• Minggu, 31 Agustus 2025

Tiga Hari Hujan Tak Reda, Perekonomian Kota Agung Tanggamus Lumpuh Perlahan

Sabtu, 30 Agustus 2025 - 09.41 WIB
55

Penampakan sepi di dermaga yang biasanya ramai dengan suara transaksi penjual dan pembeli ikan kini lengang. Foto: Sayuti/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Tanggamus – Tiga hari berturut-turut langit Tanggamus seolah enggan menyingkap tirainya. Hujan deras turun tanpa jeda, menyelimuti Kota Agung dan sekitarnya dengan hawa dingin dan genangan air. Awan kelabu menggantung berat di atas Teluk Semaka, membuat suasana pagi Sabtu (30/8/2025) muram dan penuh kekhawatiran.

Peringatan dini cuaca yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sejak dini hari bukan sekadar catatan rutin. Hujan berintensitas sedang hingga lebat, disertai kilat, petir, dan angin kencang, benar-benar telah memukul denyut kehidupan warga Tanggamus.

Di perairan Teluk Semaka, ombak tinggi dan cuaca buruk membuat para nelayan memilih tak melaut. Kapal-kapal ikan ditambatkan rapat di dermaga Pelabuhan Kotaagung dan dermaga pendaratan ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kotaagung.

“Kalau nekat melaut, risikonya besar. Lebih baik kapal diam di dermaga, meski dapur di rumah ikut sepi,” kata Roni, seorang nelayan di Perkampungan nelayan Kapuran, sambil memperkuat ikatan tali perahunya.

Dampaknya terasa langsung. Ikan segar menjadi langka, baik di TPI maupun di pasar tradisional. Harga ikan melonjak, sementara pedagang kecil dan pembeli hanya bisa menatap kosong meja-meja lapak yang basah terkena tempias hujan.

Pasar Kota Agung, jantung perdagangan tradisional di Kabupaten Tanggamus, juga kehilangan hiruk pikuknya. Lorong-lorong yang biasanya riuh oleh suara tawar-menawar kini lengang. Kios sayur hanya menumpuk barang sedikit karena pasokan dari daerah perbukitan seperti Gisting, Pulau Panggung, Sumberejo dan Ulubelu terhambat jalan licin dan rawan longsor.

“Biasanya sayur datang dini hari, tapi sejak tiga hari ini mobil susah masuk karena jalan becek. Dagangan jadi sedikit, pembeli pun makin berkurang,” ujar Siti, pedagang sayur dengan wajah murung.

Di jalan utama Kota Agung, suasana tak kalah sepi. Hanya sesekali motor melintas dengan lampu menyala, melawan derasnya hujan yang mengguyur. Beberapa sekolah dasar dan menengah pun tampak kosong. Banyak anak terpaksa “meliburkan diri” karena orang tua enggan melepas mereka berangkat di tengah cuaca ekstrem.

“Lebih baik anak di rumah dulu, kami takut kalau harus berangkat di jalan licin dan hujan petir begini,” ujar Desi, seorang wali murid di Kecamatan Kota Agung Timur.

BMKG mengingatkan bahwa hujan deras yang masih berlanjut hingga tak hanya mengganggu aktivitas, tetapi juga berpotensi memicu bencana hidrometeorologi. Wilayah perbukitan rawan longsor, sedangkan daerah bantaran sungai terancam banjir bandang. BPBD Tanggamus bersama aparat kepolisian telah diminta siaga menghadapi kemungkinan terburuk.

Meski dihantui ketidakpastian, warga Tanggamus tetap berharap hujan yang turun berhari-hari ini membawa berkah, bukan bencana. (*)