• Senin, 09 Februari 2026

YJI Lampung Gencarkan Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan pada Anak

Senin, 09 Februari 2026 - 14.58 WIB
16

Ketua YJI Provinsi Lampung, Purnama Wulan Sari Mirza, dalam kegiatan Pekan Kesadaran Penyakit Jantung Bawaan 2026 yang digelar di Klinik Pahlawan Medical Center (PMC), Bandar Lampung, Senin (9/2/2026). Foto: Ist

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Provinsi Lampung terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, rumah sakit rujukan, serta komunitas masyarakat guna memastikan anak-anak yang terdeteksi penyakit jantung bawaan (PJB) dapat segera memperoleh tindak lanjut dan akses layanan kesehatan yang optimal.

Komitmen tersebut ditegaskan Ketua YJI Provinsi Lampung, Purnama Wulan Sari Mirza, dalam kegiatan Congenital Heart Disease (CHD) Awareness Week atau Pekan Kesadaran Penyakit Jantung Bawaan 2026 yang digelar di Klinik Pahlawan Medical Center (PMC), Bandar Lampung, Senin (9/2/2026).

Pekan Kesadaran Penyakit Jantung Bawaan 2026 dilaksanakan serentak di 27 kota di Indonesia.

Dalam momentum tersebut, YJI bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) juga menggelar pemeriksaan ekokardiografi (USG jantung) gratis bagi anak-anak usia 0 hingga 18 tahun sebagai upaya deteksi dini, sekaligus memberikan edukasi kesehatan kepada orang tua dan masyarakat.

Purnama Wulan Sari Mirza menegaskan, penyakit jantung bawaan masih menjadi tantangan serius karena kerap tidak terdeteksi sejak dini.

Hal ini dipengaruhi oleh keterbatasan pengetahuan dan pemahaman masyarakat, khususnya orang tua, terhadap gejala awal yang muncul pada anak.

"Penyakit jantung bawaan ini sering kali tidak terdeteksi. Bukan karena tidak ada, tetapi karena orang tua belum memahami tanda-tanda dan gejala yang muncul pada anak," ujarnya.

Ia menjelaskan, kelainan jantung bawaan sejatinya sudah dapat dideteksi sejak bayi baru lahir, bahkan sejak usia nol bulan. Namun, keterlambatan deteksi kerap berujung pada keterlambatan penanganan.

"Bagaimana mau ditanggulangi jika tidak terdeteksi. Padahal, semakin cepat diketahui, semakin besar peluang anak-anak kita untuk tumbuh normal, sehat, dan produktif," lanjutnya.

Melalui kegiatan screening ini, YJI Lampung bersama PERKI Cabang Lampung berupaya meningkatkan kesadaran orang tua akan pentingnya deteksi dini penyakit jantung bawaan.

Pemeriksaan dilakukan menggunakan ekokardiografi dan disertai edukasi langsung dari dokter spesialis jantung subspesialis anak.

"Ini adalah bentuk kepedulian kami untuk mendeteksi sejak awal apakah terdapat kelainan jantung bawaan pada anak. Pengobatan PJB bukan proses singkat, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan komitmen bersama," tegas Purnama.

Selain aspek medis, Purnama juga menyoroti pentingnya dukungan psikososial bagi anak penyandang PJB. Menurutnya, peran orang tua, guru, dan lingkungan sekitar sangat menentukan kualitas tumbuh kembang anak.

"Kami mendengar ada anak yang enggan bersekolah karena mengalami perundungan. Artinya, persoalan ini bukan hanya soal medis, tetapi juga psikologis. Anak-anak ini harus didukung agar tetap percaya diri dan mampu berkembang dengan baik," katanya.

Di akhir sambutannya, Purnama mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama bergerak menyelamatkan masa depan anak Indonesia melalui jantung yang lebih sehat.

"Kegiatan ini kami harapkan tidak hanya menjadi sarana pemeriksaan dan edukasi, tetapi juga langkah nyata membangun kepedulian bersama. Setiap anak berhak atas kehidupan yang sehat dan masa depan yang lebih baik," pungkasnya.

Sementara itu, Ketua PERKI Cabang Lampung, dr. Terrance Ransun, Sp.JP(K), menyampaikan bahwa penyakit jantung bawaan masih menjadi masalah kesehatan anak yang membutuhkan perhatian serius.

"Diperkirakan dari setiap seribu kelahiran hidup, sekitar 9 hingga 10 bayi memiliki penyakit jantung bawaan. Secara global, ini berarti sekitar 1,3 hingga 1,4 juta bayi lahir dengan kelainan jantung setiap tahunnya," jelasnya.

Menurut dr. Terrance, tantangan utama saat ini bukan hanya tingginya angka kejadian, tetapi juga keterbatasan deteksi dini serta akses layanan kesehatan yang belum merata, termasuk di Provinsi Lampung.

Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan komplikasi serius hingga meningkatkan risiko kematian pada anak dengan PJB berat.

Dalam kegiatan screening ini, tercatat sekitar 70 peserta menjalani pemeriksaan di Klinik PMC dengan rentang usia 3 bulan hingga 17 tahun. Sementara di RSUD Abdul Moeloek, ditargetkan sekitar 50 pasien untuk mengikuti pemeriksaan serupa.

"Program ini bertujuan mengidentifikasi dini kelainan jantung pada bayi dan anak, meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan lokal dalam deteksi awal, serta membangun sistem rujukan yang efisien untuk perawatan lanjutan," ungkapnya.

Ia menegaskan, kegiatan ini merupakan wujud komitmen bersama antara PERKI Lampung, YJI, dan mitra kesehatan lainnya dalam meningkatkan kewaspadaan dan pengetahuan masyarakat, khususnya orang tua, terkait deteksi dini penyakit jantung bawaan.

"Semoga kegiatan ini memberikan manfaat besar dan menjadi momentum peningkatan pelayanan kesehatan jantung bawaan di Provinsi Lampung," tutupnya. (*)