Ketika Jurnalisme Tergelincir Menjadi Alat Propaganda, Oleh: Arby Pratama
Foto : Ilustrasi AI Kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Metro - Kamis (09/01/2026) malam itu, Kota Metro tampak seperti biasa, lengang, tenang, dan nyaris tanpa gejolak.
Namun di balik ketenangan itu, sebuah percakapan panjang berlangsung hingga Jum'at dini hari.
Bukan di ruang redaksi, bukan pula di forum resmi, melainkan pada sudut sebuah rumah di Metro Pusat yang sunyi, di antara buah mangga di meja, rokok yang menyisakan abu, dan kegelisahan yang tak kunjung padam.
Kegelisahan yang tidak terdengar, tetapi terasa. Duduk berhadapan, saya berbincang panjang dengan seorang senior wartawan, salah satu dari sedikit orang yang masih berani berpikir berbeda, berani ragu, dan berani tidak nyaman.
Diskusi kami dimulai pukul 20.30 WIB, berakhir menjelang Jum'at dini hari. Topiknya berlapis, mulai dari politik lokal, relasi pers dan kekuasaan, hingga satu simpul besar yang membuat saya terdiam lama, yaitu jurnalisme politik yang tergelincir menjadi alat propaganda.
Ia tidak mengatakannya dengan amarah. Ia mengatakannya dengan getir. Dan mungkin, itu lebih berbahaya.
Jurnalisme, dalam pengertian paling idealnya, adalah pengawas kekuasaan. Ia bertugas mengganggu, menguji, membongkar, dan menelanjangi. Wartawan bukan pemandu sorak. Bukan juga humas, apalagi buzzer berseragam pers.
Namun di banyak ruang redaksi hari ini, fungsi itu kian pudar. Yang terjadi justru sebaliknya, dimana media dibangun untuk menjadi pengiring kekuasaan. Mengutip tanpa menguji, mencatat tanpa membedah, menulis tanpa konteks, lalu menyebutnya “netral”.
Netral yang seperti apa? Netral yang tidak pernah mengganggu siapa pun? Netral yang tidak pernah membuat pejabat risih? Netral yang hanya aman bagi kekuasaan, tapi membingungkan publik? Jika itu yang disebut netral, maka jurnalisme sedang sakit.
Propaganda hari ini tidak lagi datang dengan poster kasar, slogan keras, atau teriakan massal. Ia datang dengan wajah sopan, dengan diksi rapi, dengan judul manis dan dengan foto estetik kemudian menyamar sebagai berita.
Narasi dibangun bukan untuk menjelaskan, melainkan untuk mengarahkan. Bukan untuk membuka, melainkan untuk menutup. Bukan untuk mencerdaskan, melainkan untuk membentuk persepsi. Dan publik tanpa sadar ikut menelan.
Dalam konteks Kota Metro, politik lokal tidak hanya dimainkan di ruang-ruang formal. Ia hidup dalam narasi, dalam pemberitaan, dalam framing dan dalam diksi. Siapa yang menguasai cerita, ia menguasai makna. Siapa yang menguasai makna, ia menguasai legitimasi.
Itulah sebabnya, pertarungan politik hari ini bukan hanya tentang program, tetapi tentang citra. Bukan hanya tentang kebijakan, tetapi tentang kesan. Bukan hanya tentang hasil, tetapi tentang bagaimana hasil itu diceritakan. Dan di titik itulah, jurnalisme sering tergoda menjadi perantara, bukan penguji.
Ini bukan sindiran kosong, ini adalah realitas. Wawancara berubah menjadi formalitas. Konferensi pers menjadi sumber tunggal. Rilis dijadikan berita, lalu selesai.
Tak ada upaya menggali lebih dalam, tak ada pertanyaan yang menyudutkan dan tak ada keraguan yang dirawat. Padahal, jurnalisme lahir dari keraguan. Mama ketika wartawan berhenti ragu, ia akan berhenti bekerja.
Pers seharusnya mengganggu. Mengganggu kebijakan yang tidak adil, mengganggu kekuasaan yang lupa diri dan mengganggu narasi yang menipu. Namun hari ini, banyak media dibangun justru berlomba menjadi aman. Judul dilunakkan, bahasa dipermanis, konflik diredam dan kritik disamarkan.
Semua demi satu hal, yaitu kenyamanan. Dan di situlah propaganda paling subur berada di lahan kenyamanan. Demokrasi bukan hanya soal pemilu, ini soal informasi. Soal bagaimana publik memahami realitas, soal apakah warga diberi alat untuk berpikir, atau hanya diberi bahan untuk percaya.
Jika jurnalisme gagal, maka demokrasi pun rapuh. Bukan karena rakyat bodoh, tetapi karena informasi disusun untuk mengarahkan, bukan mencerdaskan. Dan ketika publik hanya diberi cerita yang sudah dipilihkan, maka yang lahir bukan kesadaran, melainkan kepatuhan.
Di ujung diskusi itu, kami tidak lagi membicarakan politik. Kami membicarakan diri kami sendiri. Tentang idealisme yang tergerus. Tentang kompromi yang terasa kecil, tapi mematikan. Tentang bagaimana profesi ini pelan-pelan kehilangan keberanian.
Tidak semua berita adalah informasi, tidak semua liputan adalah jurnalisme dan tidak semua yang tampak netral benar-benar jujur. Propaganda tidak selalu berisik. Propaganda sering datang dengan tenang, dengan rapi dan dengan bahasa pers.
Ketika jurnalisme kehilangan keberanian untuk mengganggu, ia tidak lagi menjadi pilar demokrasi, melainkan dekorasi kekuasaan. Di malam itu, saya pulang dengan satu kesadaran yang tidak nyaman, bahwa ancaman terbesar bagi jurnalisme hari ini bukanlah sensor, bukan intimidasi, bukan tekanan, melainkan kenyamanan. (*)
Oleh : Arby Pratama (Wartawan Kupas Tuntas di Kota Metro)
Berita Lainnya
-
Puluhan Honorer Non-Database Kepung Pemkot Metro, Tuntut Realisasi Janji Politik
Jumat, 09 Januari 2026 -
Tak Kunjung Diperhatikan, Warga Secara Swadaya Perbaiki Jalan Provinsi di Metro Utara
Jumat, 09 Januari 2026 -
PUTR Metro Ungkap Potensi Berkurangnya Anggaran Infrastruktur 2026, Ini Dampaknya
Kamis, 08 Januari 2026 -
Damkarmat Metro Terima Ratusan Laporan di 2025, Mulai Kebakaran, Ular Hingga Cincin Terjepit
Kamis, 08 Januari 2026









