Buka Gerakan Menanam di Kota Metro, Hanan Sebut Doktrin Partai Golkar
Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Lampung, Ir. H. Hanan A. Rozak saat diwawancarai usah melakukan gerakan menanam di Metro Timur. Foto: Arby/kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Metro - Di tengah riuh agenda Musyawarah Daerah (Musda) VI Partai Golkar Kota Metro, Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Lampung memilih membuka rangkaian kegiatan dengan simbol menanam pohon.
Namun, di balik gerakan ekologis itu, tersimpan pesan ideologis dan kalkulasi politik yang tak bisa dipisahkan dari watak sebuah partai tua yang terbiasa membaca arah angin kekuasaan.
Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Lampung, Ir. H. Hanan A. Rozak, menegaskan bahwa gerakan menanam pohon bukan sekadar aktivitas seremonial, melainkan perwujudan doktrin dasar Partai Golkar.
"Partai Golkar ini doktrinnya jelas, karya siaga gatra praja. Jadi di mana pun Partai Golkar itu harus berbuat untuk kepentingan masyarakat dan bermanfaat bagi masyarakat,” kata Hanan saat diwawancarai awak media di kantor DPD II Partai Golkar Kota Metro, Kamis (8/1/2026).
Pernyataan ini menjadi kunci untuk membaca makna politik di balik gerakan menanam. Golkar, melalui simbol ekologi, sedang menegaskan identitasnya sebagai partai karya yang bukan sekadar partai retorika, dan ingin hadir secara konkret di tengah masyarakat.
Hanan tidak menampik bahwa kegiatan ini bersifat simbolis. Namun baginya, simbol bukan sekadar kemasan.
“Kegiatan ini simbolis, namanya mengajak atau gerakan. Karena gerakan itu ada yang menggerakkan dan ada yang digerakkan,” katanya.
Pernyataan ini justru mempertegas dimensi politiknya. Dalam bahasa kekuasaan, kata gerakan selalu mengandung relasi tentang siapa penggagas, siapa pengikut, dan ke mana arah tujuan.
Golkar menempatkan diri sebagai penggerak, sementara masyarakat dan pemerintah didorong menjadi bagian dari ekosistem yang sama. Hanan bahkan secara terbuka mengaitkan keberlanjutan gerakan ini dengan peran negara.
"Tentunya harapannya bisa diteruskan, pemerintah bisa hadir dalam bentuk menyiapkan bibit-bibit. Saya kira pemerintah daerah tidak keberatan, pemerintah provinsi bahkan balai-balai dari Kementerian Kehutanan," ujarnya.
Di titik ini, batas antara gerakan sosial, kebijakan publik, dan kepentingan politik menjadi cair. Golkar tidak hanya menanam pohon, tetapi juga menanam jejaring pengaruh lintas institusi.
Saat ditanya apakah simbol ekologis ini merupakan respons atas kritik publik terhadap politik yang eksploitatif dan jangka pendek, Hanan menjawab singkat namun penuh makna.
"Ini bukan agenda politik, tetapi akan berdampak politik," singkatnya.
Jawaban ini mencerminkan strategi khas Golkar yang bekerja di luar panggung politik formal, namun tetap memanen implikasi politiknya. Dalam konteks kelelahan publik terhadap janji-janji kosong elite, pendekatan ini menjadi cara halus membangun legitimasi tanpa harus berteriak soal elektoral.
Pertanyaan paling sensitif muncul ketika gerakan menanam pohon ditafsirkan sebagai metafora menanam kekuatan politik Golkar di Kota Metro. Hanan tidak menampik sepenuhnya.
"Bisa saja salah satu itu, tapi intinya kita tidak berpikir politik. Ini berkarya dan nanti bisa saja ada dampak politiknya," bebernya.
Pernyataan ini kembali menegaskan posisi Golkar, bahwa tidak alergi pada dampak politik, tetapi enggan menampilkan wajah politiknya secara telanjang. Politik dibungkus karya, kekuasaan dirawat lewat kebermanfaatan.
Pria yang merupakan anggota Komisi IV DPR RI tersebut menjelaskan bahwa gerakan ini juga bukan agenda sesaat. Metro menjadi kota keempat setelah Bandar Lampung, Lampung Selatan, dan Lampung Timur.
“Ini harus terus menerus. Nanti tanggal 24 dan 25 kita ada di Lampung Utara dan Way Kanan. Jadi Golkar bukan hanya menanam tapi juga akan merawatnya,” tandasnya.
Kalimat terakhir ini menjadi penutup yang kuat tentang menanam dan merawat. Sebuah frasa yang bisa dibaca sebagai komitmen ekologis, sekaligus metafora konsolidasi politik jangka panjang.
Di Kota Metro, Golkar tampaknya ingin menyampaikan satu pesan tegas bahwa politik tidak selalu harus bising, tetapi harus berakar. Dan bagi Golkar, akar itu bernama doktrin, karya, dan keberlanjutan. (*)
Berita Lainnya
-
Ketika Jurnalisme Tergelincir Menjadi Alat Propaganda, Oleh: Arby Pratama
Jumat, 09 Januari 2026 -
PUTR Metro Ungkap Potensi Berkurangnya Anggaran Infrastruktur 2026, Ini Dampaknya
Kamis, 08 Januari 2026 -
Damkarmat Metro Terima Ratusan Laporan di 2025, Mulai Kebakaran, Ular Hingga Cincin Terjepit
Kamis, 08 Januari 2026 -
45 Sekolah di Kota Metro Masuk Daftar Penguatan Sarpras 2026
Rabu, 07 Januari 2026









