• Rabu, 14 Januari 2026

Plt Bupati Lampung Tengah I Komang Koheri Berbagi Sembako di HUT Tanjung Anom

Rabu, 14 Januari 2026 - 08.47 WIB
30

Plt Bupati Lampung Tengah I Komang Koheri menghadiri peringatan di HUT Kampung Tanjung Anom sekaligus berbagai sembako bagi warga sekitar. Foto: Ist

Kupastuntas.co, Lampung Tengah - Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kampung Tanjung Anom ke-51 bukan sekadar seremoni tahunan. Tahun ini, perayaan itu menjelma menjadi ruang perjumpaan antara harapan, doa, dan kepedulian nyata.

Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Lampung Tengah, I Komang Koheri, hadir langsung di tengah masyarakat, mengikuti doa bersama sekaligus membagikan sembako kepada warga, Selasa (13/01/2026), di Kecamatan Terusan Nunyai.

Di bawah langit yang cerah dan suasana yang penuh kehangatan, ratusan warga berkumpul bukan hanya untuk merayakan usia kampung mereka, tetapi juga untuk merayakan rasa kebersamaan yang semakin langka di tengah derasnya arus individualisme. Tangis haru, senyum tulus, dan jabat tangan sederhana menjadi bahasa universal yang menyatukan semua lapisan masyarakat hari itu.

Bagi warga, kehadiran orang nomor satu di Lampung Tengah itu bukan sekadar simbol kekuasaan, melainkan representasi dari negara yang turun langsung, mendengar, dan menyentuh kehidupan mereka.

Kegiatan berlangsung khidmat, diawali dengan doa bersama lintas generasi. Para sesepuh kampung, tokoh adat, tokoh agama, pemuda, hingga anak-anak muda ikut menundukkan kepala, memanjatkan doa agar kampung mereka terus tumbuh dalam keberkahan dan kedamaian.

Namun, di balik daftar pejabat yang hadir, perhatian utama tetap tertuju pada warga yang selama ini menjadi denyut nadi Tanjung Anom, yang membangun kampung bukan dengan pidato, tetapi dengan kerja, doa, dan kesabaran.

Kepala Kampung Tanjung Anom, Wasis Trisno Hadi, menegaskan bahwa peringatan HUT kali ini sengaja dirancang bukan untuk kemeriahan semata.

“Kami ingin HUT ini menjadi momen berbagi dan merenung. Kampung ini berdiri karena kebersamaan. Maka kami ingin merayakannya dengan kepedulian,” ujarnya.

Ia menyampaikan terima kasih atas kehadiran Plt. Bupati dan jajaran pemerintah daerah, yang menurutnya menjadi energi moral bagi warga.

“Kehadiran pemimpin di tengah masyarakat seperti ini sangat berarti. Ini bukan sekadar kunjungan, tapi bentuk perhatian,” tambahnya.

Dalam sambutannya, I Komang Koheri menyampaikan ucapan selamat ulang tahun ke-51 kepada Kampung Tanjung Anom. Namun, ucapannya tak berhenti pada formalitas. Ia mengajak warga melihat usia kampung sebagai cermin perjalanan, sekaligus pengingat akan tanggung jawab ke depan.

“Kampung yang berusia 51 tahun adalah kampung yang sudah matang. Tapi kematangan itu harus tercermin dari kemandirian, persatuan, dan kepedulian antarwarganya,” ujar Komang.

Ia menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh hanya diukur dari seberapa panjang jalan diaspal atau seberapa tinggi gedung berdiri.

“Kemajuan sejati bukan hanya soal fisik, tapi tentang bagaimana masyarakatnya saling menguatkan, saling membantu, dan tumbuh bersama,” tegasnya.

Menurutnya, nilai gotong royong adalah fondasi yang tidak boleh runtuh. Jika itu hilang, maka pembangunan hanya akan menjadi tumpukan beton tanpa jiwa.

Momen paling menyentuh terjadi saat Plt. Bupati turun langsung membagikan sembako kepada warga. Bagi sebagian orang, itu mungkin sekadar paket bantuan. Namun bagi penerimanya, itu adalah simbol bahwa mereka tidak sendiri.

Seorang warga lanjut usia tampak menahan air mata saat menerima bantuan. Tangannya gemetar, tetapi senyumnya tak bisa disembunyikan. Momen itu seolah mengingatkan semua yang hadir bahwa kebijakan terbaik adalah yang mampu menyentuh manusia, bukan hanya angka.

Komang mengapresiasi inisiatif pembagian sembako ini, seraya menegaskan bahwa kepedulian sosial harus menjadi budaya, bukan sekadar agenda.

“Kita ingin kampung ini menjadi kampung yang saling menjaga, bukan saling meninggalkan,” katanya.

Komang juga berharap Tanjung Anom dapat menjadi contoh kampung yang mandiri, harmonis, dan berdaya saing. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus mendorong program yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.

“Kami tidak ingin pembangunan hanya terasa di atas kertas. Kami ingin ia hidup di rumah-rumah warga,” ucapnya.

Ucapan itu disambut tepuk tangan panjang, bukan karena retorika, tetapi karena masyarakat ingin mempercayainya.

Di hari itu, Kampung Tanjung Anom tidak hanya merayakan usia. Ia merayakan harapan. Dan bagi I Komang Koheri, kehadirannya bukan sekadar agenda kerja. Ia adalah pesan: bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang duduk di belakang meja, melainkan berdiri di tengah rakyat. (*)