• Sabtu, 17 Januari 2026

Kritisi Menu MBG Anak TK, Wali Murid di Sekincau Lampung Barat Diduga Diintimidasi

Sabtu, 17 Januari 2026 - 11.27 WIB
76

Penampakan menu MBG di salah satu TK di Lampung Barat yang dikritisi Wali Murid, berujung pada dugaan intimidasi oleh pengelola dapur MBG. Foto: Ist

Kupastuntas.co, Lampung Barat - Seorang wali murid di salah satu sekolah di Kecamatan Sekincau, Kabupaten Lampung Barat, diduga mengalami intimidasi dan ancaman setelah mengkritisi menu Program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (15/1/2026) dan kini menjadi sorotan publik setelah dokumentasi foto, video, serta tangkapan layar percakapan beredar luas.

Kritik bermula dari unggahan foto menu MBG yang diterima siswa. Dari foto yang diterima Kupas Tuntas, menu makanan terlihat hanya terdiri dari nasi, tempe, buah salak, timun, kol, serta potongan daging fillet berukuran sangat kecil.

Menu itu memicu kekhawatiran wali murid terkait kualitas dan kecukupan gizi anak, terutama bagi siswa usia taman kanak-kanak (TK). Orang tua menilai komposisi makanan kurang sesuai dengan kebutuhan nutrisi anak usia dini.

Kekhawatiran itu kemudian disampaikan oleh seorang wali murid sebagai bentuk kritik dan harapan agar menu MBG dapat dievaluasi serta diperbaiki. Namun, kritik tersebut justru berujung pada dugaan intimidasi.

Berdasarkan video berdurasi 5 menit 24 detik yang diterima redaksi Kupas Tuntas, terdengar suara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang diduga sebagai pemilik atau pengelola dapur MBG mendatangi langsung wali murid yang mengkritisi menu tersebut.

Dalam video itu, terlihat percakapan antara kedua belah pihak yang membahas permasalahan menu MBG yang tengah viral di media sosial. Percakapan berlangsung cukup tegang dan diwarnai pernyataan bernada tekanan.

Wali murid dalam video tersebut menjelaskan bahwa kritik yang ia sampaikan bertujuan sebagai evaluasi, bukan untuk menjatuhkan pihak mana pun. “Maksudnya saya tanya itu apa, biar jadi evaluasi ke depannya. Masa anak TK dikasih menu seperti itu, apalagi ada kol mohon maaf bu,” ujarnya.

Ia juga menegaskan tidak memiliki kepentingan pribadi di balik kritik tersebut. “Saya cuma mengkritik. Enggak ada unsur pengen terkenal, enggak ada bekingan. Karena wali murid yang lain itu enggak ada yang berani mengkritik,” katanya.

Wali murid tersebut berharap setelah kejadian itu, menu MBG dapat diperbaiki tanpa harus berdampak pada penghentian operasional dapur. “Kan enggak mungkin dapurnya langsung ditutup,” ujarnya.

Namun, dalam video yang sama, seorang pria yang diduga pemilik dapur MBG menyampaikan pernyataan yang dinilai menyudutkan wali murid. “Cuma pengen terkenal aja,” ucap pria tersebut berulang kali.

Pria itu juga menyebutkan bahwa kritik seharusnya disampaikan langsung ke pihak dapur, bukan melalui unggahan ke publik. “Kritik itu boleh, tapi sampai ke tempatnya. Jangan kayak gitu caranya, itu namanya membongkar aib,” katanya.

Ia bahkan menyatakan bahwa wali murid dipersilakan datang langsung ke dapur jika ingin mengkritik. “Kalau mau main ke dapur silakan, di video boleh, difoto boleh. Kritik kan,” ujarnya dalam rekaman tersebut.

Sementara itu, seorang perempuan yang juga terdengar dalam video menyampaikan kekhawatiran bahwa kritik dari wali murid dapat berdampak luas. “Jangan sampai gara-gara satu dua wali murid, satu sekolah jadi kena. Nanti kepala sekolahnya kena, murid yang lain juga kena,” ucapnya.

Perempuan tersebut menegaskan bahwa pihak dapur tidak seharusnya dikritik langsung oleh wali murid. “Kami itu dikritik dari atasan, dari sekolah, bukan dari wali murid,” katanya.

Ia juga menyampaikan bahwa perubahan menu bukan kewenangan dapur, melainkan ahli gizi. “Menu diperbaiki, menu dirubah itu urusan ahli gizi. Kita di sini bosnya aja enggak bisa ngatur besok makan ayam atau telur,” ujarnya.

Selain didatangi langsung, wali murid juga menerima pesan pribadi bernada tekanan dari seseorang yang mengaku sebagai Kepala Dapur SPPG Sekincau. Beberapa pesan yang diterima redaksi di antaranya berbunyi, “Ini makanan bergizi gratis bukan makan enak gratis,” serta, “Kalau tidak mau apa-apa mending diam.”

Dalam video, perempuan itu juga menyampaikan pernyataan bernada ancaman akan membawa persoalan ini ke ranah hukum jika tidak diselesaikan. “Kita tunggu 24 jam, kalau enggak selesai juga baru kita proses. Media sudah banyak kirim-kirim ini, sudah sampai ke Bandar Lampung,” ucapnya.

Ia juga menyebutkan bahwa apabila persoalan berlanjut, wali murid diminta bertanggung jawab dan persoalan akan dibawa ke pihak sekolah. “Kalau kepala sekolah lepas tangan, kita urus dianya,” katanya.

Rangkaian pernyataan dalam video dan pesan pribadi tersebut memunculkan dugaan adanya intimidasi terhadap wali murid yang menyampaikan kritik. Wali murid berharap kritik yang disampaikan tidak dipersepsikan sebagai serangan, melainkan sebagai masukan demi perbaikan kualitas MBG.

Sementara itu, Ketua Satgas MBG Lampung Barat, Ahmad Hikami, menegaskan bahwa prinsipnya seluruh lapisan masyarakat termasuk wali murid berhak menyampaikan kritik selama konteksnya bersifat membangun.

"Pada prinsipnya kritik boleh banget, kritik kan untuk masukan dan ke yang lebih baik, tim Satgas Kecamatan juga sudah ke lokasi," kata dia singkat saat di hubungi Kupas Tuntas melalui sambungan WhatsApp, Sabtu (17/1/2026). (*)