Baru Rampung, Proyek Irigasi Rp37,7 Miliar di Lampung Barat Sudah Retak, Warga Soroti Mutu Pekerjaan
Penampakan sejumlah kerusakan di beberapa bagian dari proyek jaringan irigasi yang dikelola oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji–Sekampung di Pekon (Desa) Srimulyo, Kecamatan Bandar Negeri Suoh . Foto: Echa/Kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Lampung Barat - Sejumlah msyarakat di Pekon (Desa)
Srimulyo, Kecamatan Bandar Negeri Suoh (BNS) mempertanyakan kualitas
pembangunan proyek jaringan irigasi yang dikelola oleh Balai Besar Wilayah
Sungai (BBWS) Mesuji–Sekampung. Proyek yang seharusnya menjadi penopang utama
sektor pertanian itu justru menuai sorotan karena kondisinya dinilai tidak
sebanding dengan besarnya anggaran yang digelontorkan negara.
Proyek irigasi dengan nilai kontrak mencapai Rp37.770.101.008,51 tersebut
diketahui baru rampung dikerjakan. Namun ironisnya, di sejumlah titik bangunan
sudah menunjukkan tanda kerusakan, sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat terhadap
kualitas jangka panjang dari peroyek negara tersebut.
Berdasarkan pantauan Kupas Tuntas di lapangan memperlihatkan kondisi fisik
bangunan irigasi yang jauh dari harapan. Kerusakan paling mencolok terlihat
pada bagian struktur drainase yang semestinya menjadi elemen penting dalam
menjaga kelancaran dan daya tahan saluran irigasi.
Di beberapa titik, dinding dan lantai saluran irigasi tampak mengalami
keretakan yang cukup jelas. Retakan tersebut tidak hanya terlihat di satu
lokasi, melainkan tersebar di beberapa bagian, menandakan adanya persoalan
serius pada mutu pekerjaan konstruksi.
Selain keretakan, pasangan batu pada bagian drainase juga terlihat tidak
rapi dan tidak tersusun dengan baik. Bahkan, di beberapa bagian pasangan batu
tersebut tampak mulai mengalami kerusakan dan terkelupas, meskipun usia
bangunan masih tergolong sangat baru.
Kondisi ini dinilai janggal oleh warga, mengingat proyek tersebut belum
lama selesai dikerjakan dan belum dimanfaatkan secara maksimal bahkan belum
difungsikan. Warga menilai, kerusakan dini menjadi indikasi lemahnya kualitas
pelaksanaan pembangunan di lapangan.
Tak berhenti di situ, warga juga menemukan fakta lain yang dinilai lebih
memprihatinkan. Di beberapa titik saluran irigasi, tidak ditemukan konstruksi
pasangan batu dan semen sebagaimana mestinya, melainkan hanya dipasangi
material terpal sebagai pelapis dasar saluran.
Penggunaan material terpal tanpa dukungan konstruksi permanen, menimbulkan
tanda tanya di tengah masyarakat. Warga mempertanyakan apakah metode tersebut
memang sesuai dengan spesifikasi teknis proyek atau justru menjadi bentuk
penyimpangan dalam pelaksanaan pekerjaan.
“Kalau memang dari awal desainnya seperti ini, tentu harus dijelaskan ke
masyarakat. Tapi kalau ini akibat pekerjaan yang asal-asalan, kami jelas
kecewa,” ujar seorang warga Pekon Srimulyo yang enggan disebutkan namanya
kepada Kupas Tuntas, Selasa (10/2/2026).
Menurut warga, saluran irigasi bukan sekadar proyek fisik, melainkan
infrastruktur vital yang sangat menentukan keberlangsungan pertanian dan mata
pencaharian masyarakat di wilayah tersebut.
Warga menilai, kerusakan yang muncul dalam waktu singkat mencerminkan
rendahnya mutu pekerjaan, sekaligus memunculkan dugaan lemahnya pengawasan
terhadap pelaksanaan proyek bernilai puluhan miliar rupiah itu.
“Baru dibangun saja sudah rusak. Kami khawatir nanti kalau sudah berfungsi
dan sudah bisa dipakai, kerusakannya akan lebih parah dan justru merugikan
petani,” ungkap warga lainnya dengan nada kecewa.
Masyarakat juga mempertanyakan peran pengawasan proyek yang seharusnya
memastikan setiap tahapan pekerjaan sesuai dengan spesifikasi teknis dan
kontrak kerja yang telah ditetapkan.
Hingga kini, panjang pasti jaringan irigasi tersebut belum diketahui secara
pasti. Namun demikian, informasi yang beredar di masyarakat menyebutkan bahwa
proyek tersebut memiliki cakupan yang cukup luas.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Kupas Tuntas, jaringan irigasi tersebut
diperkirakan memiliki panjang sekitar 7 hingga 9 kilometer dan melintasi
beberapa pekon di wilayah Kecamatan Suoh.
Dengan panjang dan cakupan wilayah yang cukup besar, warga berharap
pembangunan irigasi tersebut benar-benar memberikan manfaat jangka panjang bagi
masyarakat, bukan justru menimbulkan persoalan baru akibat kualitas yang
dipertanyakan.
Masyarakat mendesak pihak pelaksana proyek untuk turun langsung ke lapangan
dan melihat kondisi nyata bangunan irigasi yang kini menjadi sorotan warga.
Selain itu, warga juga meminta adanya penjelasan terbuka dan transparan
terkait spesifikasi teknis pembangunan irigasi, termasuk jenis material yang
digunakan serta metode konstruksi yang diterapkan.
Diketahui, proyek ini merupakan bagian dari Rehabilitasi Jaringan Utama
Daerah Irigasi (DI) kewenangan Provinsi Lampung Paket II dalam Program Irigasi
dan Rawa III.
Pekerjaan tersebut dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
Tahun Anggaran 2025, dengan nilai kontrak pekerjaan sebesar Rp37.770.101.008,51
dan masa pelaksanaan selama 101 hari kalender, terhitung sejak 22 September
hingga 31 Desember 2025.
Pekerjaan konstruksi dilaksanakan oleh PT Brantas Abipraya (Persero),
sementara pengawasan proyek berada di bawah tanggung jawab PT Agrinas Pangan
Nusantara (Persero) sebagai konsultan supervisi, dengan koordinasi BBWS
Mesuji–Sekampung, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian PUPR.
Masyarakat berharap pemerintah dan seluruh pihak terkait tidak mengabaikan
keluhan ini, serta memastikan proyek irigasi bernilai puluhan miliar rupiah
tersebut benar-benar dibangun sesuai standar kualitas, spesifikasi teknis, dan
tanggung jawab penggunaan anggaran negara, agar manfaatnya dapat dirasakan secara
nyata oleh masyarakat.
Hingga berita ini diterbitkan, Humas BBWS saat di hubungi Kupas Tuntas
melalui sambungan WhatsApp belum memberikan tanggapan terkait keluhan yang
disampaikan masyarakat terhadap proyek senilai puluhan miliar tersebut. (*)
Berita Lainnya
-
Keluhan Jalan Rusak Menguat, Parosil Mabsus Prioritaskan Infrastruktur dan Penataan Kota Liwa
Selasa, 10 Februari 2026 -
Buka Manasik Haji 2026, Pemkab Lampung Barat Hibahkan Lahan 900 Meter ke Kemenag
Selasa, 10 Februari 2026 -
Dinas PUPR Lampung Barat Alasan Anggaran Minim untuk Perbaikan Jalan, Warga: Jangan Tunggu Viral Baru Diperbaiki
Selasa, 10 Februari 2026 -
Dua Pelajar Lampung Barat Sabet Medali Emas di Kompetisi Renang Piala Gubernur Lampung
Senin, 09 Februari 2026









