• Sabtu, 17 Januari 2026

Antisipasi Megathrust dan Ancaman Disintegrasi, Pemuda Katolik Digembleng di SPN Polda Lampung

Sabtu, 17 Januari 2026 - 14.58 WIB
106

Diklatsar kesiapsiagaan bencana, aksi kemanusiaan, bela negara, serta penguatan konsolidasi organisasi Gelombang III Pemuda Katolik yang digelar di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Lampung, Kota Bandar Lampung. Foto: Ist

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Ratusan pemuda Katolik dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Lampung mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Gelombang III yang digelar di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Lampung, Kota Bandar Lampung, selama tiga hari, 16–18 Januari 2026. Kegiatan ini difokuskan pada kesiapsiagaan bencana, aksi kemanusiaan, bela negara, serta penguatan konsolidasi organisasi.

Ketua Pemuda Katolik Komisariat Daerah (Komda) Lampung, Falentinus Andi, mengatakan dari total 163 peserta yang terdaftar, sebanyak 133 orang hadir dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Materi diklatsar difokuskan pada isu tanggap bencana, terutama potensi ancaman Megathrust yang dinilai rawan berdampak di wilayah Lampung.

“Lampung menjadi salah satu provinsi yang berpotensi terdampak Megathrust, khususnya di lima kabupaten dan kota pesisir. Pemuda Katolik merasa punya tanggung jawab untuk siap terlibat langsung di masyarakat ketika terjadi bencana,” ujarnya.

Menurut Falen, peserta dibekali pengetahuan mitigasi bencana, bela negara, serta penguatan organisasi hingga tingkat kabupaten/kota, kecamatan, dan desa atau ranting. Hal ini penting agar kader Pemuda Katolik memiliki kesiapan teknis sekaligus struktur gerak yang solid saat dibutuhkan di lapangan.

“Lampung rawan banjir, gempa, dan potensi tsunami akibat Megathrust yang diperkirakan bisa mencapai ketinggian hingga 30 meter. Output diklatsar ini adalah kesiapan kader, bukan hanya secara fisik tetapi juga pengetahuan dan mental,” jelasnya.

Pemilihan SPN Polda Lampung sebagai lokasi kegiatan, lanjut Falen, merupakan bagian dari kolaborasi dengan kepolisian untuk membentuk kedisiplinan peserta. Mulai dari pelatihan baris-berbaris, manajemen waktu, hingga sikap dan kode-kode kedaruratan saat menghadapi bencana.

“Kedisiplinan itu krusial dalam penanganan bencana. Semua harus terlatih, terukur, dan terkoordinasi,” katanya.

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Katolik, Stefanus Asat Gusma, menekankan pentingnya persatuan, toleransi, dan kesiapsiagaan lintas iman dalam menghadapi tantangan kebangsaan. Ia mengapresiasi kehadiran peserta lintas agama dalam kegiatan tersebut.

“Berkumpulnya ratusan orang di tempat ini menunjukkan semangat persatuan. Terima kasih kepada teman-teman lintas agama yang hadir dan bersiap mengikuti diklatsar SAR Pemuda Katolik,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa Pemuda Katolik memiliki tantangan tersendiri dalam menjaga keutuhan bangsa, terutama menghadapi kelompok intoleran yang berupaya memecah persatuan.

“Tantangan kita adalah memperkuat kesatuan dan persatuan bangsa. Anak-anak muda Katolik harus dididik untuk memiliki jiwa panggilan dalam menjaga toleransi serta mampu meng-counter hoaks dan informasi tidak valid di media sosial. Peserta pendidikan dasar harus memahami mana informasi objektif dan mana yang menyesatkan,” tegasnya.

Stefanus juga menyinggung kondisi geografis Indonesia yang rawan bencana alam. Menurutnya, pendidikan kader Pemuda Katolik harus diarahkan pada kesiapsiagaan dan aksi kemanusiaan yang konkret.

“Indonesia diciptakan sangat spesial, dengan gunung, pantai, dan patahan bumi. Konsekuensinya, kita menghadapi gempa dan tsunami. Karena itu, diklatsar ini menjadi panggilan kemanusiaan. Jika terjadi bencana di Aceh, Sumatera Barat, atau daerah lain, Pemuda Katolik harus bergerak nyata di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, konsolidasi organisasi hingga tingkat ranting dan desa merupakan tugas wajib yang harus dilaksanakan oleh seluruh kader.

Uskup Tanjungkarang, Mgr Vinsensius Setiawan Triatmojo, menegaskan bahwa diklat ini merupakan proses pembentukan kepemimpinan yang berpihak pada kemanusiaan. Ia menilai, kepemimpinan sejati lahir dari semangat melayani dan kepedulian terhadap sesama tanpa memandang latar belakang.

“Dalam kemanusiaan tidak ada sekat. Ketika orang menderita, di situlah kita dipanggil untuk hadir dan melayani,” tuturnya.

Mgr Avien juga mengingatkan pentingnya tanggung jawab generasi muda dalam menjaga lingkungan dan keberlanjutan hidup bersama. Menurutnya, krisis ekologis yang diabaikan hari ini akan menjadi beban berat bagi generasi mendatang.

“Melalui diklat ini, Pemuda Katolik Lampung diharapkan mampu menjadi bagian dari garda sosial yang sigap, disiplin, dan berorientasi pada keselamatan masyarakat, sekaligus memperkuat ketahanan sosial di daerah rawan bencana,” tutupnya.

Dukungan pemerintah daerah juga disampaikan Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, dalam sambutan yang dibacakan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Lampung, Senen Mustakim. Ia menilai Diklatsar Pemuda Katolik memiliki peran strategis dalam membentuk karakter pemuda yang siap hadir dan melayani masyarakat.

“Diklatsar ini berbicara tentang kesiapan pemuda untuk hadir dan melayani. Tidak semua persoalan datang dengan pemberitahuan. Banyak situasi membutuhkan pemuda yang sigap, tenang, dan mampu bekerja secara terorganisir,” kata Jihan.

Ia menyebutkan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Lampung telah mencapai angka 73,98 dan masuk kategori tinggi. Namun, capaian tersebut harus diimbangi dengan penguatan karakter, kepedulian sosial, dan kesiapan berkontribusi di masyarakat.

“Di sinilah peran organisasi kepemudaan menjadi sangat relevan. Pemuda yang terdidik perlu dilengkapi dengan ketangguhan mental, disiplin, dan etika bertindak. Diklatsar Pemuda Katolik menjawab kebutuhan itu,” ujarnya.

Jihan juga menekankan pentingnya peran pemuda dalam menjaga kerukunan di tengah kemajemukan masyarakat Lampung.

“Nilai-nilai religius mengajarkan kepedulian dan tanggung jawab sosial. Jika diterjemahkan dalam tindakan nyata, pemuda akan menjadi kekuatan yang menyejukkan dan menjadi solusi di tengah masyarakat,” katanya. (**)