroma kopi yang baru dipanen
bercampur dengan wangi masakan malam, suara anak-anak belajar dan membaca
terdengar bergantian dengan percakapan orang dewasa tentang janji listrik yang
belum terwujud.
Balai Pekon Tamansari, yang dulu
menjadi tempat sosialisasi dan harapan, kini sepi. Meja kayu panjang dan kursi
tersusun rapi seakan menunggu jawaban dari janji yang dulu megah. Lampu teplok
di rumah-rumah menjadi saksi bisu perjuangan warga, mereka tetap bertahan,
menyalakan harapan di tengah gelap yang memaksa mereka sabar dan bersabar.
Kepala Pekon Tamansari, Sahri,
disebut mengetahui adanya setoran ini. Namun hingga berita ini diturunkan, ia
belum memberikan keterangan resmi. Upaya konfirmasi Kupastuntas.co pun belum
membuahkan jawaban.
Warga Tamansari menunggu jawaban
nyata. Mereka tidak meminta kemewahan, cukup rumah terang, anak-anak bisa
belajar dengan layak, dan hak mereka terpenuhi.
Tapi malam demi malam, gelap
tetap melingkupi rumah mereka. Lampu teplok menjadi simbol harapan yang harus
hidup dalam keterbatasan, dan perjuangan warga untuk keadilan yang tertunda. (*)
Editor : Sigit Pamungkas
Berita Lainnya
-
Kapal Tongkang Terdampar di Pantai Harapan Diduga Milik Titan Group
Jumat, 29 Agustus 2025 -
PAC PDI Perjuangan se-Tanggamus Solid Dukung Sudin
Jumat, 29 Agustus 2025 -
132 Rumah dan Persawahan di Wonosobo Tanggamus Tergenang Banjir
Kamis, 28 Agustus 2025 -
APBD Perubahan Tanggamus 2025 Turun Rp 100 Miliar
Kamis, 28 Agustus 2025