Dukung Pemulihan Pascabencana Aceh, Tim Teknik Geofisika Itera Petakan Sumber Air Bersih
Tim Teknik Geofisika Itera Petakan Sumber Air Bersih di lokasi bencana Aceh. Foto: Ist
Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Institut Teknologi Sumatera (Itera)
melalui Tim Teknik Geofisika terlibat dalam pemulihan pascabencana di Provinsi
Aceh. Tim dosen Rizka bersama dua mahasiswa, Jhon Erik Natanel Hutabarat, dan
Yarra Rizky Zebua, secara langsung melakukan pemetaan sumber air bersih di
wilayah terdampak banjir di beberapa daerah di Aceh.
Dosen Teknik Geofisika Itera, Rizka mengatakan, dengan memanfaatkan
teknologi Audio Frequency Magnetotelluric/ADMT tim Itera berhasil mendeteksi
sekitar 50 titik potensial pembangunan sumur bor air bersih di lokasi terdampak
bencana.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program “Lampung untuk Sumatera Bangkit”
dalam rangkaian Sumatera Pulih, yang dilaksanakan pada 16–24 Januari 2026.
Dalam pelaksananya, tim berkolaborasi dengan forum Rescue Relawan Lampung yang
mewakili Pemerintah Provinsi Lampung dalam misi kemanusiaan lintas daerah.
Rizka menyampaikan, keterlibatan mereka merupakan wujud nyata peran Itera
dalam pengabdian kepada masyarakat, di Lokasi terdampak bencana Sumatra,
sekaligus penerapan keilmuan geofisika
di lapangan.
“Sejumlah desa yang menjadi sasaran pemetaan di wilayah Kota Langsa dan
Kabupaten Aceh Tamiang, antara lain Desa Purwodadi, Kampung Jawa, Desa Harum
Manis, Desa Tanjung Mancang, Desa Timbang Langka, Desa Bandar Khalifah, Desa
Sukamaju (Tenggulu),” jelas dia, Selasa (27/1/2026).
Dalam pemetaan sumber air bersih tersebut, Rizka, mengungkapkan berbagai
tantangan, seperti di Kabupaten Aceh
Tamiang dengan kondisi geologi yang kompleks serta daerah penghasil minyak.
Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat kerap gagal melakukan pengeboran
akibat keluar minyak atau air dengan kualitas buruk. Bahkan pada beberapa
lokasi, sumur yang berhasil dibangun hanya menghasilkan debit air yang kecil
dan belum mampu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.
Namun dengan bantuan teknologi yang dibawa oleh tim Itera, yaitu
memanfaatkan alat Audio Frequency Magnetotelluric/ADMT tim berhasil menemukan
titik potensial sumber air yang berkualitas.
Dengan bantuan alat ADMT Tim berhasil melakukan deteksi sekitar 50 titik
potensial pembangunan sumur bor air bersih. “Metode ini memiliki keunggulan
meminimalkan risiko kegagalan pengeboran sumur yang selama ini kerap terjadi di
wilayah pengeboran,” ujar Rizka.
Dosen Teknik Geofisika Itera, Rizka, menyampaikan proses pemilihan titik
bor air dilakukan secara cermat karena kondisi geologi Kabupaten Aceh Tamiang
yang merupakan penghasil minyak dan kondisi banjir turut menjadi tantangan.
“Melalui pemetaan geofisika, tim berupaya memastikan titik bor yang
direkomendasikan mampu menyediakan air bersih dengan kualitas dan kuantitas
yang layak bagi masyarakat, meskipun akses ke beberapa lokasi cukup terbatas,”
ujar Rizka.
Melalui kontribusi ini, Itera terus berkomitmen dalam pemulihan daerah
terdampak bencana serta memperkuat sinergi perguruan tinggi, pemerintah daerah
dan komunitas relawan dalam pembangunan berbasis ilmu pengetahuan dan
teknologi. (*)
Berita Lainnya
-
Komisi IV DPRD Bandar Lampung Tegas Dukung SMA Siger, Asroni: Legalitas Harus Lengkap
Selasa, 27 Januari 2026 -
Pengusaha Tapioka Lampung Keluhkan Penegakan Pergub 36/2025, Nilai Prosedur Satgas Kurang Tepat
Selasa, 27 Januari 2026 -
Realisasi Investasi Lampung 2025 Capai Rp15,1 Triliun, Tertinggi dalam Lima Tahun Terakhir
Selasa, 27 Januari 2026 -
Warga Keluhkan Jalan Berlubang dan Drainase Buruk di Jalan Pulau Damar Bandar Lampung
Selasa, 27 Januari 2026









