Amukan Gajah Tewaskan Kades, Ribuan Warga Desa Penyangga Ancam Demo di TNWK
Rapat antisipasi demo besar di Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Selasa (13/1/2026) besok. Foto: Agus/Kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Lampung Timur - Menjelang rencana demo besar di
Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK), sejumlah pejabat Forum Koordinasi
Pimpinan Daerah (Forkopimda) Lampung Timur bersama kepala desa penyangga hutan
dan aktivis lingkungan menggelar rapat di Aula Pemerintah Kabupaten Lampung
Timur, Senin (12/1/2026).
Rapat tersebut digelar menyusul informasi akan adanya aksi unjuk
rasa yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa (13/1/2026). Aksi itu
diperkirakan melibatkan ribuan warga dari desa-desa penyangga TNWK, khususnya
Desa Braja Asri, yang mayoritas berprofesi sebagai petani.
Calon koordinator aksi, Budi, mengungkapkan bahwa sedikitnya
2.000 orang telah menyatakan kesiapan untuk turun ke jalan dan mendatangi Balai
TNWK.
Ia menegaskan, aksi ini merupakan puncak dari akumulasi kekecewaan warga terhadap konflik gajah liar yang telah berlangsung puluhan tahun tanpa solusi nyata.
BACA JUGA: Kades
Braja Asri Lamtim Tewas Diamuk Gajah
“Kesabaran warga sudah habis. Konflik gajah tidak pernah
selesai, dan kemarahan warga memuncak setelah meninggalnya Kepala Desa Braja
Asri, Darusman, akibat amukan gajah liar saat berupaya menghalau gajah yang
merusak tanaman petani,” ujar Budi.
Perwakilan Desa Braja Yekti, Aryanto, menyampaikan keluhan
terkait pola penjagaan gajah. Ia menilai pengamanan gajah dari wilayah Eru
tidak maksimal dilakukan di Braja Yekti, padahal desa tersebut merupakan
wilayah rawan konflik gajah.
Sementara itu, Kepala Desa Labuhan Ratu IX, Erma, menyoroti
rendahnya honor Masyarakat Mitra Polhut (MMP). Menurutnya, konflik gajah
memerlukan tenaga profesional, namun MMP hanya menerima upah Rp250 ribu per
bulan, angka yang dinilai tidak sebanding dengan risiko, terutama saat patroli
malam hari. Ia meminta pemangku kebijakan segera memberikan solusi konkret.
Sekretaris Desa Braja Asri, Agus, menyayangkan sikap Balai TNWK
yang dinilai tidak memberikan respons apa pun hingga tujuh hari setelah
meninggalnya Darusman. Ia juga menyoroti tidak adanya jaminan kompensasi bagi
petani yang meninggal dunia maupun mengalami kerugian tanaman akibat serangan
gajah liar.
“Hal inilah yang membuat warga Braja Asri tergugah melakukan
aksi pada 13 Januari 2026 dengan massa sekitar 2.000 orang,” kata Agus.
Perwakilan Kementerian Kehutanan Sapto Aji Prabowo, dalam rapat
tersebut menyampaikan bahwa tanggul pembatas antara kawasan hutan dan
permukiman warga memang belum bersifat permanen dan memerlukan perawatan rutin.
Selain itu, jumlah MMP akan diusulkan untuk ditambah, termasuk
peningkatan honor yang saat ini masih Rp250 ribu per bulan.
Dalam waktu dekat, Kementerian Kehutanan menyatakan akan fokus
mencari solusi terbaik penanganan konflik gajah, termasuk penambahan anggota
Masyarakat Mitra Polhut, peningkatan honor, pembahasan ganti rugi tanaman
petani, serta usulan pembangunan kanal permanen yang akan disampaikan kepada
Direktorat Jenderal Kementerian Kehutanan.
Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah, menegaskan konflik
manusia dan satwa liar, khususnya gajah, bukan sekadar isu konservasi, tetapi
menyangkut keselamatan masyarakat, ketahanan pangan, dan stabilitas ekonomi
warga. Sejak 2022, Pemkab telah membentuk Tim Terpadu Penanganan Konflik Gajah
dan Manusia melalui Keputusan Bupati Lampung Timur.
Melalui forum tersebut, Pemkab berharap dapat menghimpun
masukan, menyamakan persepsi, serta merumuskan langkah prioritas dan koordinasi
lintas sektor guna menghasilkan rekomendasi yang aplikatif dan segera
ditindaklanjuti di lapangan. (*)
Berita Lainnya
-
Peluru di Balik Curanmor
Sabtu, 10 Januari 2026 -
LBH DLN Desak Solusi Tegas Presiden Soal Konflik Gajah–Manusia di Lampung Timur
Selasa, 06 Januari 2026 -
Alasan Tak Ada Sopir, Puskesmas Way Jepara Tolak Antar Warga Pakai Ambulans
Senin, 05 Januari 2026 -
Kades Braja Asri Lamtim Tewas Diamuk Gajah Liar
Rabu, 31 Desember 2025









