Polres Metro Ungkap dari 204 Satkamling Hanya 55 yang Aktif
Wakapolres Metro, Kompol Agung Ferdika bersama Walikota Metro Bambang Iman Santoso dan jajaran Forkopimda dalam Forum Silaturahmi Kamtibmas bertema Revitalisasi Satkamling dan Pokdarkamtibmas Kota Metro di Gedung Sessat Agung Bumi Sai Wawai (GSA-BSW). Foto: Arby/Kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Metro - Kepolisian Resor (Polres) Metro mengungkapkan bahwa
dari total 204 Satuan Keamanan Lingkungan (Satkamling) yang tersebar di seluruh
wilayah kota, hanya 55 Satkamling yang masih aktif. Selebihnya, mati suri dan
sekadar bangunan tanpa denyut pengamanan.
Fakta ini disampaikan Wakapolres Metro, Kompol Agung Ferdika saat
membacakan sambutan Kapolres Metro AKBP Hangga Utama dalam Forum Silaturahmi
Kamtibmas bertema Revitalisasi Satkamling dan Pokdarkamtibmas Kota Metro di
Gedung Sessat Agung Bumi Sai Wawai (GSA-BSW), Selasa (10/2/2026).
“Keamanan bukan hanya produk hukum dan bukan pula tanggung jawab Polri
semata. Keamanan adalah hasil dari partisipasi aktif masyarakat dan menjadi
tanggung jawab kita bersama,” tegas Kompol Agung dalam sambutannya, Selasa
(10/2/2026).
Dirinya memaparkan bahwa situasi kamtibmas Metro memang relatif stabil,
namun tetap dinamis dan menyimpan potensi eskalasi. Data kriminalitas
menunjukkan 720 kasus tindak pidana pada 2024, meningkat menjadi 753 kasus pada
2025, mencakup kejahatan konvensional maupun transnasional. Angka tersebut,
menurut Polres Metro harus dibaca sebagai peringatan, bukan sekadar statistik.
Kompol Agung juga tak menutup mata terkait ketidakaktifan mayoritas
Satkamling dinilai berbanding lurus dengan meningkatnya potensi gangguan keamanan
di tingkat akar rumput. Mulai dari pencurian, curanmor, penyalahgunaan narkoba,
judi online, hingga potensi laten radikalisme dan terorisme, semuanya menuntut
deteksi dini dari lingkungan RT/RW.
“Satkamling seharusnya menjadi garda terdepan. Jika posnya gelap, maka
kejahatan mendapat ruang. Merujuk UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian RI
serta Perpol Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pengamanan Swakarsa, Polri menempatkan
masyarakat sebagai mitra utama. Harkamtibmas tidak mungkin terwujud bila
keamanan hanya dibebankan pada aparat," ucapnya.
Polres Metro menegaskan bahwa revitalisasi Satkamling dan Pokdarkamtibmas
tahun 2025–2026 bukan agenda simbolik, melainkan langkah strategis membangun
keamanan berbasis komunitas. Beberapa tujuan utama revitalisasi tersebut
dimulai dari deteksi dini dan pencegahan kriminalitas (prediktif) di tingkat
lingkungan.
"Penguatan pengamanan swakarsa, mendorong warga menjadi polisi bagi
dirinya sendiri, bukan sekadar aktif saat lomba Satkamling. Kemudian sinergi
tiga pilar, Bhabinkamtibmas, Babinsa, Lurah dengan masyarakat. Kemudian,
menghidupkan kembali budaya gotong royong dan kepedulian sosial dan mitigasi
kenakalan remaja dan masalah sosial dengan pendekatan humanis dan problem
solving," jelasnya.
Menurutnya, revitalisasi ini juga diproyeksikan sebagai fondasi pengamanan
menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 1447 H, periode yang kerap diiringi
peningkatan kerawanan sosial. Dalam arahannya, Kompol Agung Ferdika menekankan
tujuh poin penting kepada jajaran Tiga Pilar, Pokdarkamtibmas, dan petugas
Satkamling.
"Mengaktifkan kembali seluruh pos Satkamling, bukan hanya fisik,
tetapi diisi patroli rutin dengan buddy system. Memperkuat sinergitas tanpa
batas dengan Bhabinkamtibmas dan Babinsa. Deteksi dini dan respon cepat terhadap
setiap potensi gangguan. Mengutamakan pendekatan humanis, menolak aksi main
hakim sendiri," paparnya.
"Menjadi cooling system di tengah masyarakat, meredam hoaks dan
konflik sosial. Fokus pada pencegahan, segera berkoordinasi atas setiap temuan
mencurigakan. Pembinaan rutin oleh Bhabinkamtibmas demi menjaga kualitas
pengamanan swakarsa," sambungnya.
Sementara itu, Wali Kota Metro Bambang Iman Santoso dalam sambutannya
menegaskan bahwa Forum Silaturahmi Kamtibmas bukan sekadar agenda seremonial,
melainkan ruang strategis membangun kesadaran kolektif.
“Tanpa rasa aman, pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan publik tidak
akan berjalan optimal. Pendekatan kolaboratif dan partisipatif dalam menjaga
kamtibmas, seraya menghidupkan kembali nilai gotong royong sebagai jati diri
warga Metro. Forum ini harus menjadi ruang pertukaran gagasan, aspirasi, dan
solusi konkret atas persoalan nyata di tengah masyarakat," tandasnya.
Fakta bahwa hanya sekitar 27 persen Satkamling yang aktif menjadi cermin
rapuhnya ketahanan sosial di tingkat lingkungan. Revitalisasi tidak boleh
berhenti pada forum dan jargon. Situasi ini menuntut komitmen nyata dari
pemerintah daerah, aparat keamanan, hingga warga itu sendiri.
Jika Satkamling kembali hidup, maka kejahatan kehilangan ruang. Namun jika
abai, keamanan akan selalu tertinggal satu langkah di belakang pelaku
kejahatan. (*)
Berita Lainnya
-
Dalih Tekanan Massa Disorot, HMI Pertanyakan Konsistensi Kepemimpinan Wali Kota Metro
Selasa, 10 Februari 2026 -
276 CJH Metro Manasik Haji Terintegrasi, Wali Kota Tekankan Spirit Keikhlasan
Selasa, 10 Februari 2026 -
Pelayanan Publik Metro Dinilai Baik, Ombudsman RI Beri Skor 84,43
Senin, 09 Februari 2026 -
BKPSDM Kota Metro: Ukom 23 Pejabat Masuk Tahap Penilaian
Jumat, 06 Februari 2026









