• Senin, 01 September 2025

Sultan Edward Syah Pernong Imbau Aksi 1 September di Lampung Berjalan Damai dan Bermartabat

Minggu, 31 Agustus 2025 - 16.53 WIB
229

Sultan Skala Brak Sai Batin Puniakan Dalom Beliau (SPDB) Edward Syah Pernong. Foto: Ist.

Kupastuntas.co, Lampung Barat - Menjelang aksi unjuk rasa yang akan digelar pada Senin, 1 September 2025, di Kantor DPRD Provinsi Lampung, Sultan Skala Brak Sai Batin Puniakan Dalom Beliau (SPDB) Edward Syah Pernong menyerukan agar seluruh elemen masyarakat yang akan turun ke jalan tetap menjaga kedamaian, ketertiban, serta menjunjung tinggi nilai-nilai adat Lampung.

Hal ini disampaikan Sultan Edward Syah menyusul meningkatnya tensi politik dan dinamika sosial di sejumlah daerah, termasuk di Lampung.

Ia menekankan bahwa penyampaian aspirasi adalah hak setiap warga negara, namun harus dilakukan dengan cara yang baik, beradat, dan beradab, agar tidak menimbulkan gesekan maupun kericuhan.

Dalam keterangannya, Sultan Edward Syah mengaku prihatin dengan berbagai insiden yang belakangan terjadi, mulai dari kasus meninggalnya almarhum Affan Kurniawan hingga kericuhan yang meletus di Makassar.

Menurutnya, rangkaian peristiwa tersebut menjadi renungan penting agar masyarakat Lampung tidak terjebak dalam konflik yang dapat mencederai keharmonisan.

"Dalam suasana penuh keprihatinan ini, saya sebagai salah satu Sultan Kerajaan Paksi Pak Skala Brak, khususnya Buay Pernong yang telah mengelola kehidupan masyarakat adat, merasa turut berduka. Saya mengajak minak muakhi, handai taulan, serta adik-adik mahasiswa di tanah Lampung agar kita semua menjaga kesejukan Lampung. Aspirasi boleh disampaikan, tetapi harus dengan cara yang baik, beradat, dan beradab,” ujarnya, Minggu (31/8/2025).

Edward Syah menilai bahwa tanah Lampung memiliki akar adat dan budaya yang kuat. Oleh karena itu, masyarakat sebaiknya menjadikan nilai-nilai luhur tersebut sebagai pedoman dalam menyampaikan pendapat, termasuk ketika menggelar aksi unjuk rasa. Dengan begitu, perjuangan aspirasi rakyat tetap berada dalam koridor yang bermartabat dan tidak kehilangan jati diri.

Ia menegaskan bahwa identitas masyarakat Lampung adalah “beradat dan beradab”. Prinsip ini harus menjadi pegangan utama dalam setiap langkah perjuangan, sehingga tidak ada ruang bagi tindakan anarkis yang justru merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga citra Lampung di mata nasional maupun dunia. Ia berharap aksi yang akan digelar pada 1 September mendatang dapat menunjukkan bahwa masyarakat Lampung mampu menyuarakan demokrasi dengan cara yang damai, penuh kasih sayang, serta menjunjung tinggi hukum dan kemanusiaan.

"Kita sebagai warga Indonesia harus mencintai keberagaman, menghargai satu sama lain. Mari kita perlihatkan pada dunia bahwa tanah Lampung mampu menyuarakan demokrasi dengan baik, penuh kasih sayang, dan menjunjung tinggi hukum serta kemanusiaan,” tegasnya.

Lebih jauh, Sultan Edward Syah menyampaikan bahwa adat dan budaya bukan sekadar simbol atau warisan leluhur semata, melainkan fondasi yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Termasuk dalam menyampaikan aspirasi politik, nilai-nilai adat harus tetap melekat agar tidak menghilangkan esensi perjuangan rakyat.

Sebagai Sultan Kepaksian Pernong salah satu dari empat kepaksian Paksi Pak Skala Brak bersama Bejalan Di Way, Belunguh, dan Nyerupa, Edward Syah Pernong selama ini dikenal vokal dalam menjaga marwah adat sekaligus berperan sebagai tokoh pemersatu.

Ia kerap hadir dalam berbagai momentum penting untuk mengingatkan masyarakat agar mengutamakan persaudaraan.

Sultan Edward Syah juga menekankan bahwa suara rakyat adalah kekuatan yang besar. Namun, kekuatan itu baru akan bermakna apabila disampaikan dengan cara yang benar, bukan dengan cara yang justru melahirkan perpecahan.

Dalam pandangannya, demokrasi yang sehat adalah demokrasi yang menghormati hukum, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, serta tidak mengorbankan keharmonisan sosial. Karena itu, ia menilai bahwa aksi yang dilakukan mahasiswa dan masyarakat harus tetap berada dalam bingkai persaudaraan.

Ia pun mengajak semua pihak mulai dari mahasiswa, tokoh adat, kaum ibu, hingga masyarakat umum—untuk menjaga kondusivitas di tanah Lampung. Menurutnya, setiap lapisan masyarakat memiliki peran penting dalam memastikan aksi berjalan damai dan tidak keluar dari jalur demokrasi yang sebenarnya.

"Mari kita jaga tanah Lampung ini agar tetap damai. Sampaikan aspirasi dengan cara-cara yang beradat, beradab, dan penuh kasih sayang. Hukum harus ditegakkan, dan kemanusiaan juga harus kita junjung tinggi,” pungkasnya.

Dengan imbauan tersebut, Sultan Edward Syah berharap aksi 1 September dapat menjadi momentum positif bagi masyarakat Lampung dalam menyuarakan aspirasi, sekaligus menegaskan jati diri sebagai daerah yang menjunjung tinggi adat, budaya, hukum, dan persaudaraan. (*)